Cerita Fiksi

Putih di Atas Salju

Putih di Atas Salju
Sinar Si Rusa Albino (pexels/Joerg Hartmann)

Keluarga rusa ekor-putih di Lembah Pakis selalu bangga dengan dua hal: kecepatan lari mereka dan bulu cokelat kemerahan yang berkilau serasi dengan warna batang pohon hutan.

Bagi Rumi, rusa muda yang baru menginjak usia dewasa, keselarasan dengan alam adalah hukum mutlak. Menjadi tak terlihat di antara semak-semak berarti selamat. Rumi adalah murid terbaik dari hukum itu. Dia bergerak seperti bayangan, selalu patuh, dan menganggap dirinya adalah standar kesempurnaan seekor rusa. 

Semua berubah di penghujung musim gugur. Ibunya kembali dari batas hutan utara tidak sendirian. Di belakangnya, melangkah dengan ragu, seekor anak rusa yang seluruh tubuhnya sewarna kapas. Putih bersih, tanpa seulas pun warna cokelat. Matanya merah muda, pucat dan tampak rapuh. 

"Nama dia Sinar," ujar Ibu malam itu, menyenggol pelan punggung anak rusa asing tersebut.

"Dia kehilangan kelompoknya di utara. Mulai hari ini, dia adikmu, Rumi. Ajari dia cara bertahan hidup di lembah ini." 

Rumi memandangi Sinar dengan dahi berkerut. Di bawah lambaian daun-daun jingga yang mulai gugur, Sinar justru tampak menyala. Bagi Rumi, Sinar bukan sekadar adik angkat; dia adalah sebuah anomali yang berbahaya. Rumi yakin, warna putih itu akan memancing serigala dan membahayakan seluruh kelompok. 

Sejak hari pertama, Rumi memutuskan untuk mengawasi Sinar secara ketat. Bukan karena rasa sayang, melainkan karena kewaspadaan. Rumi mulai melakukan observasi mendalam, mencatat setiap gerak-gerik Sinar di dalam kepalanya, mencari tahu bagaimana makhluk "cacat" ini bisa bertahan hidup seolah-olah dia adalah objek studi biologi. 

"Hari pertama," batin Rumi saat mereka mulai mencari makan di padang rumput yang terbuka.

"Dia tidak bisa menyatu dengan lingkungan. Dia terlalu mencolok." 

Setiap kali Sinar mendekati semak-semak, warnanya yang kontras membuat keberadaannya langsung ketahuan. Rumi selalu mendikte Sinar dengan ketat.

"Jangan lewat situ, Sinar! Berjalanlah di bawah bayangan pohon besar. Kepakkan kakimu lebih rendah. Kamu membuat kita semua bisa mati konyol." 

Sinar hanya menunduk. Dia tidak pernah membantah. Namun, Rumi menyadari satu hal aneh dari hasil pengamatannya: Sinar memiliki kebiasaan yang tidak masuk akal. Anak rusa albino itu sangat sering berhenti di tengah jalan, memejamkan mata, dan mengendus udara dalam-dalam. Sinar juga selalu melangkah dengan sangat lambat, seolah-olah tanah yang dia pijak terbuat dari kaca yang rapuh. 

"Hari kesepuluh," tulis Rumi dalam benaknya.

"Sinar terlalu penakut. Dia takut pada bayangannya sendiri. Dia lambat dan selalu ragu-ragu."

Rumi merasa frustrasi. Dia terus membandingkan Sinar dengan dirinya sendiri yang gesit, tangkas, dan berani menerobos semak berduri tanpa ragu. Bagi Rumi, mempelajari Sinar adalah pelajaran tentang bagaimana cara menjadi rusa yang gagal. 

Hingga akhirnya, musim dingin yang ekstrem tiba melanda Lembah Pakis. 

Langit berubah kelabu, dan dalam semalam, salju tebal turun membungkus seluruh dunia menjadi putih. Pohon-pohon meranggas, semak-semak menghilang di balik timbunan es. Saat itulah, dunia Rumi berbalik seratus delapan puluh derajat. 

Saat mereka terpaksa keluar gua untuk mencari sisa-sisa kulit pohon, Rumi menyadari sesuatu yang mengerikan. Bulu cokelat kemerahannya yang biasanya menjadi penyamaran terbaik, kini terlihat seperti noda hitam yang sangat mencolok di atas hamparan salju putih.

Dia menjadi target yang sangat mudah terlihat dari jarak bermil-mil. Sebaliknya, Sinar melangkah di sampingnya seolah menghilang ditelan bumi; tubuh putihnya menyatu sempurna dengan badai dan salju yang membeku. 

Tiba-tiba, lolongan parau memecah kesunyian. Tiga ekor serigala kelabu kelaparan muncul dari balik bukit es, mengendus aroma mereka. 

"Lari, Sinar!" teriak Rumi panik. 

Rumi langsung melesat dengan kecepatan penuh, mengandalkan insting dan ketangkasannya yang selama ini dia banggakan. Namun, kaki-kaki rampingnya tenggelam ke dalam salju yang tebal. Kecepatannya drastis menurun. Sifatnya yang terbiasa terburu-buru membuatnya tidak melihat ada lapisan es tipis di depannya.

Krak!

Es itu pecah, dan kaki belakang Rumi terperosok ke dalam celah batu yang tertutup salju. Dia terjatuh, meringis kesakitan, terperangkap di atas kanvas putih yang luas, menjadi sasaran empuk serigala yang kian mendekat. 

Namun, hantaman taring yang dia takuti tidak pernah datang. 

Dari balik kabut salju, Sinar bergerak maju. Rumi tertegun melihat adiknya. Sinar tidak berlari panik seperti dirinya. Sinar berdiri dengan sangat tenang di tengah badai. Dia memejamkan mata, mengendus arah angin, dan melangkah dengan presisi yang luar biasa. Dia sengaja mengentakkan kakinya ke batang pohon tumbang, membuat suara nyaring untuk memancing perhatian ketiga serigala. 

Ketika para serigala berbalik mengejarnya, Sinar melompat dengan anggun di atas permukaan salju. Mengapa dia tidak tenggelam seperti Rumi? Rumi baru menyadari: kebiasaan Sinar melangkah lambat selama ini adalah cara dia melatih kepekaan kakinya untuk mendeteksi kepadatan tanah dan es di bawahnya. Sinar tahu persis bagian salju mana yang keras dan bisa dipijak, serta mana yang rapuh. 

Lebih hebatnya lagi, setiap kali serigala mencoba menerkam, Sinar hanya perlu melompat sedikit ke samping dan diam membeku. Di mata serigala yang rabun warna, tubuh putih Sinar seketika lenyap, menyatu dengan latar belakang badai salju. Sinar menggunakan "kekurangannya" sebagai senjata utama untuk mengacaukan pandangan musuh.

Dengan ketenangan yang dingin, Sinar menuntun kawanan serigala itu berputar-putar di atas lapisan es tipis yang rawan, hingga para serigala ketakutan dan memilih mundur mencari mangsa lain. 

Sinar kemudian kembali ke tempat Rumi, menggunakan moncongnya yang hangat untuk membantu menggali salju dan membebaskan kaki Rumi yang terjepit. 

Malamnya, di dalam gua yang aman, Rumi duduk terdiam memandangi kakinya yang dibalut lumut oleh Ibu. Di sudut lain, Sinar sedang tertidur lelap, bulu putihnya tampak damai dihujani cahaya bintang musim dingin. 

Rumi merenungkan kembali seluruh "catatan observasi" yang dia buat selama ini tentang adiknya. 

Dia mengira Sinar sering berhenti dan mengendus karena penakut, padahal Sinar sedang membaca arah angin di tengah badai. Dia mengira Sinar melangkah lambat karena lemah, padahal Sinar sedang menguji ketebalan es demi keselamatan mereka. Dan warna putih yang dia benci, ternyata adalah pelindung tertinggi yang disiapkan alam untuk musim ini. 

Rumi menunduk, menatap bayangan dirinya sendiri di permukaan air pembasuh luka yang mulai membeku. Air mata menetes, merusak refleksi wajahnya yang selama ini dia anggap paling sempurna. 

Sinar tidak pernah gagal menjadi rusa. Sinar hanya bersiap untuk musim yang berbeda dari musimnya Rumi. 

Rumi menyadari sebuah kebenaran yang menampar egonya. Selama ini, dia bukan sedang mempelajari kekurangan Sinar. Melalui jurnal kebencian dan kecemasannya terhadap sang adik, Rumi sebenarnya sedang mempelajari kesombongannya sendiri. Dia sedang melihat betapa kaku cara berpikirnya, betapa rapuhnya keberanian yang dia banggakan saat zonanya terusik, dan betapa dia selalu merasa terancam oleh apa pun yang tidak sama dengan dirinya. 

Buku catatan di dalam kepalanya kini telah berganti judul. Sinar tidak lagi menjadi objek studi tentang keanehan, melainkan sebuah cermin jernih yang memperlihatkan betapa kecilnya jiwa Rumi yang sebenarnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda