Cerita Fiksi

Wake Me Up When September Ends

Wake Me Up When September Ends
Cover AI cerpen Wake Me Up When September Ends (Gemini AI/Nano Banana)

“Kenapa kamu suka sekali memutar lagu itu?”

Ru melemparkan sekaleng bir bintang ke arah Mei yang menangkapnya dengan sigap. Gadis tujuh belas tahun itu menarik kunci pengaman kaleng hingga terdengar bunyi mendesis— suara asam karbonat yang akhirnya menghirup udara bebas setelah lama terkungkung.

“Karena aku benci bulan September.”

Mei meneguk minumannya sekali, melirik Ru yang mengerutkan kening, kembali melempar tatapan ke arah danau.

Setiap Sabtu sore kedua anak muda itu akan menghabiskan waktu menunggu senja tenggelam di balik danau belakang komplek perumahan mereka. Kegiatan yang terhitung romantis untuk sepasang kekasih. Sayangnya, mereka bukan pasangan seperti itu.

Belum, bisik Ru di suatu senja yang lain. Namun, sepatah kata itu hanya berani didesiskannya saat Mei sedang tidak bersamanya.

“Hmm ... ada alasan tertentu?” Ru bertanya lagi.

Pemuda berambut ikal sebahu itu tiga tahun lebih tua dari Mei, sudah mencicipi bangku kuliah jurusan arsitektur semester tiga. Tapi, di hadapan Mei, ia tak ubahnya remaja belasan tahun yang terlampau gugup. Berkali-kali disekanya telapak tangan yang berkeringat ke permukaan celana jins yang terlihat masih baru.

“Ibuku meninggal di bulan itu.” Mei meneguk kembali minuman berkadar alkohol nol persen di tangannya. Kadang ia heran, kenapa dinamai bir jika nyatanya tak memabukkan? Ia sedang ingin mabuk. Setidaknya ia mulai pening oleh pertanyaan Ru yang memaksanya menggali ingatan lama.

“Baiklaah ... aku mengerti,” kata Ru lambat-lambat. Dari nada bicara dan tatapannya yang menyiratkan 'bisakah diperjelas lagi?', Mei tahu Ru tak sungguh-sungguh mengerti.

“Aku lahir di bulan September, lalu Ayah memberiku nama Mei',” lanjut gadis berambut cepak berponi itu. “Ibu meninggal tepat setelah melahirkanku. Ayah sangat mencintainya, dan dia tidak sanggup mengingat bulan kematian Ibu setiap memanggil namaku. Maka dia menamaiku Mei. Bentuk penyangkalan yang konyol, bukan?”

Ru merasa Mei belum selesai. Kalimat gadis itu terasa seperti rangkuman artikel psikologi yang dibacanya tadi pagi; singkat, padat, tapi menggantung. Karenanya ia diam, menunggu Mei meneruskan.

Namun, hingga satu menit berlalu, tak ada tanda-tanda Mei akan bicara lagi. Sayup-sayup suara Billie Joe mengalun dari ipod milik Mei yang tergeletak di bangku semen di antara mereka.

As my memory rests

But never forgets what I lost

Wake me up when September ends

“Lalu?” Ru mendesak halus.

“Lalu ... aku pun mulai membenci diriku sendiri. Karena berulang kali Ayah memgingatkanku bahwa akulah penyebab ibu mati.”

Nada suara Mei kering. Sekering angin bulan September yang seharusnya sudah basah oleh hujan, jika saja pemanasan global tidak mengacaukan keteraturan cuaca.

Mei meremas kaleng kosong di tangannya lalu melemparkannya ke tong sampah di sebelah Ru. Meleset. Kaleng itu membentur kaki bangku. Ru memungutnya, membuang ke dalam tong sampah dengan gerakan lambat, sementara Mei melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda.

“Aku selalu memutar ulang lagu itu. Lagi dan lagi, agar aku tak pernah lupa kalau aku adalah seorang pembunuh.”

Senyap. Kebekuan di antara mereka kembali diisi oleh lengkingan gitar dan vokal Green Day.

Ring out the bells again

Like we did when spring began

Wake me up when September ends

“Menyedihkan,” Ru menggumam. Ia melemparkan sebutir kerikil ke danau. Riak kecil muncul saat batu itu memecah permukaan air yang tenang.

Mei mendongak. Mata besarnya—yang kerap membuat gadis-gadis di sekolahnya iri—kini membeliak, memancarkan rasa tidak suka atas komentar Ru.

“Maaf kalau kau tersinggung, tapi sungguh, ceritamu memang menyedihkan.” Ru tiba-tiba berdiri, berbalik menghadap Mei dengan kedua tangan terlipat di dada. Rahangnya mengeras. Sikap canggungnya menguap begitu saja, digantikan oleh emosi yang tertahan di balik urat lehernya yang menegang.

“Seorang ayah tega memusuhi putrinya sejak bayi, dan menanamkan racun di kepala anaknya sampai anak itu ikut membenci dirinya sendiri. Bukankah itu menyedihkan? Aku tidak marah padamu, Mei. Aku marah pada ayahmu.”

Mei harus sedikit mendongak. Ia mencari-cari apa yang tersembunyi di balik mata kecokelatan pemuda tinggi di hadapannya. Ada kilat kemarahan di sana, tapi juga ada rasa bersimpati yang teramat dalam.

Suara Billie Joe masih terdengar, terasa lebih jernih di antara keheningan yang menjeda obrolan mereka. Beberapa unggas air berenang menepi seiring langit saga yang mulai berpendar di sekeliling danau.

Mei tersenyum tipis, sebuah lengkungan dingin yang membuat Ru terpaku.

“Jangan khawatir,” Mei berbisik tanpa melepaskan tatapannya dari mata Ru. “Aku sudah membunuhnya.”

Senyap seolah menelan suara jangkrik yang mulai bersahutan di sekitar danau. Ru mematung. Angin sore yang dingin menerpa wajahnya, tapi punggungnya mendadak bersimbah peluh.

“Apa ... apa maksudmu, Mei?” Ru terbata. Keberanian yang membuatnya berdiri tegak tadi menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari telapak kaki.

Mei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah permukaan danau yang tenang dengan dagunya. “Di sana. Di bagian yang paling dalam, di mana airnya berwarna hijau pekat. Aku mendorong kursi rodanya ke sana tiga bulan lalu, tepat di malam ulang tahunku yang ketujuh belas. Ayah tidak bisa berenang, Ru. Dia berteriak, tapi air danau menelan suaranya. Sama seperti lagu ini menelan tangisanku.”

Ru merasakan dadanya dihantam seonggok batu besar. Isi kepalanya berputar hebat, melempar ingatannya pada artikel ilmiah tentang Skizofrenia Fase Lanjut yang ia baca di perpustakaan kampus tadi pagi.

Penderita sering kali menciptakan narasi trauma baru yang ekstrem untuk menutupi kenyataan yang tidak sanggup diterima oleh kesadaran mereka. Mereka bisa mengingat sebuah pembunuhan yang tidak pernah mereka lakukan, lengkap dengan detail taktil dan visual yang sangat nyata.

“Mei  .…” Ru melangkah mundur, lututnya lemas hingga ia terduduk kembali di bangku semen. “Ayahmu ... Ayahmu sudah meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Kita menghadiri pemakamannya bersama, Mei. Di TPU Tanah Kusir. Kamu memakai baju hitam dan kamu menangis di pundakku sepanjang hari.”

Mei menoleh lambat-lambat. Tatapan matanya yang semula tajam kini meredup, digantikan oleh kekosongan yang mengerikan. Ia terkekeh pelan, suara tawa yang terdengar ganjil dan rapuh.

“Jangan bercanda, Ru,” bisik Mei, suaranya mulai bergetar. “Kalau dia sudah meninggal lima tahun lalu, lalu siapa ... siapa laki-laki yang setiap malam berdiri di ambang pintu kamarku, menunjuk wajahku, dan berbisik bahwa aku adalah pembunuh Ibu?”

Mei mencengkeram kepalanya sendiri. Napasnya memburu, memutus keteraturan oksigen yang masuk ke parunya. Di antara kepanikannya, iPod di bangku semen masih terus mengalunkan bait terakhir dari lagu Green Day, seolah mengolok-olok kewarasan yang mulai runtuh.

Here comes the rain again

Falling from the stars

Drenched in my pain again

Become who we are

Ru menatap gadis di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Sekarang ia tahu, bukan sang ayah yang kejam yang harus ia hadapi, melainkan isi kepala Mei yang telah menjelma menjadi monster yang siap menenggelamkan gadis itu ke dasar danau delusinya sendiri.

“Dia ada di sana, Ru. Dia berdiri di belakangmu sekarang.”

Suara Mei mendadak datar, sedatar garis kematian. Matanya tidak lagi melihat ke arah Ru, melainkan menembus bahu pemuda itu, menatap lurus ke area kosong di bawah pohon beringin tua di tepi danau yang mulai menggelap.

Ru enggan berbalik. Logikanya tahu tidak ada siapa-siapa di sana, tapi bulu kuduknya meremang hebat. Senja telah habis, menyisakan warna biru kelam yang dingin di atas permukaan air.

“Mei, lihat aku." Ru meraih kedua pundak Mei, memaksa gadis itu menatapnya. Telapak tangan Ru yang biasanya berkeringat karena gugup, kini terasa dingin oleh kecemasan. "Tidak ada siapa-siapa di sana. Ayahmu sudah tenang. Kamu tidak membunuh ibumu, dan kamu tidak menenggelamkan ayahmu. Itu semua hanya di kepalamu, Mei. Tolong, kembali bersamaku.”

Suara Billie Joe Armstrong di iPod akhirnya meredup, menyisakan keheningan yang mencekik di antara mereka seiring lagu yang selesai berputar.

Mei menatap Ru. Untuk sesaat, Ru melihat kilatan kesadaran di mata besar gadis itu—sebuah permohonan tolong yang teramat sangat dari balik labirin jiwanya yang rusak. Namun, kilatan itu menguap secepat embun pagi. Mei melepaskan cengkeraman tangan Ru dari pundaknya dengan kekuatan yang tak terduga.

“Lagu itu sudah habis, Ru,” bisik Mei dengan senyuman paling rapuh yang pernah Ru lihat. “September sudah berakhir. Tapi dia tidak pernah membiarkanku bangun.”

Sebelum Ru sempat mencerna kalimat itu, Mei melangkah mundur. Satu langkah yang cepat, lalu tubuh ringkihnya melesat, terjun bebas ke dalam pelukan air danau yang pekat.

“MEI!”

Suara kecipak air yang berat memecah keheningan malam, disusul teriakan histeris Ru yang menggema membelah kegelapan. Pemuda itu berlari tanpa berpikir, melompat ke dalam air yang dingin, berniat merobek delusi apa pun yang mencoba merenggut Mei dari dunianya.

Di atas bangku semen yang sepi, iPod Mei yang layarnya masih menyala mulai memutar ulang lagu yang sama dari daftar putar otomatisnya.

Wake me up when September ends .…

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda