Cerita Fiksi

Malam Tanpa Izin

Malam Tanpa Izin
Cover AI Cerpen Malam Tanpa Izin (Dok. Gemini AI/Nano Banana)

"Monyet!"

Tarra mendorong lelaki yang mendesaknya ke sudut sempit gang gelap sebelum dengan kekuatan penuh kakinya menendang selangkangan si lelaki yang balas berteriak, “Asu!”

Tarra menggunakan kesempatan dari limbungnya lelaki itu untuk lari. Saat ia berbelok di ujung gang sempat dilihatnya lelaki kerempeng berkulit legam itu masih membungkuk sambil memegangi alat vitalnya.

Tarra terus berlari. Arah menuju kosannya penuh dengan jalan-jalan kecil bercabang. Gang Melati menjelma labirin mati—bau comberan basah menyengat di antara dinding batako berlumut dan lampu jalan yang berkedip sekarat. Kondisi berpencahayaan buruk itu membuat gadis itu harus berhati-hati dengan langkahnya sekaligus tak berani melambatkan lari barang sekejap. Khawatir jika tiba-tiba lelaki tadi berhasil menyusulnya.

Napasnya terasa membakar tenggorokan saat lampu neon putih terang dari pos ronda di ujung jalan akhirnya tertangkap oleh mata. Di sana, tiga orang bapak-bapak sedang berkumpul. Suara klotokan catur dan tawa renyah mereka seketika memecah kesunyian malam yang mencekam bagi Tarra.

Tarra memperlambat langkahnya begitu jaraknya tinggal beberapa meter. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi kausnya.

“Lho, Mbak Tarra? Kok malam-malam lari-larian kayak dikejar hantu?” Pak RT yang sedang memegang bidak catur mendongak, wajahnya berubah cemas melihat kondisi Tarra yang berantakan.

Tarra bertumpu pada lututnya, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum bisa bersuara. “Di ... di gang sebelah, Pak. Ada orang ... cowok kerempeng ... mau macem-macem.”

Pak Bambang, warga yang malam itu kebagian piket mingguan, langsung berdiri dari bangku kayu dan mengambil senter besar. “Lelaki kerempeng yang kulitnya hitam, Mbak? Pakai jaket lusuh?”

Tarra mengangguk cepat dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa takut yang baru saja mencair.

“Kurang ajar! Jangan-jangan bocah itu lagi,” gerutu Pak Bambang sambil menoleh ke arah Pak RT. “Sudah saya bilang, Pak RT, pos ronda di gang sebelah itu harusnya diaktifkan lagi. Minggu lalu si Neneng juga digoda sampai menangis.”

Pak RT menghela napas panjang, lalu memandang Tarra dengan tatapan meneduhkan. “Mbak Tarra tenang dulu ya, duduk di sini. Biar Pak Bambang sama Kang Toto yang cek ke sana. Sekarang Mbak aman di sini.”

Pak Bambang dan Kang Toto bergegas pergi membawa senter dan pentungan kayu, meninggalkan Tarra yang masih menyeka sisa air mata di pos ronda. Pak RT menyodorkan segelas air hangat yang diambil dari termos ronda.

“Minum dulu, Mbak Tarra. Tenang, di sini aman,” kata Pak RT, suaranya melembut, tetapi ada guratan kecemasan yang mendadak muncul di dahinya. Beberapa kali ia melirik ke arah gang tempat Pak Bambang pergi.

Belum habis air di gelas Tarra, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar kembali. Pak Bambang dan Kang Toto datang, tetapi mereka tidak membawa siapa-siapa. Wajah Pak Bambang tampak masam sekaligus ragu.

“Ketemu, Pak,” bisik Pak Bambang begitu sampai di pos, suaranya sengaja direndahkan agar tidak terdengar Tarra. “Bener pemuda yang biasa. Dia lagi duduk di warung seberang gang sambil meringis kesakitan. Tapi …” Pak Bambang menggantung kalimatnya, melirik Tarra sekilas.

“Tapi apa, Man?” tanya Pak RT mulai tidak sabar.

“Itu ... si Deni, Pak. Keponakannya Pak Hermawan yang punya pabrik tekstil di ujung jalan.”

Mendengar nama itu, bahu Pak RT tampak merosot. Suasana di pos ronda yang tadinya panas penuh amarah mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Pak RT memandang Pak Bambang, lalu beralih menatap Tarra dengan tatapan penuh rasa bersalah yang amat sangat.

“Aduh ....” Pak RT memijat pelipisnya. “Mbak Tarra, maaf sekali ... tapi kalau kita perpanjang masalah ini sampai ke polisi, urusannya bisa rumit. Pak Hermawan itu yang mendanai renovasi balai desa kita. Tanah pos ronda ini pun sebenarnya berdiri di atas lahan milik keluarga mereka.”

Tarra tertegun. Rasa takut yang tadinya mendominasi, kini perlahan digantikan oleh rasa sesak di dada. 

“Jadi karena dia keponakan orang kaya, dia boleh bebas ganggu perempuan di gang, Pak?” tanya Tarra, suaranya bergetar menahan amarah yang mulai naik.

Pak RT menghela napas berat, tidak berani menatap mata Tarra langsung. “Bukan begitu, Mbak. Tolong dipikirkan lagi. Warga sini banyak yang kerja di pabriknya. Kalau sampai Pak Hermawan tersinggung karena keponakannya diciduk polisi, lalu beliau murka dan melakukan PHK massal. Apa Mbak Tarra mau tanggung jawab sama nasib tetangga-tetangga kita di sini? Belum lagi kalau kampung kita butuh bantuan dana khitanan massal atau agustusan seperti kemarin. Repot saya, Mbak.”

Tarra menatap ketiga pria paruh baya di depannya bergantian. Di bawah temaram lampu neon pos ronda, ia melihat ketakutan yang nyata di wajah orang-orang yang seharusnya melindungi warga. Keadilan ternyata memiliki harga, dan harga itu terlalu mahal untuk ditanggung oleh posisi Pak RT.

“Saya mengerti, Pak,” kata Tarra akhirnya. Suaranya datar, mendadak tenang. Kemarahan yang sempat meluap kini mengkristal menjadi sesuatu yang lain: tekad. “Bapak-bapak tidak perlu repot. Saya pulang dulu.”

Pak RT tampak bernapas lega, sebuah reaksi yang membuat hati Tarra makin mencelos.

“Terima kasih atas pengertiannya ya, Mbak Tarra. Nanti saya coba tegur si Deni pelan-pelan.”

Tarra mengangguk, lalu berjalan kaki menuju kosannya. Di sepanjang sisa jalan yang sepi, tangannya meraba ponsel di dalam saku. Rasa takutnya sudah hilang, digantikan oleh kesadaran baru bahwa ia tidak bisa menggantungkan keselamatannya pada struktur yang rapuh ini.

Keesokan malamnya, sebuah grup obrolan digital baru tercipta tanpa melibatkan satu pun perangkat desa. Namanya sederhana: Sisterhood Melati. Tarra mengundang seluruh penghuni kos putri di area tersebut, menceritakan detail kejadian yang dialaminya, lengkap dengan ciri-ciri si Deni.

Respons yang masuk bagai bendungan yang jebol. Cerita demi cerita serupa bermunculan. Ternyata, kelakuan Deni sudah menjadi rahasia umum yang selalu diredam demi menjaga ‘nama baik lingkungan’.

Seminggu kemudian, lanskap malam di gang-gang gelap itu berubah total.

Kini, tidak ada lagi anak kos perempuan yang berjalan sendirian. Mereka menerapkan sistem buddy, saling menjemput di depan jalan raya jika ada yang pulang larut malam. Beberapa di antara mereka bahkan membawa semprotan merica buatan sendiri yang diracik bersama di kamar Tarra.

Malam itu, Tarra berjalan pulang bersama tiga temannya. Saat melewati sudut gang yang sama, ia melihat Deni sedang bersandar di tembok, siap dengan seringai mesumnya yang biasa. Namun, begitu melihat empat perempuan berjalan beriringan dengan langkah tegap, tatapan mata yang tajam, dan tangan yang siap di saku jaket masing-masing, nyali lelaki itu ciut. Deni yang biasanya gemar mendesak perempuan ke sudut sempit, kini justru membuang muka, merapatkan jaket lusuhnya, dan buru-buru melangkah pergi menjauh.

Pak RT mungkin punya beribu alasan untuk takut pada kekuasaan pemilik modal. Namun, di bawah lampu jalan yang temaram, Tarra dan perempuan-perempuan di sana membuktikan bahwa mereka tidak butuh izin siapapun untuk menciptakan ruang aman mereka sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda