Cerita Fiksi

Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan

Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
Fajar dan Naomi yang akhirnya berpisah. (Gemini Ai)

Kabut tipis dan angin malam Desa selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu berjalan lebih lambat. Di atas loteng posko yang menjadi saksi bisu ratusan jam obrolan tanpa ujung, Fajar dan Naomi duduk berdampingan. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan dengung mesin diesel sesekali memecah sunyi. Waktu penarikan mahasiswa KKN tinggal menghitung hari, Universitas Ayam Jantan Timur bersiap menarik pulang mahasiswanya minggu depan, sementara Fajar dari Universitas Tata Surya masih punya sisa sebulan penuh di desa sebelah.

Suasana di loteng itu terasa senyap sebelum Fajar akhirnya membuka suara, memecah keheningan yang sejak tadi menggelayut di antara mereka.

"Nom, kamu mungkin udah pernah sering denger orang-orang ngomong, 'Bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan', kan?" tanya Fajar pelan.

Naomi menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Fajar yang tak seperti biasanya. "Iya, sering denger. Kenapa tiba-tiba ngomong gitu, Jar?"

"Nggak, tiba-tiba kepikiran aja, Nom," jawab Fajar sambil menatap cangkir kopi dingin di depannya. "Kita yang tadinya nggak saling kenal, tiba-tiba dipertemukan di tempat baru yang bahkan sebelumnya kita nggak tahu ada desa seperti ini. Kamu, yang tadinya cuma mahasiswi Psikologi Universitas Ayam Jantan Timur yang pusing perkara tugas, praktikum, dan setumpuk beban kampus, tiba-tiba harus KKN di tempat yang jaraknya berjam-jam dari kota. Dengan sifatmu yang agak susah bergaul sama orang baru, kamu dipaksa menyesuaikan diri dengan semua itu."

Naomi terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mulai berubah sendu. "Iya, dan sialnya aku malah harus ketemu sama kamu, Jar, hahaha! Mahasiswa Universitas Tata Surya jurusan Pertanian, tapi jiwanya malah nyasar ke sastra. Bukannya sibuk cari judul proposal buat sidang skripsi pertanian, malah sibuk nulis cerpen, ulasan buku, film, atau opini sosial-politik tentang carut-marut negeri ini. Dasar mahasiswa krisis identitas!"

Fajar ikut tersenyum tipis. "Iya juga ya. Tapi bukan itu yang mau aku obrolin, Nom. Kita beberapa minggu terakhir ini sering banget ngobrol bareng, bahkan sampai deep talk di loteng poskomu ini. Padahal secara kepentingan, buat apa aku sering-sering nyebrang ke sini? Aku kan KKN di desa sebelah, bukannya sibuk bersosialisasi di posko sendiri malah asyik nongkrong di sini. Ya, begitulah hidup, Nom; ada beberapa hal memang yang susah dijelasin pake logika."

"Mulai deh, masuk ke kuliah 1 SKS bareng Pak Fajar, hahaha," potong Naomi meledek.

"Sialan kamu, aku masih muda ya! Jangan panggil 'pak'," protes Fajar setengah tertawa. Lalu, wajahnya kembali serius. Ia menarik napas dalam-dalam. "Gini, Nom... mungkin kita pernah bahas ini sebelumnya, cuman aku mau ngomong lagi mumpung waktu dan tempatnya pas. Aku tahu kita nggak bisa bersama selamanya, atau melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Di satu sisi, kamu punya trauma mendalam soal hubungan beda keyakinan, dan di sisi lain, aku juga nggak bisa memaksakan tembok itu untuk runtuh."

Fajar menatap manik mata Naomi lamat-lamat. "Mungkin hari-hari kita selama di sini bakal jadi salah satu memori paling berisiko—eh, paling berkesan yang pernah aku temui seumur hidupku, Nom. Semoga kamu juga ngerasa begitu. Suatu saat nanti, kita pasti bakal rindu momen-momen deep talk berjam-jam di atas loteng ini, atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas sampai tiba-tiba azan subuh berkumandang."

"Atau waktu kamu dimarahin temenmu karena udah larut malam masih asyik ngobrol sama aku bukannya istirahat," lanjut Fajar sambil tersenyum geli. "Atau pas lampu jalan di bawah tiba-tiba mati-nyala yang bikin kamu ketakutan setengah mati, sementara aku sibuk jelasin kalau itu emang ciri khas kelistrikan desa ini, tapi kamu malah tetap percaya itu hal mistis, hahaha! Aku juga nggak bakal lupa pengalaman pertama sekaligus terakhir kalinya boncengin kamu pake motor buat ngambil laundry. Itu bakal jadi pengalaman terbaikku."

Fajar terdiam sejenak, mengenang betapa kontrasnya interaksi mereka. "Atau pas kita saling balas-balasan chat seru di WhatsApp, tapi begitu ketemu langsung jadi awkward setengah mati karena aku malu dicengin temen-temenku, atau kamu yang mendadak kikuk kalau pas ketemu di tempat ramai. Padahal kalau di WhatsApp, gaya komunikasi kita udah kayak orang kenal dari lahir."

Tanpa disadari, raut wajah Naomi mulai berubah sendu. Ia selalu benci jika Fajar mulai membahas bab akhir ini. Penarikan mahasiswa Universitas Ayam Jantan Timur tinggal menghitung hari, menyisakan jarak yang tak lagi bisa dijembatani hanya dengan menyeberang desa.

Melihat mata Naomi yang mulai berkaca-kaca, Fajar buru-buru melanjutkan, "Jangan sedih, Nom. Kita masih bisa komunikasi kok lewat WhatsApp, ya walaupun feel-nya pasti beda dari ngobrol langsung kayak begini. Dan semoga, setelah kamu balik ke kota nanti, kita nggak jadi orang asing ya, Nom. Memang kita nggak bisa bersama dalam ikatan relationship, tapi untuk tetap jadi teman... itu bukan masalah besar, kan?"

Pertahanan Naomi akhirnya runtuh. Air matanya mulai menetes perlahan. Suaranya tercekat di tenggorokan, dan isakan tertahan mulai lolos dari bibirnya. Wajah putihnya yang bersih mendadak memerah, kontras dengan sweater wol yang langsung ia tarik untuk menutupi sebagian wajahnya.

Fajar merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. "Udah, Nom, jangan nangis. Biarpun kamu nutup muka pake sweater, tetep keliatan kali kalau lagi mewek," kata Fajar lembut, mencoba menghibur. "Gapapa sedih, tapi jangan berlarut-larut ya, Nom. Itukan doktrin anak Psikologi, hehehe."

Fajar menunduk, menatap lantai kayu loteng yang berderit pelan. "KKN itu emang jahat, Nom. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya asing, dengan suasana, watak, dan perilaku yang beda-beda. Kita dipaksa kenalan, dipaksa bonding. Begitu kita udah saling kenal, udah asyik, udah bisa ketawa bareng, tiba-tiba datang waktu yang memaksa kita buat berpisah. KKN memang jahat, Nom."

Fajar mengangkat kepalanya, menatap Naomi dengan tatapan yang begitu tulus.

"Tapi, sejahat-jahatnya KKN, aku tetap bersyukur bisa bertemu dengan kamu, Naomi. Di setiap momen, di setiap kegiatan, dan di setiap hari selama KKN ini. Memang kita tidak bisa bersama sebagai kekasih, Nom, tapi... biarlah urusan perasaan ini menjadi milikku seorang. Bagaimana pun perasaanmu kepadaku nanti, biarlah itu menjadi urusanmu."

Malam semakin larut di Desa Belawae. Di bawah langit yang sama, di atas loteng yang menyimpan ribuan cerita, dua manusia tahu bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda