Sosok Hitam di Lantai 18

M. Reza Sulaiman | dede dermawan
Sosok Hitam di Lantai 18
Ilustrasi mengambarkan Bagus dengan mata kosong (gemini.google)

Bagi Bagus, lembur bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan pelarian. Di kantornya yang terletak di lantai 18 sebuah gedung pencakar langit, ia menemukan ketenangan dalam deru pendingin ruangan yang konsisten dan pendar lampu neon.

Di rumah, ia hanya akan bertemu dengan kesunyian apartemennya yang sempit dan kenangan tentang istrinya yang baru saja pergi meninggalkannya bulan lalu. Malam itu menunjukkan pukul 23:45. Sepi.

Bagus meregangkan punggungnya yang kaku. Di meja kerjanya yang berantakan, ponselnya bergetar. Notifikasi muncul dari aplikasi sistem keamanan pintar yang baru ia pasang minggu lalu. "Gerakan terdeteksi di ruang tengah," isi notifikasinya.

Bagus mengerutkan kening. Ia tinggal sendiri. Tidak ada hewan peliharaan, tidak ada kerabat yang punya kunci cadangan. Dengan jempol yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi CCTV tersebut. Kebingungan.

Layar ponselnya menampilkan sudut ruang tengah apartemennya yang remang-remang. Hanya ada cahaya biru tipis dari indikator microwave di dapur yang memantul di lantai kayu. Kosong. Bagus menghela napas lega.

"Mungkin hanya serangga yang lewat di depan lensa," gumamnya.

Ia hendak menutup aplikasi itu saat matanya menangkap sesuatu di sudut layar. Pintu kamar tidurnya, yang seharusnya tertutup rapat, kini terbuka sedikit. Celah gelap yang menganga. Bagus merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Ia melihat kamera 2, kamera yang ia pasang tepat di atas lemari pakaian, menghadap langsung ke tempat tidurnya.

Layar ponselnya memuat gambar mode night vision. Jantung Bagus seolah berhenti berdetak. Di atas kasur itu, di bawah selimut tebal miliknya, tampak sesosok tubuh yang sedang berbaring pulas. Posisi tidurnya sangat familier, menyamping ke kanan, dengan satu tangan di bawah bantal. Itu posisi tidur favorit Bagus. Panik.

"Tidak mungkin," bisik Bagus.

Ia melihat ke sekeliling kantornya yang kosong. Ia masih duduk di kursi kerjanya. Ia mengenakan kemeja biru yang sama dengan yang ia lihat di layar ponselnya. Ia mendekatkan layar ponsel ke matanya, mencoba mencari detail.

Sosok di tempat tidur itu bergerak sedikit. Selimutnya naik-turun dengan teratur, mengikuti irama napas yang dalam dan tenang. Ia meraih telepon kantor, hendak menelepon petugas keamanan apartemennya, namun tangannya terpaku saat melihat kejadian di layar ponsel.

Sesosok bayangan lain, sesuatu yang tinggi, kurus, dan tampak tidak memiliki tulang, perlahan-lahan merangkak keluar dari kolong tempat tidur di dalam video tersebut. Makhluk itu bergerak sangat halus, seperti asap hitam yang memadat.

Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap sosok Bagus yang sedang tidur. Bagus yang berada di kantor kini berkeringat dingin. Ia tidak bisa berpaling. Teror itu mengikat matanya pada layar 6 inci tersebut. Gemetar.

Makhluk itu membungkuk, wajahnya yang pucat dan tanpa mata kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Bagus yang sedang tidur. Di dalam video, Bagus yang asli—atau siapa pun itu yang berada di atas kasur—mulai terlihat gelisah. Ia tampak mengalami mimpi buruk.

Tiba-tiba, makhluk di dalam video itu menoleh ke arah kamera CCTV. Seolah-olah ia tahu bahwa Bagus sedang menonton dari jarak berkilo-kilometer jauhnya. Makhluk itu menyeringai, memperlihatkan barisan gigi yang terlalu banyak untuk mulut manusia, lalu ia mengangkat satu jari ke bibirnya yang hitam. "Sst."

Bagus melempar ponselnya ke atas meja. Napasnya memburu. "Ini gangguan sinyal. Ini rekaman lama. Ini prank," ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan logika yang rapuh.

Namun, rasa penasaran yang beracun memaksanya untuk kembali mengambil ponsel itu. Ia harus tahu apa yang terjadi. Saat ia kembali melihat layar, sosok makhluk itu sudah hilang. Tinggal Bagus yang sedang tidur di atas kasur.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Bagus menyadari bahwa di dalam video itu, jam digital di atas lemari apartemennya menunjukkan pukul 23:58. Ia melirik jam di komputer kantornya. 23:58. Detik demi detik berlalu dengan lambat. Di layar ponsel, sosok yang tidur di kasur itu tiba-tiba terbangun. Ia duduk dengan kaku, lalu perlahan menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.

Di kantor yang sunyi, Bagus mendengar suara langkah kaki pelan di koridor luar. Bagus bersembunyi di bawah meja kerjanya, memeluk ponselnya seperti jimat pelindung. Ia melihat kembali ke layar CCTV. Sosok di atas kasur apartemennya kini turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu kamar, keluar ke ruang tengah, dan berdiri tepat di depan kamera CCTV ruang tengah.

Sosok di layar itu menatap tajam ke kamera. Itu memang wajah Bagus, tapi matanya kosong, hanya ada lubang hitam yang dalam. Sosok itu membuka mulutnya, dan suara yang keluar bukan berasal dari ponsel, melainkan bergema di seluruh ruangan kantor yang kosong itu.

"Kenapa kamu belum pulang, Bagus? Aku sudah menunggumu di sini..."

Lampu kantor tiba-tiba padam. Satu per satu, mulai dari ujung lorong hingga tepat di atas meja Bagus. Dalam kegelapan total, layar ponselnya adalah satu-satunya sumber cahaya. Di layar CCTV, apartemennya kini benar-benar kosong. Pintu depan apartemennya terbuka lebar.

Bagus merasakan hembusan napas dingin di telinganya. Napas itu berbau tanah kuburan dan besi berkarat. Sebuah tangan yang kurus dan dingin meraba bahunya dari belakang kursi kerja. Ia bergerak sangat cepat.

"Aku bosan di rumah sendirian," bisik suara itu tepat di lubang telinganya.

Bagus tidak berani menoleh. Ia hanya menatap layar ponselnya yang kini perlahan menjadi gelap. Di detik terakhir sebelum layar mati, ia melihat pantulan di kaca ponselnya. Sosok dirinya yang bermata hitam sedang berdiri tepat di belakangnya, memegang pisau dapur.

Saat petugas itu menyalakan layarnya, sebuah aplikasi CCTV masih terbuka, memperlihatkan rekaman seorang pria yang sedang tidur pulas di sebuah apartemen. Petugas itu mengernyit. Pria di dalam video itu adalah Bagus, namun ia tidak sedang tidur. Ia sedang menatap lurus ke kamera dengan mulut terbuka, seolah-olah sedang berteriak dalam keheningan yang abadi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak