Cerita Misteri

Krayon Hitam

Krayon Hitam
Ilustrasi gambar Aris, Shinta, Tommy dan Om Jangkung (gemini.google)

Bagi Aris dan Shinta, kepindahan mereka ke rumah tua di pinggiran kota adalah lembaran baru. Namun bagi Tommy, putra mereka yang baru berusia enam tahun, rumah itu adalah sebuah kanvas raksasa. Tommy bukan anak nakal, ia hanya kelewat kreatif. Berbekal krayon warna-warni kusam yang ia temukan di gudang bawah tanah, Tommy mulai menggambar riang di dinding kamar tidurnya.

"Itu gambar siapa, Sayang?" tanya Shinta suatu sore, melihat goresan krayon hitam di dinding dekat jendela.

Tommy menoleh, tersenyum lebar. "Ini Om Jangkung, Ma. Dia teman baru Tommy. Dia suka berdiri di pojok sini kalau malam."

Gambar itu terlampau sederhana, khas coretan anak kecil. Sosok dengan tubuh yang sangat panjang, lengannya menjuntai hingga melewati lutut, dan kepalanya berbentuk oval tanpa rambut. Aris dan Shinta hanya tertawa maklum. Mereka menganggap itu sebatas fase teman imajiner yang wajar bagi anak seusianya, apalagi di lingkungan baru yang sepi.

Keganjilan bermula pada perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Aris memasang kamera dengan timer di ruang makan. Mereka bertiga berpose bahagia di depan kue cokelat yang menggoda. Klik. Kilat lampu menyambar.

Malamnya, saat Aris memindahkan foto-foto itu ke laptop, tubuhnya membeku. Di foto keluarga itu, tepat di belakang kursi Tommy, tampak sebuah bayangan buram. Awalnya Aris mengira itu hanya noise lensa atau pantulan cahaya. Namun, saat ia memperbesar rasio foto tersebut, bulu kuduknya meremang hebat.

Di sana, menyempil di antara celah tirai ruang makan yang gelap, berdiri sesosok bayangan. Sosok itu sangat tinggi, kepalanya nyaris menyentuh plafon. Tubuhnya kurus kering dengan kulit sepucat mayat. Hal yang paling mengerikan adalah tangannya—jari-jarinya berwujud panjang dan runcing, dan salah satunya tampak nyaris menyentuh pundak Tommy.

"Shinta, lihat ini," bisik Aris dengan suara bergetar.

Shinta mendekat, dan seketika ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Itu... itu gambar Tommy."

Mereka segera berlari ke kamar sang anak. Tommy sedang tidur pulas. Namun di dinding kamarnya, gambar Om Jangkung tampak membesar dari ukuran sebelumnya. Coretan krayon hitam itu seolah-olah hidup, meresap ke dalam pori-pori tembok dan membuatnya terlihat jauh lebih pekat dan berdimensi.

Keesokan harinya, Aris menghapus gambar itu. Ia mengecat ulang dinding kamar Tommy dengan warna putih bersih. Tommy menangis histeris, berteriak bahwa Om Jangkung marah karena rumahnya dirusak. Aris mencoba bersikap tegas, menganggap ini cara terbaik untuk menghentikan delusi anaknya. Sayangnya, "Om Jangkung" tidak pergi. Ia justru mulai berpindah.

Beberapa hari kemudian, Shinta iseng memotret Tommy yang sedang bermain di halaman belakang. Saat melihat hasilnya di layar ponsel, Shinta menjerit histeris. Di balik kaca jendela lantai dua kamar Tommy yang baru dicat, sosok itu berdiri. Kali ini tidak buram.

Wajahnya terlihat amat jelas. Tanpa hidung, hanya ada dua lubang hitam sebagai mata dan garis tipis melengkung sebagai mulut yang menyeringai. Hal yang lebih membuat nalar sinting adalah, sosok itu kini mengenakan kemeja kotak-kotak milik Aris yang hilang minggu lalu.

"Kita harus pergi dari sini, Ris!" tangis Shinta malam itu. Ia buru-buru mengemas barang ke dalam koper di ruang tengah. Aris setuju. Rumah ini sudah gila.

Sebelum keluar, Aris berniat memotret kondisi ruang tengah—sebagai bukti dokumentasi jika sewaktu-waktu mereka harus melapor ke polisi. Ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah ruangan, menyorot Shinta dan Tommy yang duduk berpelukan di sofa. Klik. Aris menatap hasil jepretannya, lalu kakinya kehilangan tenaga hingga ia jatuh terduduk di lantai.

Di dalam foto itu, bukan hanya ada Om Jangkung berdiri menjulang di belakang istri dan anaknya. Di dalam foto itu, wajah Shinta dan Tommy lenyap. Wajah mereka rata, putih, dan polos. Sebaliknya, sosok Om Jangkung kini memiliki wajah yang sangat detail. Makhluk itu meminjam mata Aris, hidung Shinta, dan senyum lebar Tommy.

"Pa, kenapa?" tanya Tommy.

Aris mendongak ngeri. Di dunia nyata, di depan matanya, Tommy dan Shinta masih memiliki wajah. Namun, saat ia kembali menatap layar ponsel, sosok Om Jangkung di foto itu perlahan melambaikan tangannya. Ia bergerak di dalam foto.

Tiba-tiba, seluruh lampu ruang tengah padam. Dalam kegelapan pekat, Aris mendengar suara krayon digoreskan ke tembok dengan kasar dan brutal. Srit... srit... srit...

"Tommy?" panggil Aris dengan gigi gemelatuk.

"Om Jangkung bilang, dia butuh bingkai baru, Pa," suara Tommy terdengar kelewat datar, seolah ia sedang mengigau dalam tidur.

Aris buru-buru menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih itu menyapu ruangan, lalu berhenti pada dinding di belakang sofa. Cat yang baru dioleskan siang tadi terkelupas paksa. Di sana, sebuah mural baru telah tercipta dengan sangat cepat.

Gambar itu adalah potret Aris yang sedang berteriak ngeri, dilukis dengan detail yang terlampau sempurna. Detik berikutnya, Aris merasakan sepasang tangan yang luar biasa panjang dan dingin melingkari lehernya dari arah kegelapan plafon. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya raib, seolah tersedot masuk ke dalam dinding.

Keesokan harinya, rumah itu kembali sepi. Seorang agen properti datang untuk memeriksa keadaan karena keluarga penyewa barunya mendadak tak bisa dihubungi. Ia menemukan rumah itu kosong melompong. Tidak ada koper, tidak ada jejak kepanikan. Hanya sunyi.

Namun, di ruang tengah, sang agen menemukan sebuah foto keluarga tergeletak di lantai. Foto itu menampilkan Aris, Shinta, dan Tommy yang sedang tersenyum bahagia. Namun, jika dilihat lebih lekat, kulit mereka di dalam foto itu tidak terlihat seperti pori-pori kulit manusia—melainkan bertekstur kasar seperti lilin krayon.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda