Jangan Baca Pesan Terakhirku

M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Jangan Baca Pesan Terakhirku
Ilustrasi Rumah dan Dokumen Pesan Terakhir (Gemini AI)

Hujan deras mengguyur kawasan Jalan Caraka sejak sore, membuat dedaunan bergoyang hebat; aliran air membentuk sungai-sungai kecil di sepanjang trotoar. Langit kelabu menggantung rendah, seakan memaksa bumi tunduk dalam kesedihan. Di tengah deru hujan, rumah tua nomor dua belas berdiri diam, ditelan waktu dan lumut. Cat dindingnya mengelupas, kayu-kayu jendela berderit setiap kali angin menyusup melalui celahnya. Rumah yang pernah menjadi saksi tawa bahagia, kini hanya menyimpan sunyi dan bisikan yang tak bisa dijelaskan logika.

Tak ada yang menyangka Nadine Ardelia akan kembali ke rumah itu. Ia pulang diam-diam tiga minggu lalu, tanpa kabar. Seorang mantan jurnalis yang berhenti dari dunia ramai dan memilih kembali ke akar … atau mungkin ke lubang masa lalu yang belum ditutup rapat. Tetangga melihatnya hanya sekali-dua kali: berjalan pagi dengan hoodie hitam, menatap kosong ke pohon besar di belakang rumah, lalu menghilang di balik pintu kayu yang mulai lapuk.

Dan pagi itu, tubuhnya ditemukan tergantung di loteng. Garis polisi terpasang di depan rumah Nadine. Beberapa petugas sibuk berlalu-lalang mengumpulkan bukti dan jejak yang tertinggal di sana. Sebagian yang lain ada yang menanyai saksi.

"Kami dapat laporan dari warga sekitar jam lima empat lima pagi. Pintu depan terbuka, lampu menyala semalaman. Ketika kami masuk, korban dalam posisi tergantung menggunakan kabel lampu loteng. Tidak ada tanda kekerasan dari pihak lain sejauh ini," ujar seorang petugas kepada Detektif Arvino.

Pria paruh baya itu berdiri di kaki tangga menuju loteng dengan jaket kulit basah di bahu, sementara sepatu botnya menyerap air dari lantai kayu yang mulai membusuk. Ia mendongak, menatap lubang hitam di langit-langit rumah.

Langkah pelan membawanya ke atas. Bau debu tua dan anyir darah menusuk hidungnya. Tubuh Nadine tergantung tenang, kepala miring ke kanan, mata terbuka setengah. Tangannya menjuntai, dan di telapak kirinya, secarik kertas usang dijahit dengan benang hitam.

Arvino mendekat. Dibacanya tulisan di kertas itu, dengan huruf-huruf tak rapi seolah ditulis tergesa:

"Jangan baca pesan terakhirku."

Lantai di bawah tubuh Nadine dipenuhi coretan. Spidol hitam berserakan. Kata-kata besar ditulis dalam gaya terburu-buru:

ADA YANG MENGAWASIKU. MEREKA TIDAK AKAN BERHENTI.

Arvino menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak kasus bunuh diri, tapi ini berbeda. Pesan yang ditinggalkan, beberapa jejak kaki yang terlihat, sisa makanan yang tak habis dimakan, juga TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang terlihat berantakan seolah menjadi tanda bahwa Nadine tak sendiri malam itu. Namun, mengapa tak terlihat tanda-tanda perlawanan dari korban? Bahkan ia dan rekannya pun tak melihat tanda kekerasan di jasad Nadine. Seolah semua sudah direncanakan begitu rapi.

Selesai menyusuri TKP, Detektif Arvino dan beberapa rekannya kembali ke kantor. Sementara itu, jasad Nadine sudah dibawa lebih dulu oleh tim forensik untuk dilakukan autopsi. Di kantor polisi, beberapa kenalan korban sudah menunggu di ruang interogasi. Wajah mereka tertunduk, menyimpan kesedihan yang begitu mendalam. Gita, sahabat Nadine, mendapat giliran pertama untuk diinterogasi. Mata gadis dua puluh tahunan itu memerah menahan tangis.

"Dia bukan tipe yang akan menyerah begitu saja," suara Gita pecah dalam tangis.

Rambut ikalnya basah oleh gerimis, mata sembab, tangan terus-menerus menggenggam ponsel. Ia duduk di kursi keras kantor polisi, wajahnya kosong setengah percaya.

"Kami masih teleponan seminggu lalu, bahkan masih berkirim pesan hingga pagi kemarin," katanya pelan. "Dia sempat bilang butuh istirahat. Tapi dia tidak pernah bilang soal bunuh diri. Tidak pernah."

Arvino duduk di seberang, memperhatikan setiap raut wajah perempuan itu. "Kau bilang kemarin dia sempat mengirimmu pesan?"

Gita mengangguk. Jemarinya gemetar saat membuka layar ponselnya. Ia memperlihatkan pesan yang dikirim Nadine padanya, jam dua lewat tiga belas pagi:

"Jangan baca pesan terakhirku."

Detektif Arvino mengambil foto pesan terakhir yang dikirim korban pada sahabatnya sebagai bukti. Kemudian matanya kembali menatap gadis di seberangnya.

"Lalu apa saja yang kau lakukan kemarin? Kapan terakhir kali bertemu korban?"

Gita mengembuskan napas pelan. "Kami bertemu sekitar dua minggu lalu, sebelum aku pulang ke rumah orang tuaku. Kakak perempuanku akan menikah tiga hari lagi. Seharian kemarin, aku bersamanya untuk membantu persiapan pernikahan."

Nihil. Interogasi para saksi dan orang terdekat korban sama sekali tak memberikan petunjuk yang berarti. Hari-hari berlalu dengan desakan dari pihak atasan untuk segera menutup kasus ini dengan kesimpulan bunuh diri. Meskipun semua masih terasa janggal, Detektif Arvino dan timnya terpaksa harus mengakhiri penyelidikan tanpa benar-benar memecahkan misterinya.

***

Dua tahun berlalu ketika Gita kembali ke kota tempat ia dan Nadine bertemu. Dia berdiri di depan rumah Nadine yang tampak tak terurus. Garis polisi masih melintang di tempat yang sama, meski penyelidikan sudah lama selesai. Angin sore berdesir, membawa bau tanah basah dan suara-suara aneh dari sela pepohonan di belakang rumah.

Ia mendorong pintu perlahan. Engselnya berderit menyayat. Udara dingin menyambut dari dalam, menempel di kulit seperti kabut kematian yang tertinggal. Ruang tamu kosong. Perabotan ditutupi kain putih, tapi jejak kaki Nadine masih terlihat samar di lantai berdebu.

Gita naik ke lantai dua. Setiap langkah di tangga berderit. Kamar Nadine terbuka. Gelap. Tangan Gita meraba dinding sebelahnya untuk menemukan sakelar.

Ctak! Lampu menyala terang. Tampak sebuah laptop tergeletak di atas meja yang sudah berdebu tebal. Kening Gita mengernyit. Siapa yang meletakkan laptop Nadine di sini? Meskipun heran, Gita tetap membuka laptop itu dan menyalakannya dengan satu kali klik. Layar desktop menampilkan satu folder yang seolah sengaja ditujukan padanya:

“TERAKHIR”

Gita menahan napas. Klik. Di dalamnya, satu file teks: don’t_open_this.txt

Tapi dia membukanya.

[LOG HARIAN NADINE ARDELIA]

  • 27 Februari: Aku dengar langkah kaki dari loteng. Padahal aku sendirian. Bukan sekali dua kali. Langkah-langkah pelan ... seolah seseorang berjalan bolak-balik, menunggu waktu.
  • 28 Februari: Aku lihat dia. Di cermin kamar mandi. Perempuan dengan rambut basah, wajah penuh luka, mulutnya dijahit. Tapi benangnya putus. Dia menatapku. Tidak bicara. Tapi aku dengar suaranya ... di kepalaku.
  • 1 Maret: Ada email masuk. Tanpa nama. Subject-nya: “Bangkit.” Isinya: “Ingat siapa yang kau kubur di ladang belakang.” Aku tak pernah membunuh siapa pun. Tapi aku tahu ladang yang dimaksud. Di belakang rumah ini. Dulu ada sumur tua, kini tertutup rumput liar.
  • 4 Maret: Aku mulai ingat. Tentang Lina. Anak yang hilang waktu kami kecil. Kami kira itu cuma permainan. Tapi dia menghilang setelah malam itu. Tidak pernah ditemukan. Tidak pernah dicari cukup dalam.

Gita menutup laptop itu cepat. Tubuhnya membeku. Sebuah suara berderak di atas. Loteng. Angin atau sesuatu yang lebih.

Tanpa berpikir panjang, Gita menarik kursi ke bawah pintu loteng dan mendorong panel kayu. Tangga lipat berderit terbuka. Udara dari dalam terasa lebih dingin, lebih berat. Ia naik. Gelap. Senter ponsel dinyalakan.

Ruangan itu kosong. Tapi ada koper hitam di pojok. Ia berjalan perlahan, membuka ritsletingnya. Koper hitam itu berisi boneka kain bermata kosong, seikat benang hitam, jarum, dan tiga foto: Nadine, Gita, dan satu gadis kecil berambut keriting dengan mata besar: Lina. Di balik foto itu tertulis: "Lina tidak pernah mati. Tapi dia tidak pernah kembali sebagai manusia."

Gita mundur. Napasnya memburu. Ia hendak turun, tapi tiba-tiba ponselnya mati. Gelap total. Dari belakang, terdengar bisikan:

"Jangan pergi. Permainan belum selesai."

Esok paginya, Detektif Arvino memperoleh laporan hilangnya Gita. Terakhir kali ia terlihat masuk ke rumah Nadine. Di tempat itu, polisi menemukan laptop menyala, file terbuka. Ada sebaris tulisan di akhir dokumen:

"Kau membacanya. Maka kutukannya milikmu sekarang."

Malam itu, Arvino pulang ke apartemennya. Ia membuka salinan file tersebut dari flashdisk. Dan di cermin kamar tidurnya, seorang perempuan muncul di balik pantulan. Rambutnya basah. Mulutnya dijahit. Matanya memohon dan menuntut sekaligus. Lampu padam. Dalam gelap, terdengar bisikan yang sangat pelan, "Tolong…, jangan baca pesan terakhirku."

Setelah kejadian itu, tak pernah terdengar kabar tentang Detektif Arvino. Hingga dua tahun berlalu, kasus kematian Nadine dan hilangnya Gita beserta Arvino tak terpecahkan. Tak ada tersangka. Tak ada saksi dan bukti untuk dua kasus terakhir. Jejak tak terlihat. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tak ada yang bisa menjawabnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak