Ulasan
Kejar Pembunuh di Dua Masa, Tunnel Jadi Drama Misteri yang Sulit Dilupakan
Di dunia nyata, melakukan time-travel ke masa depan atau sebaliknya memang terdengar tidak masuk akal. Bahkan di kisah fiksi sekalipun, orang yang mengalami perjalanan waktu secara mendadak akan merasa kebingungan. Dan saya rasa, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Park Gwang-ho ketika mengetahui dirinya tiba-tiba terbangun di 30 tahun kemudian.
Tunnel bercerita tentang Park Gwang-ho (Choi Jin-hyuk), seorang detektif kriminal yang hidup pada tahun 1986. Saat menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang menggemparkan kota tempatnya bertugas, ia mengejar pelaku hingga masuk ke sebuah terowongan.
Namun ketika keluar dari terowongan tersebut, Gwang-ho justru mendapati dirinya berada di tahun 2016.
Di masa depan, ia mengetahui bahwa kasus pembunuhan yang sedang ia selidiki ternyata belum pernah benar-benar terpecahkan. Lebih menyakitkan lagi, istrinya yang ia tinggalkan di masa lalu telah menghabiskan puluhan tahun hidup tanpa kepastian tentang dirinya.
Demi mengungkap pelaku sekaligus mencari jalan pulang, Gwang-ho bekerja sama dengan Kim Seon-jae (Yoon Hyun-min), detektif muda yang mengandalkan logika dan teknologi modern, serta Shin Jae-yi (Lee Yoo-young), profesor psikologi kriminal yang ternyata punya identitas yang cukup mengejutkan.
Ulasan Drama Korea Tunnel
Drama dengan konsep time-travel sekarang sudah banyak kita temui. Namun, bagi saya yang membuat Tunnel terasa berbeda dan lebih menarik adalah sisi emosional yang dibangun dalam cerita.
Dengan membawakan peran sebagai seorang detektif, Choi Jin-hyuk di sini digambarkan memiliki karakter yang cukup emosional. Sejak awal, saya seolah dibuat ikut merasakan kebingungan, kesepian, dan kerinduan yang ia rasakan setelah seluruh hidupnya berubah dalam sekejap. Itu wajar, melihat bagaimana ia menyaksikan dunia di sekelilingnya berubah drastis hanya dalam semalam. Rumah yang ia tinggali bersama istrinya hilang, terowongan yang menjadi tempat terakhirnya di tahun 1986 tak ia temukan di mana ujungnya, bahkan keberadaan istrinya pun ia tak tahu.
Tentu, itu semua bukan hal yang mudah untuk diterima. Dan Choi Jin-hyuk berhasil membawakan emosi tersebut dengan sangat baik. Di satu sisi, ia tampil sebagai detektif yang tangguh dan keras kepala. Namun di sisi lain, ada banyak momen yang memperlihatkan betapa rapuhnya dirinya ketika mengingat orang-orang yang ia tinggalkan.
Hidup di tahun 2017, ia menggunakan identitas orang lain yang mempunyai nama sama persis dengan dirinya. Sementara keberadaan pemilik asli nama tersebut, baru terpecahkan di akhir drama. Dengan identitas itu, statusnya yang di tahun 1986 sudah menjadi polisi selama 10 tahun kini berubah jadi polisi pemula.
Di sini, ada adegan lucu. Jujur, saya ketawa melihat Jin-hyuk yang selalu ngomel-ngomel saat dipanggil dengan sebutan "maknae" oleh rekan-rekannya. Bagaimana pun, jiwanya sebagai detektif senior sudah terlalu melekat pada dirinya. Lucunya lagi, junior Gwang-ho di tahun 1986, kini sudah punya pangkat yang cukup tinggi di kepolisian. Jadi akhirnya, Gwang-ho menjadi bawahan dari juniornya sendiri.
Selain itu, interaksinya dengan Kim Seon-jae juga terlihat sangat menggemaskan di mata saya. Seon-jae, putra dari korban kasus pembunuhan yang dulu sempat ditangani oleh Gwang-ho di tahun 1986 kini sudah dewasa, bahkan menjadi polisi yang berbakat. Yang cukup membuat saya terhibur adalah pertemuan pertama mereka, apalagi ketika Gwang-ho tiba-tiba memborgol Seon-jae di kantor polisi. Dan di saat yang sama, Gwang-ho sebenarnya belum bisa memahami apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa ia tiba-tiba berada di dunia yang tak ia kenali.
Meskipun sempat menunjukkan tatapan kurang suka satu sama lain, chemistry keduanya tetap terasa solid, bahkan jadi salah satu yang saya sukai dari drama ini. Dalam bekerja, mereka berdua memiliki cara yang jauh berbeda. Gwang-ho mengandalkan insting dan pengalaman lapangan, sementara Seon-jae lebih percaya pada data dan analisis modern. Perbedaan pendapat dan perdebatan tentu jadi sering terjadi karena hal itu, tetapi saya rasa ini justru membuat alur terasa lebih hidup dan ada dinamikanya.
Yang menarik, meskipun mengangkat kasus pembunuhan berantai yang terinspirasi dari kasus Hwaseong, drama ini tidak hanya fokus pada identitas pelaku. Tunnel juga memberi ruang bagi cerita para korban dan orang-orang yang hidup dengan luka akibat kejahatan tersebut. Di episode terakhir, ketika Gwang-ho dan Seon-jae mengunjungi rumah keluarga korban satu per satu setelah mereka menangkap pelakunya, itu benar-benar menjadi momen yang paling menyentuh hati buat saya. Itulah mengapa, di awal tadi saya menyebutkan drama ini terasa lebih emosional dibandingkan drama lain dengan tema serupa.
Menonton Tunnel membuat saya menyadari bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki hanya karena kita diberi kesempatan kedua. Ada kehilangan yang tetap meninggalkan bekas. Ada penyesalan yang tidak sepenuhnya bisa dihapus. Dan ada orang-orang yang tetap harus belajar melanjutkan hidup meskipun jawaban yang mereka tunggu datang terlambat.
Di balik cerita tentang perjalanan waktu dan pengejaran pembunuh berantai, drama ini sebenarnya berbicara tentang kerinduan, kesempatan kedua, dan usaha manusia untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Jika Sobat Yoursay menyukai drama thriller misteri dengan konsep time-travel, investigasi kriminal yang menegangkan, dan kisah emosional yang mampu menguras perasaan, Tunnel bisa banget masuk watchlist kalian.