Cerita Misteri

Dentingan Sekolah Angker

Dentingan Sekolah Angker
Ilustrasi Ruang Musik Sekolah Berhantu ( Gemini AI )

Esya, salah satu konten kreator eksplor yang sedang naik daunnya terkesima dengan penampakan sekolah yang terbengkalai. Sekilas, sekolah itu nampaknya terbengkalai selama 10 tahun.

Meskipun demikian, sekolah itu masih meninggalkan struktur yang kokoh, seakan awet walau termakan oleh waktu. Maklum jika sekolah tersebut dulunya adalah bangunan peninggalan era Kolonial Belanda.

"Pemirsa, yang kalian lihat di depan, sekolah ini auranya beda banget sama biasanya, yang biasanya rusak atau hancur tapi sekolah ini gedungnya masih utuh" Esya menceritakannya melalui interaksi live yang baru saja ia pencet di akun Tiktoknya.

Sambil melanjutkan, ia menaiki pagar yang lebih rendah dari sebelahnya yang nampak tinggi, pagar tersebut sudah keropos sehingga dengan mudahnya Esya melewati pagar tersebut.

Beruntung, Esya telah mengenakan sepatu yang tebal sehingga karat pagar tidak menyentuh kakinya. "Pemirsa, saat ini jam di HP telah menunjukkan tepat pukul 12 malam. Ngebayangin pas sekolah ini masih ramai, masih ada murid yang melepas canda tawa abis menghadapi pelajaran yang melelahkan. Sayang, semua hanya tinggal kenangan."

Tung!!!

Ditengah dirinya menceritakan suasana sekolah itu, terdengar suara aneh berasal dari lantai 2 sekolah. Suara itu terdengar seperti dentingan piano.

"Kalian dengar sesuatu tak?" Karena Esya adalah konten kreator yang suka berinteraksi dengan pengikutnya, salah satu pengikut menuliskan komentar yang mengejutkan dirinya "Perhatiin deh, barusan aku dengar kaya suara piano"

Sebagai konten kreator eksplor yang tidak menggunakan gimmick, awalnya ia tidak begitu percaya dengan ketikan pengikut tersebut "Tau nggak, katanya nih sekolah gara gara bekas Belanda, pasti ada hantu Noni Belanda tinggal disitu." Sahut pengikut lainnya yang menyaksikan live vlog Esya.

"Gara - gara bangunannya angker, investor sampai ogah beli ini bangunan, kalau pake sesajen nanti dikira percaya logika mistika" Seseorang membalas komentar diatas.

"Karena sekolah ini dulunya peninggalan Belanda, rumor mengatakan ada noni Belanda yang tewas bunuh diri lantaran ditolak cintanya, rumor itu apakah benar? ayo kita eksplor."

"Hati - hati melangkah, takutnya ada ular atau hewan lainnya". Ia memasuki gedung sekolah itu melalui pintu belakang yang kebetulan tidak terkunci, sementara pintu utama tergembok hingga berkarat, lengkap dengan plang "S A 5" dimana huruf M yang seharusnya SMA telah terlepas saking tak terurusnya sekolah itu.

Sementara di dalam ruang musik, Charlotte von Desse seketika memetikkan tangannya ke piano tua di ruang musik yang sudah menemaninya sejak dulu hingga akhir hayatnya, membawakan musik klasik kesukaannya semasa hidup.

"Pemirsa, kita membayangkan tapak kaki guru dan teman - teman kita, juga geng sekolah yang berkumpul santai." katanya sambil meliput lorong sekolah yang berdebu dan penuh sarang laba - laba di langit - langit. Esya makin penasaran dengan asal suara misterius itu.

"Pemirsa, ayo kita ke lantai dua, curiganya suara itu dari salah satu ruang di lantai itu."

Jrettt!!!!

Sekelebat bayangan yang diduga dari arwah penghuni sekolah tiba - tiba menembus tubuh Esya. 

"Tuh kan, pada nggak percaya kalau itu sekolah angker berhantu", "Apa - apaan ini, kenapa vlog nya jadi aneh begini? " Komentar - komentar yang tak percaya kembali muncul di live vlog Esya.

"Kamu siapa? jangan takut, aku takkan menyakitimu." Hantu tersebut yang tak lain ialah Charlotte, seorang Noni Belanda yang menghuni gedung sekolah angker ini. Esya menjadi satu yang terpilih untuk berinteraksi dengan sang penghuni.

"Charlotte, kenapa kamu memilihku? Kau kan hantu, seharusnya kamu nggak bisa melihatku" Esya menaruh rasa curiga pada hantu itu.

"Seharusnya kamu tak perlu menanyakannya. Sebelum wujudku seperti ini, aku pribadi yang sangat selektif. Aku hanya mendekat jika orang tersebut betul - betul tulus. Saya merasakan kalau kau itu tulus berteman." Charlotte hanya tersenyum menanggapi celetukan Esya.

"Kamu ingin pergi ke ruang musik kan? Sini aku antarkan kamu." Charlotte menawarkan Esya untuk menuju ruang musik dimana ruang tersebut adalah tempat tinggal kedua hantu Belanda itu. Pintu tersebut sebenarnya juga terkunci rapat, sama seperti ruang di sebelahnya. Namun Charlotte memberikan akses masuk secara cuma - cuma.

Dalam ruang musik, dipenuhi oleh alat musik tua dan sound system jaman jebot. Dengan rata - rata keluaran 2000an akhir sampai dengan 2010an awal. Persis dengan narasi yang beredar jika gedung tersebut telah terbengkalai sekitar 10 tahun.

Sembari menelusuri seisi ruang, ia meliput kondisi ruangan musik yang penuh debu serta kenangan. Diantara alat musik tersebut, Esya menaruh perhatian dengan piano sekolah yang kondisinya masih utuh juga jernih ketika didentingkan. Mungkin jadi satu - satunya alat musik yang berfungsi cukup baik.

Esya duduk di kursi piano itu dan menghela napas panjang, menceritakan kisahnya semasa hidup.

"Esya, piano ini jadi saksi perjalanan hidupku. Aku sebenarnya sangat ingin menjadi pianis, tapi apa daya ayahku tidak menyetujui keinginanku, walau beliau memiliki latar belakang musisi." Tiba - tiba Charlotte menundukkan kepalanya lalu menangis.

"Kenapa ayahmu tak merestui impianmu? Sebenarnya, kamu berbakat di musik loh." tanya Esya.

"Ayahku walau berasal dari keluarga yang sangat suka musik, ayahku merasa gagal menjadi pianis. Marah dengan kegagalannya lalu Mengubur cita - citanya dan kegagalan itu dilampiaskan padaku. Aku merasa kecewa dengan ayah sehingga aku memutuskan untuk pergi dari rumah lalu tinggal di ruang ini."

"Apakah ayahmu tahu kalau kamu tinggal disini?" Esya bertanya lagi tentang diri Charlotte yang nyaman dengan ruang musik itu.

"Sayangnya, ayahku menyewa mata - mata untuk menghabisiku. Benar saja, mereka tahu tempat persembunyianku lalu menghabisiku."

"Berarti rumor hantu Belanda meninggal karena putus cinta nggak benar dong selama ini? Ternyata karena dibunuh."

"Betul, Esya. Tidak benar kalau karena putus cinta, tahu kan kalau aku itu selektif, tidak mungkin kalau aku suka sama sembarang orang"

Grekkk!!! Krass!!!

Belum berhenti mengobrol, Esya tidak sengaja menginjak lantai ruangan yang rapuh itu, retakan suaranya seketika mengejutkan Charlotte.

Sebuah kerangka yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan bersemayam di dalam lantai itu. Charlotte yang awalnya terkejut seketika melegakannya.

"Esya, terima kasih sudah menemukan jasadku. Sya, aku memilihmu karena aku yakin kalau kamu bisa membantu menemukanku. Karena yang kamu lakukan selama ini tulus." Charlotte seketika menghilang meninggalkan Esya selamanya

Vlog eksplor dihentikan sementara semenjak penemuan makam tersembunyi di dalam ruang musik, Esya menghubungi tim terkait untuk dilakukannya evakuasi jasad yang kemudian dikebumikan dengan layak.

Charlotte hanya menatap gedung tersebut dari jauh dan meninggalkan senyum yang membekas. "Esya, aku percaya padamu kalau kamu memang orang yang tulus membantuku" Batinnya. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda