Cerita Misteri
Perempuan Bergaun Merah dan Jejak di Pos Satpam
Hari pertama bekerja setelah cukup lama menganggur, Rangga datang lebih awal. Ia membawa bekal sederhana: nasi, tahu-tempe goreng, dan sambal kecap buatan ibunya. Dia bekerja sebagai tim keamanan di sebuah kompleks perumahan. Gerbang besi besar berdiri kokoh, di sampingnya terdapat pos satpam kecil dengan dinding kaca di tiga sisi. Sementara di satu sisi lainnya, dinding bata bercat putih setinggi dada, bagian atasnya berupa kaca dengan jendela kecil yang bisa dibuka-tutup.
Dari dalam pos, Rangga dapat melihat jalan utama yang membelah perumahan, deretan rumah dua lantai yang tertata rapi, serta taman kecil di tengah kompleks.
Petugas senior sekaligus kepala tim keamanan bernama Pak Darto menyambutnya dengan ramah. Pria paruh baya berusia sekitar lima puluhan itu bertubuh kurus, berkumis tipis, dan selalu mengenakan topi satpam sedikit miring.
“Kamu Rangga, petugas baru yang kemarin itu, kan?” tanya Pak Darto sembari menyerahkan buku tamu ukuran A4.
“Benar, Pak.”
“Ini buku tamunya. Setiap tamu masuk harus mencatat nama di sini. Setelah buka portal, langsung arahkan mengisi buku. Terus pantau keadaan kompleks lewat CCTV. Nanti setiap dua jam, jangan lupa keliling. Bisa gantian sama Toni.”
Lelaki yang disebut Pak Darto muncul tak lama kemudian. Usianya tampak tak jauh di atas Rangga. Ia memiliki garis wajah santai dengan pembawaan ringan.
“Nah, itu dia orangnya. Saya tinggal dulu, ya, Mas. Selamat bekerja. Semoga betah di sini,” kata Pak Darto sebelum pergi.
“Terima kasih, Pak.”
Toni menyodorkan segelas kopi hangat pada rekan barunya. “Tenang aja, kerja di sini enak. Warganya ramah semua.” Satu tangan lainnya meletakkan plastik besar berisi gorengan. “Ini buat camilan kita. Biar nggak ngantuk.”
Rangga tersenyum sambil menerima. “Wah, terima kasih banyak, Mas.”
Mereka berkenalan dan bertukar canda sembari tetap mengawasi area kompleks melalui CCTV. Hari-hari berlalu sejak pertama Rangga bekerja. Semuanya berjalan lancar. Setiap pagi selalu ada penghuni kompleks yang menyapa sepulang jogging.
“Pagi, Mas Rangga.” Itu Bu Siska. Ia salah satu penghuni yang sering mampir ke pos sambil membawakan camilan. Kali ini, Bu Siska membawa jajanan basah yang tampaknya baru dibeli dari pasar.
“Mas, saya titip paket COD, ya. Ini kembaliannya buat Mas saja.” Dia Bu Maya, warga yang paling sering menerima paket belanja daring.
“Mas, nanti rekan kerja saya kemari. Tolong diarahkan ke rumah saya seperti biasanya, ya.” Pak Rendi, seorang pengusaha yang cukup sering kedatangan tamu.
Obrolan ringan itu membuat Rangga cepat merasa nyaman. Ia mulai hafal beberapa penghuni. Anak-anak yang sering melambaikan tangan saat melewati gerbang bersama orang tua mereka, juga bapak-bapak yang sengaja mampir untuk mengobrol.
Tanpa terasa, sudah dua minggu sejak Rangga memulai pekerjaan barunya. Pagi itu, Pak Darto menghampiri Rangga yang baru saja memasuki pos.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Rangga.
“Pagi. Kamu minggu ini mulai jaga malam sudah bisa, ya? Tugasnya sama seperti sif siang.”
“Insya Allah, bisa, Pak.”
“Oke. Ini jadwalnya. Kamu dapat hari Kamis, gantian sama petugas lain.”
“Siap, Pak.”
Pak Darto sempat terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Oh iya, biasanya malam Jumat ada yang suka ‘mampir’ ke pos. Kalau ada perempuan aneh pakai baju merah, jangan dibukakan portal atau jendela pos, ya.”
Belum sempat Rangga bertanya, Pak Darto sudah berpamitan. Pria itu tampak buru-buru hendak mengantar anaknya ke sekolah. Rangga hanya mengangguk dan menganggap ucapan itu sekadar candaan.
Hari Kamis tiba. Rangga memulai sif malamnya tepat pukul 19.00. Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan masih basah, air sisa hujan sore tadi menggenang di pinggir jalan.
Malam semakin larut. Rangga menyesap kopinya perlahan, menikmati hangat yang menjalar di tenggorokan. Di depannya, monitor menampilkan rekaman CCTV area kompleks. Sesekali ia menyantap gorengan dari Bu Siska.
Namun, kopi tak mampu menahan kantuknya lebih lama. Pukul 00.15, kepala Rangga mulai terangguk. Wajar saja, ia masih beradaptasi dengan jam kerja sif malam. Malam ini pun seharusnya ia berjaga dengan Toni, tetapi lelaki itu izin karena istrinya sakit.
Dengan sisa kesadaran, Rangga merapatkan jaket untuk mengusir hawa dingin yang kian menusuk. Angin berembus pelan. Matanya menyipit saat melihat seorang perempuan bergaun merah berjalan perlahan ke arah pos.
Tok… tok… tok…
Ketukan itu terdengar pelan di kaca.
Tanpa berpikir panjang, Rangga membuka jendela kecil di depannya. Dari dekat, ia dapat melihat wajah perempuan itu lebih jelas. Kulitnya putih pucat, hidungnya mancung, dan rambut hitam legamnya terurai panjang.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanyanya ramah.
Perempuan itu menunduk sambil tertawa pelan.
Suara tawanya membuat bulu kuduk Rangga berdiri.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” ulang Rangga, kali ini dengan suara sedikit lebih pelan.
Perempuan itu masih menunduk. Bahunya bergerak pelan, seperti sedang menahan tawa. Namun perlahan, dia mengangkat wajahnya. Senyumnya melebar. Terlalu lebar. Matanya menatap tanpa berkedip.
“Saya boleh masuk, Mas?”
Rangga ragu. Namun jendela sudah telanjur terbuka. Ia hendak menjawab, ketika perempuan itu tiba-tiba mendekat. Tawa pelan keluar dari mulutnya. Kulit wajahnya berubah pucat. Dari sudut bibirnya mengalir darah. Senyumnya semakin lebar. Tubuhnya perlahan terangkat dari tanah.
Rangga membeku. Perempuan itu melayang tepat di depan jendela. Wajahnya kini mengerikan, penuh darah. Ia tertawa melengking sebelum akhirnya menjauh dan menghilang ke dalam gelap.
Rangga tertegun. Ia mengusap wajahnya. Mungkin ia sempat tertidur. Mungkin itu hanya mimpi. Namun keesokan paginya, di kaca pos satpam terdapat bekas telapak tangan merah darah. Menempel dari luar, tepat di tempat perempuan tadi malam menempelkan satu tangannya.
Lagi-lagi Rangga mendapatkan jadwal sif di malam Jumat. Tengah malam, perempuan itu kembali datang. Dia mengetuk kaca seperti sebelumnya. Namun kali ini, Rangga masih dalam kondisi sadar sepenuhnya; ia juga teringat ucapan Pak Darto waktu itu.
Dia memilih mengabaikan ketukan itu dan fokus menatap monitor. Sayangnya, ketenangan tersebut tak berlangsung lama. Bulu kuduk Rangga seketika berdiri saat mendengar suara napas samar tepat di samping telinganya. Lalu disusul oleh suara perempuan.
“Kok nggak dibuka, Mas? Takut, ya, sama saya?” Suara tawa melengking itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras seolah benar-benar ada di telinganya.
Kepala Rangga terasa berat. Pandangannya mengabur. Dunia di sekelilingnya seakan berputar. Gelap. Rangga pingsan. Dia tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Rekan jaganya malam itu yang baru saja selesai keliling mengira Rangga ketiduran. Saat akan membangunkan Rangga, pandangannya tertuju ke dinding kaca, ia terbelalak kaget saat melihat jejak tangan berwarna merah darah menempel di kaca bagian dalam pos satpam. Beberapa bekas telapak tangan berdarah tampak jelas, seperti seseorang merayap dari luar … lalu masuk ke dalam.
“Dia datang lagi,” ucapnya pelan.