Cerita Misteri

Segelas Air dari Jantung Kekasihku

Segelas Air dari Jantung Kekasihku
Ilustrasi Segelas Air dari Jantung Kekasihku (ChatGPT AI)

Gelas itu hanya belajar untuk membelah diri, tidak benar-benar pecah. Benda itu berada di atas meja jati yang permukaannya mulai mengelupas bagaikan kulit ari jenazah. Berdiri dengan sangat angkuh walau retakan tunggal meliuk dari bibir gelas hingga ke dasar, menyerupai urat nadi yang menonjol di pergelangan tangan seseorang yang tengah menahan amarah sampai menahan air mata di pelupuk matanya. Aku menyebutnya seolah gelas retak, namun sepertinya ia lebih menyerupai sebuah luka yang telah mengering namun menolak untuk sembuh sepenuhnya.

Setiap matahari mulai terbit, ritual itu dimulai. Aku menuangkan air ke dalamnya. Kucuran suara air membentur dasar kaca seolah bisikan parau di dalam ruang hampa. Air itu merembes sangat pelan lalu menetes dari sela retakan sampai membasahi taplak meja hingga pola peta kepulauan terbentuk. Aku cepat-cepat meminumnya, membiarkan lidahku merasakan rasa dingin yang hambar, sekaligus rasa tajam dari pinggiran kaca yang mungkin saja bisa merobek bibirku suatu saat nanti jika aku lengah. Bagiku meminum air dari gelas ini adalah cara paling jujur untuk merawat kehilangan. Jika aku berhenti minum dari gelas ini, maka retakan itu akan benar-benar pecah, dan ia akan hilang.

Aku masih mengingat aroma karbol dan uap panas yang keluar dari celah pintu kamar mandi itu. Pintu yang terkunci adalah sebuah pernyataan perang yang tidak pernah sempat aku balas. Suara air mengalir deras terdengar di baliknya seolah-olah sungai sudah berpindah ke dalam rumah ini. Aku berdiri di depan pintu itu selama berjam-jam, mendengarkan simfoni air yang tidak berhenti juga, tanpa berani melangkah untuk mengetuk. Aku adalah seorang pengecut. Kala itu aku lebih memilih untuk percaya bahwa mungkin ia sedang mandi dengan sangat lama, membersihkan segala debu dan kotoran dunia dari kulitnya yang pucat, daripada mengakui bahwa air itu mungkin sedang membasuh sesuatu yang lebih merah dan kental dari sekadar sabun yang selalu ia gunakan.

Kami adalah dua orang yang dipertemukan oleh takdir di sebuah halte tua yang selalu berbau besi dan karat. Hubungan kami perlahan tumbuh dalam ruang-ruang kosong di antara kalimat yang tidak pernah selesai diucapkan. Aku melihat ia selalu duduk dengan punggung yang tegak, namun matanya selalu terlihat seperti sumur tua yang airnya telah lama mengering.

“Minumlah ini,” katanya sore itu, menyodorkan sebotol air mineral yang embunnya membasahi jemarinya.

“Ini kan punyamu,” jawabku ragu.

Ia mengangkat bahu. “Airnya bukan punya siapa-siapa.”

Saat itu aku mengangguk, lalu meneguk air yang ia berikan kepadaku. Ia tidak pernah suka kopi. Katanya kopi itu pahit, ia juga tidak menyukai teh karena ada rasa sepet yang aneh.

“Tapi kalau air?” tanyaku kala itu.

Ia tersenyum, mata indahnya sedikit menyipit. “Aku menyukainya.”

“Karena?”

“Air itu jujur.”

“Jujur bagaimana?”

“Karena air tidak berpura-pura menjadi apa pun. Tetapi tanpa air, semua akan mati. Ia juga selalu memenuhi ruang yang kosong tanpa banyak protes.”

Waktu itu aku tidak langsung mengerti, hanya mengangguk seolah paham dengan ucapannya. Bahkan juga tidak banyak bertanya. Aku selalu seperti itu, mengangguk terlebih dahulu baru memahaminya belakangan. Bahkan saat itu, aku tidak menyadari bahwa ia sedang membicarakan dirinya sendiri—sebuah wadah yang dipaksa untuk menampung segala kesedihan hingga meluap, sementara aku hanya menjadi penonton yang selalu duduk di bangku paling depan, menikmati pemandangan tanpa niat membantu mematikan keran air emosi yang selalu memenuhinya.

Ada tanda-tanda yang seharusnya kubaca seperti naskah sebuah drama yang buruk. Tatapannya yang sering kali tertahan di satu titik kosong, napasnya yang terasa sangat berat seolah oksigen di sekitar kami sedang menipis, dan jawaban-jawabannya yang selalu memutar jauh dari inti pertanyaan. Ia seolah teka-teki yang sengaja tidak ingin kupecahkan. Selalu saja aku takut jika tahu jawabannya, aku tidak akan menyukai apa yang telah kutemukan. Dengan sukarela aku memilih untuk menjadi buta. Dalam diamku, aku seperti arsitek yang merancang kehancurannya sendiri.

Suatu hari, sebelum ia benar-benar menjadi hantu dalam kepalaku yang berat ini, ia memberiku sebuah gelas retak itu. Tangannya gemetar seperti membawa sebuah gelas yang beratnya berton-ton.

“Mau aku ada atau tidak, kau harus tetap minum air, ya,” bisiknya dengan suara yang kering, seperti daun yang terinjak.

“Kenapa kau berbicara seperti itu?” tanyaku, tetap dengan nada datar yang sangat terkutuk itu.

“Karena kalau aku bercerita sepenuhnya, kau pasti akan pergi,” jawabnya singkat.

Kala itu aku ingin membantah. Aku ingin mengatakan bahwa meski suatu saat ia berubah menjadi monster sekalipun, aku akan tetap tinggal. Namun lidahku terlalu kelu. Di dalam kepalaku, sebuah suara kecil membenarkan ucapannya: Ya, jika aku tahu betapa rusaknya kau di dalam sana, aku pasti akan lari mencari tempat yang lebih tenang. Aku belum siap menjadi penyelamat. Aku hanya ingin menjadi kekasih di hari-hari yang cerah, bukan seperti payung di tengah badai yang tidak kunjung reda. Dan ia tahu betul tentang itu. Ia membacaku lebih baik daripada aku membaca diriku sendiri.

Lalu ia menghilang. Bukan seperti sulap, namun seperti embun yang terserap ke tanah. Ia tidak akan pernah datang lagi ke halte itu, tidak akan ada lagi di sekitarku. Aku tidak mencarinya, aku tidak meneleponnya, aku tidak bertanya kepada siapa pun tentang di mana nisan yang memahat namanya. Aku sengaja memelihara penyangkalan seperti halnya memelihara tanaman hias yang beracun di teras rumah. Aku tahu ia mematikan, namun aku suka warnanya. Meski bau karbol dan bayangan air yang meluap dari celah pintu kamar mandi itu masih terus menghantuiku, aku malah memilih untuk terus membangun dinding di dalam kepalaku.

Bagiku selama aku tidak melihat tubuhnya ditimbun tanah, maka kejadian di balik pintu terkunci itu hanyalah sebuah potongan mimpi buruk yang gagal kuselesaikan. Aku selalu menolak kabar duka yang resmi. Telingaku seakan tuli dari bisik-bisik tetangga. Penyangkalan yang kulakukan bagaikan rasa candu yang paling nikmat, yang sanggup membekukan waktu tepat sebelum tragedi itu benar-benar menjadi nyata. Dalam kepalaku, ia tidak sedang mati; ia hanya sedang mandi dengan sangat lama, atau mungkin sedang pergi ke toko sebentar dan terjebak macet yang tak berkesudahan.

Setiap hari aku tetap setia pada gelas retak itu. Air yang selalu merembes keluar dari sela retakannya menggambarkan waktu demi waktu yang terbuang sia-sia. Aku merasa bahwa dengan meminum sisa air yang belum sempat menetes, aku sedang menebus dosaku karena tidak hadir setiap kali ia membutuhkanku. Namun nyatanya itu hanyalah kebohongan lain. Aku hanya sedang merayakan kegagalanku sendiri.

Titik balik itu datang suatu malam yang terasa sangat sunyi, ketika suara tetesan air dari keran dapur terdengar seperti detak jantung yang besar. Tik. Tik. Tik.

Aku menatap gelas retak di meja. Tiba-tiba, aku melihat bayangan wajahnya di sana. Setelah bayangan itu menghilang, aku tidak melihat kenangan tentang halte dan hari-hari ketika kami bersama. Aku hanya melihat pantulan diriku sendiri yang terlihat asing. Mataku terlihat bagaikan lubang hitam yang siap menelan apa saja. Di detik itulah, tirai penyangkalan itu perlahan robek.

Aku menyadari bahwa aku bukan sekadar orang yang berduka. Aku adalah bagian dari tragedi itu sendiri. Diamku bukan sekadar memberi ruang, melainkan sebuah pengabaian yang terencana. Aku memang akan pergi jika dia bercerita. Aku adalah pengecut yang lebih mencintai kenyamanan daripada mencintai manusia dengan benar. Pengakuan itu rasanya seperti meminum air raksa; terasa panas, berat, mematikan semua saraf dalam diriku.

Keesokan harinya aku mengambil gelas retak itu. Aku menatap retakannya untuk terakhir kalinya. Aku tidak akan membantingnya. Aku hanya meletakkannya di sudut paling dalam di lemari, di tempat yang tidak terjangkau oleh cahaya, bahkan oleh diriku. Setelah itu aku mengeluarkan sebuah gelas baru, gelas yang utuh tanpa cacat.

Aku mengisinya dengan air bersih. Aku meminumnya bukan lagi untuk mengingatnya, bukan untuk menghukum diriku sendiri, tapi karena tubuhku memang membutuhkannya untuk tetap hidup. Aku harus belajar untuk hidup dengan beban bahwa aku pernah gagal menyelamatkan seseorang, tanpa harus ikut mati bersamanya.

Sore itu, aku kembali ke halte. Langit di atas sana mendung, namun hujan belum turun. Aku membawa dua gelas. Satu berisi air jernih yang tenang bagaikan diriku yang sekarang. Satu lagi adalah gelas kosong seperti sebuah ruang yang dulu pernah menjadi miliknya. Aku meletakkan gelas kosong itu di sampingku. Aku tidak mengisinya dengan air. Aku tidak lagi mencoba menghidupkan kembali apa yang sudah mati. Gelas itu tetap kosong, sebagaimana ia membawa seluruh rahasianya ke liang lahat. Perlahan aku menyesap air dari gelasuku sendiri, membiarkannya mengalir di tenggorokan untuk membasuh rasa sesak yang selama ini bersarang di dalam sana.

Aku tidak akan lagi menunggu. Aku menerima bahwa air tidak selalu berarti kehidupan, karena terkadang ia adalah perantara untuk melepaskan. Air tidak akan menyembuhkan luka, ia hanya mengalir melewatinya. Ia tidak mengembalikan yang hilang, ia hanya menghapus jejak kaki di atas pasir. Di halte ini, di bawah langit yang berwarna abu-abu seperti mata kekasihku, akhirnya aku berhenti menjadi pengecut. Aku membiarkan air itu mengalir, sebagaimana ia seharusnya, tanpa pernah berusaha menahannya lagi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda