Cerita Fiksi
Koleksi Wajah di Tas Ayah
Ayah pulang malam ini dengan wajah yang sangat berbeda. Keriput di wajahnya lebih dalam dari kemarin, terasa seperti karet saat aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku. Itu permainan kami sejak kecil ketika wajahnya selalu kusentuh seperti biasa. Ayah juga tidak keberatan apabila wajahnya kuraba perlahan seolah sedang membaca buku yang sama, namun halamannya selalu berubah.
"Hari ini ayah syuting film baru," katanya sambil tertawa kecil. "Hari ini ayah menjadi kakek yang meninggal di rumah sakit."
Aku mengangguk paham. Detik berikutnya, ia meletakkan segepok uang di meja makan seperti hadiah besar dari kerja kerasnya memainkan sebuah pertunjukan yang tidak pernah bisa kutonton.
Rumah kami terlalu sunyi untuk sebuah rumah yang katanya dihuni oleh seorang aktor. Televisi tidak pernah menyala, radio pun tidak pernah ada wujudnya, dan ponsel yang selalu digenggam seluruh manusia tidak pernah bisa kugenggam. Hanya terdengar suara-suara kecil yang selalu sama setiap malam seperti suara derit ritsleting tas ayah diikuti berat napasnya. Seolah pekerjaan menjadi aktor figuran jauh lebih melelahkan dari apa yang biasa ia ceritakan.
Dari dalam tas kulit yang sedikit usang itu, selalu muncul sesuatu yang berharga. Buku baru yang kuinginkan, sepatu baru yang teramat cantik. Kadang, berlembar-lembar dan segepok uang yang terlalu banyak untuk ukuran orang yang katanya hanya muncul beberapa detik di layar.
Malam ini ketika ayah berdiri di depan cermin sembari melepas keriput palsu dari wajahnya, sesuatu terlihat berkilau di pergelangan tangannya. Sebuah jam tangan logam yang menakjubkan. Pikirku, jam tangan itu terlihat terlalu mahal jika hanya dipakai oleh seorang kakek figuran yang berakhir mati di film drama.
Ayah menyadari bahwa aku sedang menatapnya, lalu ia cepat-cepat menarik lengan bajunya.
"Properti film," katanya cepat. "Terkadang para kru lupa untuk mengambilnya kembali."
Ia melebarkan senyum. Namun, menurutku kali ini senyum ayah berbeda dan datang sedikit lebih lambat daripada biasanya.
Sejak kecil aku selalu percaya kepada ayah. Bahwa dunia film adalah tempatnya berkecimpung mencari uang selama ini. Bahwa wajahnya sering berubah karena riasan. Bahwa keriput, rambut, dan janggut palsu adalah bagian dari berbagai perannya yang berbeda.
Aku selalu percaya sebab aku ingin memercayai satu-satunya orang yang menyayangiku. Karena ayah juga tidak pernah mengingkari janjinya.
Jika aku menginginkan buku, buku itu muncul. Jika aku ingin sepatu baru yang teramat bagus dan cantik, benda itu akan ada di meja keesokan harinya. Bahkan, ketika aku bercanda ingin membeli sebuah sepeda mahal yang kulihat terpampang di toko kota, ayah benar-benar membelinya untukku.
Namun, di antara semua yang kuinginkan, ada satu syarat yang ayah ajukan dan aku harus menuruti permintaannya dengan tulus: aku tidak boleh menyentuh berbagai benda elektronik.
"Kenapa kita tidak punya televisi?" tanyaku waktu itu kepada ayah ketika ia sedang menata sesuatu di dalam tasnya.
"Karena televisi membuat orang malas membaca."
"Bagaimana dengan ponsel? Semua temanku memilikinya. Zaman sekarang semua orang memiliki ponsel."
"Karena ponsel membuat orang lupa bicara."
Jawaban ayah selalu sederhana. Entah kenapa, hal itu selalu membuatku mengangguk mengiyakan perkataannya dan membuatku berhenti menanyakan pertanyaan yang sama.
Rumah kami tetap terasa sunyi. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik, suara sendok garpu berdenting menabrak piring, dan langkah kaku ayah setiap malam.
Tok... tok... tok...
Suara tongkat kayu yang kadang ayah bawa pulang ketika lagi-lagi memainkan peran orang tua.
Hari ini ketika langit meneteskan airnya, aku menatap pintu rumah berharap ayah akan segera pulang. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku yang kedelapan belas.
Ayah menepati janjinya untuk pulang lebih awal daripada biasanya. Kali ini wajahnya bersih tanpa keriput dan janggut. Ia segera datang menghampiriku dan menaruh sebuah kotak kecil di meja.
"Apa yang kamu inginkan tahun ini?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. Sebenarnya aku sudah memikirkan jawabannya sejak lama, namun aku ragu apakah ayah mau mengabulkannya.
"Eumm... Aku ingin melihat ayah bekerja."
Sesuai dugaan, ayah terdiam lama sekali. Bahkan, aku bisa mendengar suara air hujan yang menabrak benda apa saja yang dijatuhinya.
"Ayah kan aktor," tambahku pelan. "Aku ingin melihat ayah syuting film, ayah pasti sangat keren."
Ayah masih menatapku, ia terlihat seperti sedang berpikir keras sebelum akhirnya menjawab, "Figuran tidak menarik untuk ditonton."
"Bagaimanapun itu ayah sangat keren! Aku tetap ingin melihatnya!"
Ayah mulai menggenggam kedua tanganku, lalu tersenyum.
"Baiklah," katanya pada akhirnya. "Kalau itu memang yang kamu inginkan, ayah pasti akan mengabulkannya."
Dua hari kemudian kami pergi ke kota. Ayah bilang sebelum pergi ke tempat syuting, kami bisa berjalan-jalan dulu karena sudah lama tidak melakukannya. Ia membawaku ke sebuah gedung besar yang katanya baru saja dibuka di pusat kota. Di dalam gedung tersebut, orang-orang sangat ramai. Acara utamanya adalah pameran benda-benda berharga bersejarah. Ada banyak buku kuno, perhiasan, dan batu-batu berkilau di balik kaca yang dijaga serta diawasi ketat oleh beberapa orang berseragam rapi. Orang-orang berjalan perlahan sambil mengagumi kilauan emas dan berlian. Selain itu, ada pula berbagai bazar makanan yang tak kalah ramai dikerumuni pengunjung.
"Indah sekali ya!" kata ayah.
Aku mengangguk mengiyakan. Cahaya lampu di atas ruangan besar ini sangat indah bagaikan langit malam yang dipenuhi oleh bintang. Kulihat di tengah ruangan ada etalase kaca yang cukup besar. Terdapat sebuah kalung berlian cantik yang begitu berkilau.
Aku dan ayah memandang benda menakjubkan itu dari kejauhan. Lalu, ayah menoleh kepadaku.
"Kamu bisa menunggu ayah sebentar?" tanyanya. "Ayah ingin membelikanmu sesuatu."
"Aku mau ikut saja," jawabku.
Namun ayah menggeleng, "Tidak usah. Antreannya panjang sekali."
Sebelum aku bisa menjawab, ia menepuk bahuku pelan dan segera beranjak.
"Jangan ke mana-mana ya, tunggu ayah!"
Aku mengangguk sembari tersenyum, lalu kembali mengamati berbagai benda menakjubkan yang ada di pameran ini.
Orang-orang berkerumun dan terus bergerak di sekelilingku. Kulihat beberapa turis sedang mengambil gambar. Petugas berseragam juga masih berjalan mondar-mandir menjaga keamanan dengan wajah serius.
Ayah masih belum kembali sejak dua menit berlalu. Waktu selalu terasa begitu lama jika seseorang menyuruh untuk menunggu. Lalu tiba-tiba, lampu-lampu yang seperti bintang itu berkedip beberapa kali. Sekali, dua kali, tiga kali, cukup membuat beberapa petugas berseragam berlari ke arah sakelar dan panel kontrol. Orang-orang mulai bertanya-tanya dan di antara mereka tampak terkejut. Kejadian itu berulang beberapa kali hingga lampu benar-benar padam dan alarm keamanan segera berbunyi nyaring, membuat orang-orang mulai bersorak dan bergumam bingung.
Ketika lampu kembali menyala, semuanya terasa sangat cepat. Kulihat seorang kakek tua berdiri di dekat etalase kaca kalung berlian. Ia membawa sebuah tongkat, punggungnya membungkuk, dengan kerut wajah dan rambut putih kusamnya yang terlihat lusuh membuatku langsung teringat akan sesuatu.
Beberapa petugas belum kembali ke tempatnya, dan beberapa dari mereka yang masih di tempat hanya sempat melirik kakek itu sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. Mungkin pikir mereka, tidak ada alasan untuk mencurigai seorang kakek yang bahkan terlihat kesulitan berjalan.
Kuperhatikan lagi, kakek itu semakin mendekat ke etalase dengan pelan. Tongkatnya menyentuh sudut bawah kaca, tidak terlihat memukul, namun seperti menempel cepat sekali hingga etalase tersebut terangkat sedikit, tetapi cukup untuk dimasuki sebuah tangan.
Petugas keamanan yang menyadarinya langsung mendekat. Namun, hanya dalam sekejap mata, entah mengapa kakek tua itu sudah mengambil kalung berlian dan alarm keamanan kembali berdenting nyaring memekakkan telinga. Kerumunan langsung pecah. Beberapa dari mereka berteriak, beberapa mundur, dan beberapa justru maju karena penasaran.
Aku maju karena penasaran. Kulihat kakek tua itu bergerak dengan tongkatnya sangat cepat, jauh berbeda dari keadaannya tadi hingga petugas kewalahan mengejarnya. Ia bahkan berhasil menyelinap di antara orang-orang yang panik.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan tongkatnya terdengar samar, namun terlalu familier hingga membuatku terdiam. Aku pernah mendengarnya setiap malam, di rumah.
"Ayah?"
Aku berlari dari kerumunan karena berpikir ayah mungkin akan kebingungan menemukanku. Namun yang terjadi, aku malah seperti membuntuti kakek tua itu. Hanya sepersekian detik, kakek tua itu menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku melihat sesuatu yang membuat jantungku terasa berhenti. Sebuah jam tangan logam berkilau di pergelangan tangannya.
Sebelum aku sempat berteriak, kakek tua itu seperti lenyap begitu saja dari pandanganku.