Kolom

Bukan Sekadar April Mop, Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen: Sanggupkah UMKM Kita Bertahan?

Bukan Sekadar April Mop, Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen: Sanggupkah UMKM Kita Bertahan?
Ilustrasi Pedagang Kecil (Pexels/Jeffry Surianto)

Siang itu matahari terasa sedang panas-panasnya saat saya mampir ke sebuah kedai jus langganan di pinggir jalan. Biasanya, Mas penjual jus akan langsung memberikan kantong plastik ganda sesuai permintaan agar esnya aman saat digantung di motor. Namun, kali ini berbeda. Di depan gerobaknya terpampang kertas kumal bertuliskan: "Maaf, kantong plastik sekarang bayar Rp500 atau bawa kantong sendiri."

Wajah Mas penjual terlihat tidak enak hati ketika saya menanyakan alasannya. Sambil mengemas pesanan saya, dia mulai bercerita kalau modalnya sekarang habis di "bungkus". Uang lima ratus rupiah mungkin tampak sepele bagi sebagian orang termasuk saya, namun baginya itu adalah cara terakhir agar usahanya tidak gulung tikar. Saya melihat keresahan yang sama di wajah pedagang gorengan dan penjual nasi uduk di sepanjang jalan pulang. Ini adalah sebuah keresahan tentang sesuatu yang sering kita buang begitu saja: plastik.

Mungkin bagi kita, plastik hanyalah benda sekali pakai yang nasibnya akan berakhir di tempat sampah. Namun, bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), plastik bukanlah sekadar aksesori. Plastik adalah "napas" operasional. Kini napas itu terasa sesak karena harga plastik tak lagi bersahabat. Perubahan kecil pada harga eceran plastik ternyata berdampak besar, seolah-olah menjadi beban baru yang mengikis keuntungan yang sebenarnya sudah tak seberapa.

Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Melansir dari LBS, sebuah platform industri dan ekonomi, kenaikan harga bahan baku plastik disebabkan oleh melonjaknya harga minyak dunia serta gangguan pada rantai pasokan global. Mengingat salah satu bahan baku plastik adalah minyak, fluktuasi harga energi global otomatis akan berpengaruh dan "mencekik" harga kantong kresek serta berbagai benda berbahan plastik di pasar lokal.

Ironisnya lagi, kenaikan harga plastik tidak main-main. Mengutip laporan dari Jawa Pos, biaya produksi plastik melonjak drastis antara 25 hingga 50 persen tergantung rantai distribusi dan jenis polimernya. Angka kenaikan ini sangat mencekam sehingga para pedagang terjebak dalam dilema yang menyakitkan: jika menaikkan harga jual, pelanggan yang sensitif harga pasti akan berpikir lagi untuk beli dan bahkan ada yang kabur. Namun, jika harga tetap, mereka para penjual justru akan menanggung biaya operasional yang kian membengkak.

Di lapangan, saya melihat para pedagang mulai putar otak dan melakukan berbagai cara demi bertahan hidup. Ada yang mulai mengurangi kualitas plastik menjadi lebih tipis dan mudah robek, ada pula yang memberanikan diri meminta pelanggan untuk membawa wadah sendiri. Transisi ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai konsumen, sering kali kita tidak siap dengan perubahan ini. Kita masih ingin kenyamanan tanpa harus repot membawa tas belanja, sementara pedagang kecil harus menanggung ketidakpuasan kita.

Kalau melihat situasi ini dari kacamata positif, sebenarnya lonjakan harga plastik bisa menjadi momentum yang bermanfaat untuk mulai berganti ke kemasan yang ramah lingkungan. Namun, mari kita berpikir realistis sejenak. Kemasan berbahan kertas atau singkong saat ini harganya lebih mahal dibanding plastik biasa. Bagi UMKM dengan modal pas-pasan, beralih ke eco-friendly tanpa subsidi adalah sebuah kemewahan yang masih sulit dicapai. Transisi ini tidak akan bisa dicapai hanya dalam semalam jika tidak ada ikut campur tangan pemerintah.

Tentu saja peran pemerintah sangat penting di sini. Kita tidak bisa hanya menuntut UMKM untuk "go green" tanpa memberikan jaring pengaman. Subsidi bahan baku alternatif atau pelatihan penggunaan kemasan ramah lingkungan yang murah sangat dibutuhkan untuk saat ini. Tanpa keterlibatan yang nyata, jangan heran jika nantinya satu per satu usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi kita akan gulung tikar hanya karena masalah sepele bernama kantong plastik.

Dari selembar kantong plastik kita bisa melihat betapa rapuhnya rantai ekonomi rakyat kita. Pertanyaannya sekarang, akankah kita tetap diam melihat mereka berjuang sendirian, atau kita harus mulai adaptasi dengan membawa wadah sendiri dari rumah?

Keberlanjutan UMKM bukan hanya tanggung jawab mereka yang berjualan, tapi juga tanggung jawab kita sebagai konsumen. Mari berhenti mengeluh saat diminta membayar lebih untuk sebuah plastik, atau lebih baiknya lagi mulailah peduli sebelum usaha kecil favorit kita akan hilang dari peredaran. Sanggupkah kita berubah, atau harus menunggu sampai semua pedagang kecil menyerah? 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda