Cerita Misteri

Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir

Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir
Ilustrasi pengawal tikungan angker di Gunung Gumitir (Gemini AI/Nano Banana)

Kabut turun semakin tebal di tikungan Watu Gudang malam itu, seperti tirai tipis yang perlahan menutup dunia dari penglihatan manusia. Gerimis masih menggantung, membentuk butiran kecil yang menempel di ujung daun dan jatuh satu per satu dengan ritme yang tidak teratur, seperti detak jantung yang mulai kehilangan kendali.

Solikhin berdiri di tepi jalan, senter di tangannya menembus kabut dengan cahaya yang tampak lemah. Peluitnya sesekali berbunyi, memecah sunyi, memberi aba-aba pada kendaraan yang masih terjebak sisa kemacetan. Truk sembako yang bannya pecah kini hampir selesai ditangani, namun suasana justru terasa semakin tidak wajar.

Angin berhenti. Benar-benar berhenti. Tidak ada lagi gesekan daun, tidak ada lagi suara serangga. Hutan yang tadi hidup mendadak seperti membeku. Di dalam kebekuan itu, muncul sesuatu yang jauh lebih mengganggu, kesunyian yang terlalu dalam.

Solikhin menelan ludah. Ia sudah sering melewati malam-malam sunyi. Tapi ini berbeda. Ini bukan sekadar sepi. Ini seperti sesuatu yang sedang menunggu.

Ia mencoba kembali fokus. Mengangkat tangannya, memberi isyarat pada sebuah mobil untuk maju perlahan. Namun, di sela-sela gerakan itu, ia merasa ada yang mengawasinya.

Bukan dari jalan. Namun, dari hutan. Dari arah pohon tua berusia ratusan tahun tempat motornya diparkir.

Ia tidak langsung menoleh. Tubuhnya seperti menolak. Tapi rasa penasaran dan ketakutan perlahan memaksanya. Dengan gerakan kaku, ia memutar kepala.

Gelap. Pohon besar itu berdiri diam, batangnya basah oleh lumut, cabangnya menjulur seperti tangan yang siap mencengkeram siapa saja yang terlalu dekat.

Namun kali ini ada yang berbeda. Di balik batang pohon itu, sekilas, ia melihat sesuatu bergerak. Cepat. Seperti bayangan yang tidak ingin terlihat.

Solikhin langsung mengarahkan senter ke sana. Kosong. Tidak ada apa-apa. Hanya batang pohon dan akar yang menjalar seperti ular mati.

Ia menghembuskan napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi. Tapi sebelum ia sempat berpaling...

“Cklek,” tiba-tiba lampu motornya menyala. Lebih terang dari sebelumnya. Solikhin membeku.

Cahaya dari lampu itu menyorot lurus ke arahnya, menciptakan bayangan panjang yang jatuh ke aspal. Namun yang membuatnya merinding bukan lampunya. Melainkan bayangan itu. Bayangan yang seharusnya hanya satu menjadi dua.

Solikhin menatap tanah. Ada dua bayangan berdiri di sana. Yang satu jelas miliknya. Yang satu lagi, berdiri tepat di belakangnya.

Dengan gerakan sangat lambat, ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tapi bayangan kedua itu masih ada.

Perlahan, bayangan itu mengangkat tangan. Mengikuti gerakan Solikhin. Tapi, dengan jeda. Seolah tidak sepenuhnya terikat padanya.

Napas Solikhin tercekat. Tubuhnya dingin. Ia ingin berteriak, tapi suaranya seperti terkunci di tenggorokan. Lalu...

“Brmmm…!”

Motor itu hidup sendiri. Lebih keras. Lebih kasar. Dan tiba-tiba, setang motor itu bergerak sendiri. Berputar, pelan. Menghadap langsung ke arah Solikhin.

Lampunya menyilaukan. Dan di balik cahaya itu, sesaat ia melihat sesuatu. Sosok tinggi kurus, dengan kepala miring, seperti lehernya patah. Matanya kosong, namun mulutnya tersenyum.

Senter di tangan Solikhin jatuh.

Gelap. Hanya tersisa cahaya motor yang berkedip-kedip.

Saat cahaya itu redup sesaat, sosok itu menghilang. Namun ketika terang kembali, sosok itu sudah lebih dekat. Berdiri di samping motor. Dan perlahan mengangkat tangan. Memberi isyarat awe-awe. Gerakan yang sama seperti yang biasa dilakukan Solikhin.

Tubuh Solikhin gemetar hebat. Ia mundur tanpa sadar. Langkahnya goyah. Dan ketika ia berkedip, sosok itu sudah tidak ada. Motor kembali mati. Sunyi kembali menguasai.

Namun sesuatu telah berubah. Udara terasa lebih berat. Dan Solikhin tidak lagi merasa berada di tempatnya sendiri.

Ia kembali ke jalan dengan langkah tergesa, menyelesaikan tugasnya dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan. Tapi sepanjang malam itu, ia merasa setiap gerakannya diawasi, bahkan ditiru.

***

Ketika ia tiba di rumah dan menceritakan semuanya kepada saudara dan tetangganya, ruang tamu itu menjadi dingin. Sahmo yang mendengar cerita itu terlihat pucat, jauh lebih pucat dari yang lain.

“Aku dulu nggak percaya,” kata Sahmo lirih. “Tapi aku ngalamin sendiri.”

Semua orang terdiam.

“Waktu itu, motorku tiba-tiba ada di atas pohon,” lanjutnya. “Tapi bukan itu yang paling menakutkan.”

Solikhin menatapnya.

“Terus?”

Sahmo mengangkat wajahnya perlahan. “Aku lihat, ada seseorang di bawah pohon itu.”

“Siapa?”

Sahmo menggeleng pelan.

“Awalnya aku kira orang lagi bantu lalu lintas. Pakai rompi. Bawa senter.”

Napas Solikhin tertahan.

“Tapi, waktu aku panggil,” suara Sahmo bergetar, “…dia nggak jawab.”

Ruangan sunyi.

“Aku dekati,” lanjutnya, “Dan waktu dia berbalik…”

Sahmo menutup matanya, “Wajahnya bukan manusia.”

Kemudian tidak ada yang berani bicara. Hanya suara angin yang kembali terdengar dari luar. Solikhin duduk diam. Pikirannya berputar.

Bayangan, gerakan, dan sosok yang meniru, seolah menemaninya hadir dalam perbincangan itu. Perlahan, kesadaran itu datang.

Selama ini, mungkin benar ada yang mengikutinya. Namun bukan seperti yang ia kira. Bukan untuk menyelamatkan. Melainkan untuk menggantikan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa suatu saat nanti, ketika kabut turun lebih tebal, ketika ia berdiri terlalu lama di tikungan itu, ketika tidak ada lagi yang memperhatikannya, mungkin yang mengatur lalu lintas di sana bukan lagi dirinya. Tapi, sosok kedua.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda