Kolom

Mengenal Desil 1 sampai 10: Penentu Nasib Bansos dan KIP Kuliah yang Sering Salah Sasaran

Mengenal Desil 1 sampai 10: Penentu Nasib Bansos dan KIP Kuliah yang Sering Salah Sasaran
Ilustrasi Desil Mempengaruhi Ekonomi Keluarga (pexels.com/Muhammad Muktar)

Desil 1 sampai 10 mungkin terdengar seperti istilah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, beberapa angka di layar kini bisa menentukan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, karena bisa menentukan apakah sebuah keluarga berpeluang menerima bantuan sosial, masuk dalam kelompok kesejahteraan tertentu, atau bahkan memenuhi salah satu kriteria administratif untuk memperoleh bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah.

Masalahnya, angka tidak selalu mampu langsung menangkap perubahan hidup seseorang. Ada keluarga yang merasa hidupnya serba pas-pasan, tetapi mendapati dirinya tercatat pada desil yang lebih tinggi. Sebaliknya, ada pula data yang berubah drastis karena kondisi sosial ekonomi di lapangan belum diperbarui. Ketika kesalahan klasifikasi terjadi, persoalannya bukan sekadar salah angka. Dampaknya bisa sampai pada bansos yang tidak diterima atau kesempatan pendidikan anak yang ikut terhambat.

Sebenarnya apa Itu desil 1 sampai 10? Agar tidak salah memahami, desil bukan ukuran langsung bahwa seseorang miskin atau kaya. Badan Pusat Statistik menjelaskan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga.

Sederhananya, keluarga dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga. Desil 1 menggambarkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok relatif paling tinggi.

BPS tidak hanya melihat peningkatan penghasilan, desil juga melihat berbagai aspek sosial ekonomi, seperti kondisi rumah, sumber air minum, listrik, aset, pendidikan, pekerjaan, ukuran keluarga, kesehatan, dan kondisi disabilitas. Selanjutnya, posisi kesejahteraan keluarga dihitung dengan mengolah data dengan teknik statistik Proxy Means Test.

Akibatnya, sulit untuk mengatakan dengan cepat, "Penghasilan keluarga kecil, berarti pasti desil 1." karena sistem dapat melihat berbagai variabel sekaligus. Namun, pemetaan menjadi lebih sulit dengan metode ini. Namun, kompleksitas ini juga menyebabkan masalah ketika data yang digunakan tidak lagi sesuai dengan perubahan di seluruh dunia.

Ketika Kehidupan Berubah, tetapi data tertinggal dari penyebab salah klasifikasi membuat orang yang mencari nafkah seperti petani, buruh, guru malah terdata sebagai desil 8 sampai 10 yang membuat tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Hal ini membuat kondisi keluarga berubah, tetapi data dalam sistem belum tentu berubah pada hari yang sama.

Di sinilah jarak antara data dan kenyataan bisa muncul. Kasus yang menjadi perhatian publik pada Agustus 2026 memperlihatkan persoalan tersebut. BPS melakukan pengecekan terhadap data seorang warga Kulon Progo yang posisi desilnya berubah dari desil 1 menjadi desil 9. Setelah dilakukan pemeriksaan lapangan, BPS menyatakan bahwa informasi sebelumnya belum mencerminkan kondisi terkini dan kemudian melakukan proses pemutakhiran data.

Kasus seperti ini penting karena menunjukkan satu hal bahwasanya desil bersifat dinamis, tetapi perubahan kehidupan manusia sering kali lebih cepat daripada pembaruan datanya. 10 Juli 2026 lalu, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 mencakup sekitar 290,13 juta data individu dan 95,98 juta data keluarga. Dengan cakupan sebesar itu, pemerintah memang menghadapi pekerjaan yang sangat besar untuk memastikan setiap perubahan kondisi masyarakat dapat terus diperbarui.

Namun, besarnya skala pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan kesalahan data terus berdampak pada warga yang membutuhkan. Salah data Desil, membuat anak bisa Kehilangan peluang beasiswa. Salah satu dampak paling sensitif dari data desil adalah akses pendidikan.

Pada program KIP Kuliah 2026, salah satu bukti keterbatasan ekonomi adalah terdata dalam DTSEN hingga maksimum desil 4. Memang, calon mahasiswa yang tidak memenuhi kriteria tersebut masih dapat mengikuti mekanisme lain apabila memenuhi persyaratan ekonomi yang ditetapkan. Namun, posisi desil tetap menjadi salah satu rujukan penting dalam proses administrasi.

Kesalahan klasifikasi ini membuat seorang anak mungkin memiliki kemampuan akademik yang baik dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Namun, ketika data keluarganya tercatat pada desil yang tidak sesuai, keluarga tersebut berpotensi harus menghadapi proses pembuktian tambahan atau bahkan kehilangan kesempatan yang seharusnya lebih mudah diakses.

Masalahnya bukan berarti BPS sengaja salah menaruh masyarakat miskin ke kelompok atas. Pernyataan seperti itu perlu dihindari karena proses penentuan desil melibatkan data dari berbagai sumber dan metode statistik. Kritik yang lebih tepat adalah mempertanyakan akurasi, kecepatan pemutakhiran, dan mekanisme koreksi ketika masyarakat menemukan ketidaksesuaian.

BPS menyebut masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran melalui kanal resmi, termasuk Cek DTSEN, aplikasi atau situs Cek Bansos, serta melalui operator desa atau kelurahan menggunakan SIKS-NG. Pengajuan pembaruan memang tidak otomatis mengubah posisi desil karena data akan diverifikasi dan dihitung kembali.

Data memang angka statistik, tapi dampaknya sangat personal. Data terbaru BPS pada Maret 2026 mencatat persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 8,07 persen, atau sekitar 22,93 juta orang. Angka tersebut menurun dibandingkan periode sebelumnya. Namun, di balik angka nasional itu ada jutaan cerita yang tidak selalu sama.

Banyak cerita seperti keluarga yang baru saja kehilangan pekerjaan. Ada orang tua yang penghasilannya turun. Ada anak yang sedang berusaha masuk perguruan tinggi. Ada pula warga yang berharap bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kesalahan desil tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan teknis. BPS pada April 2026 menyebut pemutakhiran DTSEN dilakukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran dan mencatat perbaikan klasifikasi kesejahteraan pada puluhan ribu keluarga. Dalam pemutakhiran tersebut, BPS juga menyebut kesalahan inklusi turun menjadi sekitar 0,06 persen.

Angka itu menunjukkan adanya perbaikan. Namun, bagi satu keluarga yang keliru tercatat, 0,06 persen tetap bisa berarti satu kehidupan yang terdampak. Hal ini jangan biarkan orang miskin harus membuktikan kemiskinannya terus-menerus. Persoalan desil 1 sampai 10 seharusnya mengingatkan bahwa sistem bantuan yang baik bukan hanya soal memiliki data dalam jumlah besar. Yang lebih penting adalah apakah data tersebut mampu mengikuti kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Masyarakat memang perlu aktif memperbarui informasi. Pemerintah daerah juga memiliki peran dalam verifikasi. BPS terus melakukan pemutakhiran melalui data administrasi, survei, sensus, ground check, serta pembaruan dari masyarakat.

Namun, beban koreksi jangan sepenuhnya diberikan kepada warga miskin. Tidak semua orang memahami apa itu desil. Tidak semua keluarga mengetahui dan melek teknologi tentang cara memeriksa DTSEN. Bahkan, tidak semua orang memiliki kemampuan digital atau waktu untuk mengurus pembaruan data.

Pada akhirnya, desil adalah angka, tetapi manusia bukan sekadar angka. Sistem boleh membagi masyarakat dari desil 1 hingga desil 10. Namun, ketika satu angka yang keliru membuat bansos menjauh atau pendidikan menjadi lebih sulit dijangkau, saat itulah data perlu kembali melihat manusia yang berada di baliknya.

Sebab, ketepatan data bukan hanya soal statistik yang rapi. Ketepatan data adalah soal memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang sedang membutuhkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda