Entertainment

7 Buku yang Dibaca Juhoon Cortis, Seleranya Mencakup Semua Genre!

7 Buku yang Dibaca Juhoon Cortis, Seleranya Mencakup Semua Genre!
Juhoon Cortis (Instagram)

Juhoon, salah satu member Cortis, ternyata juga memiliki hobi membaca buku. Hal ini terungkap dalam beberapa kesempatan seperti saat di bandara, atau Juhoon sendiri yang membagikan buku yang sedang dibacanya kepada para penggemar.

Buku-buku yang dibaca Juhoon cukup beragam, mulai dari self-improvement hingga novel karya penulis legendaris. Penasaran buku apa saja yang dibaca Juhoon? Simak daftar lengkapnya berikut ini!

1. The Art of Loving karya Erich Fromm

The Art of Loving karya Erich Fromm (dok. pribadi)
The Art of Loving karya Erich Fromm (dok. pribadi)

Buku yang satu ini mengajarkan bahwa cinta merupakan skill atau keterampilan yang harus dipelajari, bukan hanya sekadar perasaan belaka. Cinta bukan sekedar emosi kebetulan, melainkan seni yang memerlukan pengetahuan, teori, dan praktik.

Fromm menekankan bahwa cinta merupakan tindakan aktif, sebuah keputusan dan komitmen, yang harus dipelajari agar kita bisa terhubung secara mendalam baik dengan diri sendiri ataupun orang lain. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul yang sama.

2. Live Cherising Yourself karya Na Tae-joo

Live Cherising Yourself karya Na Tae-joo (dok. pribadi)
Live Cherising Yourself karya Na Tae-joo (dok. pribadi)

Buku karya penulis asal Korea Selatan ini menjadi pengingat bahwa kita tidak harus menjadi sempurna untuk layak disayang, termasuk oleh diri kita sendiri. Buku ini ditulis berdasarkan catatan-catatan kecil yang ia kumpulkan ketika bersiap memberikan berbagai ceramah dan kelas kehidupan.

Buku esai ini berisi tentang kumpulan pemikiran dan pesan hangat dari sang penyair tua yang mengajak pembaca untuk mencintai, menghargai, serta merawat diri sendiri di tengah kerasnya kehidupan modern.

3. Honmono karya Seong Haena

Honmono karya Seong Haena (dok. pribadi)
Honmono karya Seong Haena (dok. pribadi)

Honmono membahas tentang identitas diri di tengah dunia yang sibuk menyuruh kita menjadi orang lain. Kumpulan cerita pendek ini memotret realitas sosial di Korea Selatan dengan sangat tajam, berfokus pada batas-batas yang memisahkan manusia akibat perbedaan wilayah, politik, serta generasi.

4. I Said Goodbye karya Kim Ae-ran

I Said Goodbye karya Kim Ae-ran (dok. pribadi)
I Said Goodbye karya Kim Ae-ran (dok. pribadi)

Sesuai judulnya, buku ini berisi tentang perpisahan, kehilangan, serta cara untuk tetap bisa melanjutkan hidup walaupun ada orang atau masa yang harus ditinggalkan.

I Said Goodbye berisi kumpulan cerita atau momen rapuh seputar perpisahan, kehilangan, serta bagaimana acara manusia berdamai dengan kenangan yang ditinggalkan.

5. Ubermensch karya Friedrich Nietzsche

Ubermensch karya Friedrich Nietzsche (dok. pribadi)
Ubermensch karya Friedrich Nietzsche (dok. pribadi)

Buku ini membahas tentang manusia yang bisa menemukan makna hidup dengan menciptakan jalannya sendiri. Buku karya filsuf terkenal asal Jerman ini berisi tentang perjalanan spiritual dan intelektual tokoh yang bernama Zarathustra yang turun dari gunung untuk mengajari manusia bagaimana cara melepaskan diri dari aturan moral tradisional, mengatasi kelemahan diri, dan berevolusi menjadi seorang ‘Ubermensch’ atau Manusia Unggul.

6. The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson

The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson (dok. pribadi)
The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson (dok. pribadi)

Buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini dengan judul Seni untuk Bersikap Bodo Amat ternyata juga menjadi pilihan bacaan Juhoon Cortis. Berisi sebuah tutorial untuk berhenti overthinking terhadap hal-hal kecil.

Buku pengembangan diri atau self-help ini mengajak pembaca untuk berhenti berpura-pura selalu positif dan mulai menerima kekurangan, penderitaan, serta batasan diri sebagai bagian normal dari kehidupan.

7. Goethe Said Everything karya Yui Suzuki

Goethe Said Everything karya Yui Suzuki (dok. pribadi)
Goethe Said Everything karya Yui Suzuki (dok. pribadi)

Buku karya penulis Jepang ini membahas tentang kebenaran, pengetahuan, dan bagaimana satu kalimat bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

Berkisah tentang petualangan intelektual seorang profesor ahli Johann Wolfgang von Goethe yang terobsesi mencari asal-usul sebuah kutipan manusia yang ia temukan pada label kantong the celup. Menarik, bukan?

Itulah tujuh daftar buku yang dibaca oleh Juhoon Cortis. Ada yang sudah pernah kamu baca?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda