Entertainment
Salinan Film Fortitude Raib, Netflix Dinilai Lalai hingga Digugat $105 Juta
Situasi memburuk pascakasus pencurian yang terjadi di kantor Netflix di Los Angeles, California. Hilangnya salinan film terbaru Nicolas Cage yang belum dirilis, Fortitude, berujung pada langkah hukum dari pihak pembuat film yang kini menuntut pertanggungjawaban penuh dari platform streaming tersebut.
Menyadur laporan dari Variety pada Sabtu (1/8/2026), sineas sekaligus miliarder asal Swiss, Afram, bersama perusahaannya, Op-Fortitude, resmi melayangkan gugatan terhadap Netflix di pengadilan federal California pada Kamis lalu.
Gugatan tersebut menuntut ganti rugi sebesar $105 juta, dengan landasan bahwa pencurian salinan Fortitude yang sebelumnya diserahkan kepada Netflix untuk keperluan uji tayang (screening), telah merusak prospek penjualan komersial film tersebut.
Diketahui bahwa salinan master Fortitude yang tidak dilengkapi dengan enkripsi keamanan berada di dalam salah satu dari beberapa perangkat keras (hard drive) yang digondol pencuri.
Pihak perusahaan kemudian mengonfirmasi bahwa hard drive lain yang turut hilang dalam insiden tersebut berada dalam kondisi kosong.
"Netflix menolak segala klaim yang menyebutkan bahwa kami menanggung risiko kerugian atas film yang diserahkan tanpa perlindungan pengamanan standar industri yang memadai," tulis Netflix dalam keterangannya.
"Meskipun kami tidak memiliki hak cipta atas Fortitude, kami menangani masalah keamanan konten dengan sangat serius dan telah mengambil langkah ekstra untuk mendukung sineas beserta timnya. Ini termasuk melakukan investigasi menyeluruh dan menawarkan pemantauan terhadap situs-situs pembajakan yang diketahui untuk mencegah distribusi atau penjualan ilegal," lanjutnya.
Para eksekutif Netflix sebelumnya telah menunjukkan ketertarikan untuk mengakuisisi Fortitude setelah menerima materi promosi film tersebut pada bulan Desember lalu. Pihak Netflix kemudian meminta salinan draf kerja (working cut) dari film tersebut pada bulan Juni 2026.
Menurut dokumen gugatan, para pembuat film juga diminta untuk menyediakan kunci akses ke dalam paket sinema digital (yang berfungsi untuk membatasi akses tak berizin) agar pihak Netflix dapat menguji film tersebut secara internal.
Seorang produser Fortitude mengklaim bahwa ia menyerahkan hard drive tersebut secara langsung ke kantor Netflix pada tanggal 15 Juni. Ia juga meminta agar fail tersebut segera dihapus setelah proses pemutaran selesai, mengingat hard drive tersebut tidak dienkripsi.
Namun sepuluh hari berselang tepatnya pada 25 Juni, seorang eksekutif Netflix memberitahukan bahwa hard drive tersebut telah dicuri.
Gugatan itu lebih lanjut menuding bahwa Netflix menolak untuk mengungkapkan apakah laporan polisi internal telah dibuat.
Netflix juga disebut menolak permintaan untuk melibatkan Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) setelah Op-Fortitude mengajukan laporan kepolisian mereka sendiri.
Di sisi lain, pihak Netflix memiliki pembelaan tersendiri. Perusahaan mengklaim bahwa mereka sengaja menahan rincian mengenai investigasi yang sedang berlangsung karena sebuah firma hukum yang mewakili Afram melayangkan tuntutan sebesar $165 juta.
Netflix melabeli tuntutan tersebut sebagai "upaya permusuhan untuk memeras uang" dari perusahaan alih-alih bekerja sama dengan itikad baik.
Terlepas dari perselisihan kedua belah pihak, para produser Fortitude menyebut insiden pencurian ini membuat film tersebut menjadi sangat sulit untuk dijual kepada distributor mana pun karena adanya ancaman pembajakan sebelum perilisan resmi (pre-release piracy).
Insiden ini diklaim memaksa pihak produser untuk menghentikan total seluruh upaya penjualan dengan sejumlah distributor yang sebelumnya telah menunjukkan minat.
Sebagai informasi, film Fortitude digarap oleh Simon West. Selain Nicolas Cage yang memerankan tokoh agen ganda di dunia nyata bernama Duško Popov, film ini turut dibintangi Matthew Goode, Ed Skrein, Jordi Mollà, Michael Sheen, Ben Kingsley, Art Malik, Ron Perlman, dan Alice Eve.
Film ini diangkat dari kisah nyata para agen intelijen Inggris yang menggunakan operasi strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengelabui pimpinan Nazi dan pada akhirnya mengubah arah jalannya Perang Dunia II.