Entertainment

Gagal di Pasaran, Sony Pictures Kapok Bikin Film Spin-off Spider-Man?

Gagal di Pasaran, Sony Pictures Kapok Bikin Film Spin-off Spider-Man?
Kolase potret karakter-karakter dari jagat sinematik Sony's Spider-Man Universe (IMDb)

Karakter superhero Spider-Man kembali merajai dunia hiburan usai perilisan film terbaru kolaborasi Marvel Studios dan Sony Pictures bertajuk Spider-Man: Brand New Day.

Film ini kembali menampilkan Tom Holland sebagai Peter Parker di dunia yang tidak lagi menyadari keberadaannya. Ia harus menghadapi deretan musuh yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Didukung oleh ulasan positif dari kritikus dan penonton, film ini melaju kencang untuk menjadi film paling hits tahun ini.

Namun, di tengah perayaan kesuksesan tersebut, Sony Pictures sejatinya masih terpukul oleh kegagalan sejumlah proyek Marvel lainnya, yakni rentetan film spin-off di bawah naungan Sony's Spider-Man Universe (SSU).

Meski trilogi Venom terbilang cukup sukses secara finansial, tidak ada satu pun dari enam film dalam waralaba ini yang berhasil meraih ulasan memuaskan.

Beberapa di antaranya bahkan menjadi bahan olokan dan dicap sebagai film superhero terburuk dalam sejarah. Melihat tingkat kekecewaan yang begitu masif, masa depan saga SSU ini tampak sangat suram.

Berbicara dengan media Variety, Chairman Sony Pictures, Tom Rothman, membahas masa depan film-film spin-off perusahaannya usai debut tayang Spider-Man: Brand New Day.

Saat ditanya apakah ada rencana untuk terus mengembangkan film layar lebar bagi karakter-karakter Marvel lainnya, Tom Rothman membeberkan tidak ada proyek yang berjalan.

"Saat ini, kami tidak tahu. Kami tidak pernah memandangnya sebagai 'Sony-Marvel Universe'. Kami hanya melihat apakah ada film yang layak dibuat dengan karakter lain. Untuk saat ini, tidak ada satu pun yang sedang dalam tahap pengembangan aktif," ungkap Tom Rothman, dikutip pada Selasa (4/8/2026).

Meski ia tidak yakin apakah film-film tersebut mendapatkan penilaian yang adil, Tom Rothman menganggap penonton adalah bos dalam industri ini dan mereka sekadar tidak merespons apa yang disajikan oleh Sony Pictures lewat karya-karya tersebut.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, SSU hanya mengandalkan trilogi Venom sebagai satu-satunya tulang punggung finansial mereka.

Perjalanan semesta ini dimulai pada tahun 2018 lewat film Venom yang menyoroti kisah jurnalis Eddie Brock saat ia menyatu dengan symbiote alien berkekuatan super.

Meski dihujani cibiran kritikus dengan skor Rotten Tomatoes yang hanya menyentuh 30 persen, film ini sukses besar di pasaran dengan meraup USD 856 juta secara global.

Tren komersial yang menguntungkan itu berlanjut pada sekuelnya, Venom: Let There Be Carnage (2021). Dalam film yang menceritakan pertempuran Eddie melawan  Cletus Kasady, Sony berhasil mengantongi pendapatan global sebesar USD 506 juta dengan skor kritikus 58 persen.

Bahkan, babak penutupnya yang rilis pada 2024, Venom: The Last Dance (berfokus pada pelarian Eddie dari buruan militer dan alien—masih) mampu masuk ke dalam daftar penyumbang laba terbesar di SSU.

Sayangnya, "keberuntungan" waralaba Venom sama sekali tidak menular ke tiga proyek spin-off Sony lainnya. Mimpi buruk studio ini mulai terlihat jelas saat perilisan Morbius (2022).

Mengangkat kisah seorang dokter yang berubah menjadi vampir haus darah akibat eksperimen penyembuhan penyakitnya, film ini hancur lebur di pasaran. Morbius hanya mampu mengumpulkan USD 167 juta secara global dan dicap sangat buruk dengan skor kritikus 15 persen.

Keterpurukan itu makin menjadi-jadi pada awal tahun 2024 lewat perilisan Madame Web. Film yang mengisahkan seorang paramedis dengan kemampuan melihat masa depan demi melindungi tiga gadis remaja ini justru mencetak rekor terendah di SSU.

Madame Web hanya meraup USD 100 juta di seluruh dunia dan dihancurkan oleh kritikus dengan skor Rotten Tomatoes di angka 11 persen.

Nasib tragis yang sama pada akhirnya juga menimpa proyek penutup mereka, Kraven the Hunter. Mengisahkan asal-usul Sergei Kravinoff sebelum ia menjadi salah satu pemburu paling mematikan di semesta Marvel, film ini kembali mendulang ulasan negatif dan gagal menembus angka pendapatan USD 170 juta.

Rapor merah berturut-turut dari ketiga film inilah yang pada akhirnya menjadi pukulan telak dan memaksa Sony Pictures untuk menekan tombol jeda bagi spin-off mereka.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda