Entertainment

East of Eden Tayang 1 Oktober di Netflix, Florence Pugh Jadi Cathy Ames

East of Eden Tayang 1 Oktober di Netflix, Florence Pugh Jadi Cathy Ames
East of Eden (dok. Netflix)

Netflix akan segera menghadirkan East of Eden, serial drama terbaru yang diadaptasi dari novel klasik karya John Steinbeck. Kisah ini membawa penonton mengikuti perjalanan keluarga Trask dan Hamilton dalam rentang beberapa generasi, lengkap dengan konflik keluarga, cinta, ambisi, luka masa lalu, hingga berbagai pilihan yang dampaknya terus terasa dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Novel East of Eden pertama kali diterbitkan pada 1952 dan menjadi salah satu karya terbesar Steinbeck. Sang penulis pernah menggambarkan novel tersebut sebagai “Ini sebenarnya akan menjadi dua buku” serta “kisah tentang negara saya dan kisah tentang diri saya”.

Kini, cerita tersebut mendapatkan interpretasi baru melalui serial Netflix yang dikembangkan oleh Zoe Kazan. Ia mengadaptasi keseluruhan cerita ke dalam tujuh episode sekaligus menjadi penulis dan produser eksekutif serial tersebut.

Bagi Zoe Kazan, mengadaptasi East of Eden bukan sekadar pekerjaan untuk membawa novel klasik ke dalam format serial. Ia ingin mempertahankan skala besar cerita Steinbeck sekaligus membuat kisah tersebut terasa dekat secara emosional dengan penonton masa kini.

Kazan menjadikan pandangan Steinbeck mengenai karya tersebut sebagai prinsip utama ketika mengembangkan serial. Ia ingin cerita yang dihasilkan tetap terasa luas dan epik, tetapi pada saat yang sama memiliki kedekatan personal yang kuat dengan karakter-karakternya.

“Saya benar-benar menjadikannya sebagai prinsip utama saya,” ujarnya, dikutip dari Netflix Tudum pada Selasa (15/9/2026).

“Kisah ini harus terasa epik sekaligus intim. Ceritanya harus sama personalnya bagi saya seperti bagi dirinya, meskipun dia secara harfiah sedang menulis tentang keluarganya.”

Pendekatan tersebut membuat serial ini tidak diarahkan sebagai adaptasi yang hanya berusaha memindahkan isi novel secara langsung ke layar. Kazan justru melihat materi Steinbeck sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi para karakter secara lebih mendalam, termasuk hubungan keluarga, luka yang diwariskan, serta pilihan yang membentuk kehidupan seseorang.

Zoe Kazan Punya Hubungan Personal dengan Cerita

Keterlibatan Zoe Kazan dalam East of Eden memiliki lapisan personal yang menarik. Kakeknya, Elia Kazan, merupakan sutradara film adaptasi East of Eden yang dirilis pada 1955. Film tersebut dibintangi James Dean dan menjadi salah satu adaptasi paling dikenal dari karya Steinbeck.

Meski memiliki hubungan keluarga dengan adaptasi sebelumnya, Zoe Kazan memilih membawa proyek Netflix tersebut ke arah yang berbeda. Ia tidak ingin sekadar mengulang pendekatan yang sudah pernah dilakukan.

“Film tersebut bukan adaptasi yang sangat setia terhadap sebagian kecil buku yang diangkatnya,” kata Kazan, yang menulis dan menjadi produser eksekutif untuk ketujuh episode serial baru tersebut. “Menurut saya, keseluruhan cerita epik ini merupakan kesempatan untuk mengeksplorasi dan jatuh cinta kepada semua karakter yang ada di dalamnya.”

Keputusan tersebut membuat serial ini memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan cerita keluarga Trask dan Hamilton. Kisah mereka kemudian ditempatkan di Salinas Valley, California, dengan perjalanan antargenerasi menjadi salah satu fondasi utama cerita.

Florence Pugh sebagai Cathy Ames

East of Eden (dok. Netflix)
East of Eden (dok. Netflix)

Florence Pugh dipercaya menjadi pemeran utama sebagai Cathy Ames, sosok perempuan yang penuh perhitungan dan memiliki sisi antihero dalam cerita. Karakter Cathy merupakan salah satu figur paling rumit dalam novel Steinbeck karena motivasi dan sifatnya telah menjadi bahan perdebatan pembaca selama puluhan tahun.

Bagi Kazan, Pugh merupakan pilihan yang sejak awal sudah dianggap sangat tepat untuk menghidupkan karakter tersebut. Bahkan, ia tidak menyiapkan pilihan pemeran alternatif apabila Pugh tidak dapat mengambil peran tersebut.

“Saya tidak punya pemeran cadangan,” kata Kazan. “Saya tidak punya orang lain yang menurut saya akan sama bagusnya. Dia adalah orang yang benar-benar tepat untuk memerankan Cathy.”

Keyakinan Kazan semakin kuat setelah produksi dimulai. Ia menilai kemampuan Pugh dalam memanfaatkan kamera menjadi salah satu kekuatan utama sang aktris ketika membawakan Cathy.

“Kesadarannya terhadap kamera tidak tertandingi,” kata Kazan mengenai Pugh. “Saya tidak menggunakan kata ini sembarangan, saya pikir dia adalah seorang jenius. Saya mengamatinya di lokasi syuting selama lima bulan. Sekarang saya tidak lebih memahami bagaimana cara dia bekerja dibandingkan sebelumnya. Saya bisa melihat seberapa keras dia bekerja dan seberapa berarti peran itu baginya, tetapi tidak ada persiapan atau proses yang terlihat jelas bagi saya.”

Karakter Cathy juga menjadi tantangan karena serial ini tidak ingin menempatkannya hanya sebagai sosok jahat atau simbol tertentu. Kazan justru berusaha memperlihatkan sisi manusiawi Cathy dan alasan yang berada di balik berbagai tindakannya.

Dalam versi serial Netflix, Cathy tetap mempertahankan karakter dasarnya seperti yang dikenal dalam novel. Namun, Zoe Kazan berusaha memperluas pemahaman penonton terhadap dirinya dengan mengungkap lapisan kepribadian yang sebelumnya tidak terlihat secara langsung.

“Saya ingin memastikan bahwa dia juga merupakan seorang manusia, bukan sekadar sebuah arketipe,” kata Kazan. “Menurut saya, hal itu benar-benar mengharuskan saya untuk mengungkapnya secara perlahan, bukan menciptakannya. Pada dasarnya, segala sesuatu yang ada dalam serial ini setidaknya memiliki akar di dalam buku.”

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa serial ini tidak bermaksud menciptakan karakter baru yang sepenuhnya berbeda dari versi Steinbeck. Sebaliknya, pengembangan dilakukan dengan menggali kemungkinan yang sudah tersedia dalam materi asli.

Dengan demikian, penonton akan diajak memahami Cathy bukan hanya berdasarkan tindakan yang dilakukannya, tetapi juga melalui pengalaman dan keadaan yang membentuk dirinya. Sosok yang selama ini mudah dilihat sebagai karakter penuh tipu daya pun mendapatkan ruang untuk dipahami dari sisi yang lebih manusiawi.

Kisah Trask dan Hamilton

Selain Cathy, East of Eden juga mengikuti perjalanan keluarga Trask dan Hamilton yang hidup di Salinas Valley. Cerita yang mencakup beberapa generasi tersebut menjadi ruang bagi serial untuk membahas hubungan antara orang tua dan anak, persaingan keluarga, cinta, ambisi, serta konsekuensi dari pilihan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jajaran pemeran yang menghidupkan keluarga-keluarga tersebut antara lain Mike Faist, Christopher Abbott, dan Ciarán Hinds. Kehadiran mereka memperkuat skala cerita yang memang sejak awal dirancang sebagai drama keluarga lintas generasi.

Konsep tersebut menjadi penting karena persoalan dalam East of Eden tidak berhenti pada satu generasi. Tindakan dan keputusan seseorang dapat memberikan dampak kepada orang-orang yang datang setelahnya, bahkan ketika generasi berikutnya tidak sepenuhnya memahami asal mula konflik tersebut.

Cerita ini kemudian tidak hanya berbicara mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sebuah keluarga. Serial tersebut juga mengeksplorasi bagaimana seseorang dapat mewarisi persoalan yang bahkan tidak pernah ia pilih sendiri, lalu berusaha menentukan apakah ia akan mengulang pola yang sama atau memutus rantainya.

Salah satu pertanyaan terbesar yang ingin dieksplorasi serial ini berkaitan dengan apa yang sebenarnya diwariskan manusia kepada keluarganya. Bukan hanya soal harta, nama, atau status sosial, tetapi juga trauma, kebiasaan, ambisi, rasa bersalah, serta sisi gelap yang mungkin terus terbawa dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Zoe Kazan merangkum pertanyaan tersebut melalui tema yang menjadi bagian penting dari pengembangan cerita.

“Apa yang diwariskan?” tanya Kazan. “Apa yang sedang kamu bawa? Bagaimana kita berdamai dengan sisi bayangan dalam diri kita?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena karakter-karakter dalam East of Eden harus menghadapi konsekuensi dari masa lalu sekaligus menentukan bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan sendiri.

Hubungan keluarga dalam serial ini bukan hanya tentang kedekatan darah, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman satu orang dapat membentuk kehidupan orang lain.

Melalui pendekatan tersebut, East of Eden berusaha menghadirkan kisah keluarga yang besar dalam skala cerita, tetapi tetap intim dalam persoalan yang dihadapi setiap karakternya. Zoe Kazan membawa karya Steinbeck ke format serial dengan ruang yang lebih luas untuk mengenalkan karakter, memperdalam konflik, dan mengeksplorasi sisi manusiawi dari cerita yang telah bertahan selama beberapa generasi.

East of Eden dijadwalkan tayang di Netflix pada 1 Oktober 2026. Dengan Florence Pugh sebagai Cathy Ames serta jajaran pemeran seperti Mike Faist, Christopher Abbott, dan Ciarán Hinds, serial ini menjadi salah satu adaptasi sastra yang patut dinantikan pada tahun ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda