Entertainment

Mengupas Status Anime Boruto: Cerita Canon atau Sekadar Garapan Ikemoto?

Mengupas Status Anime Boruto: Cerita Canon atau Sekadar Garapan Ikemoto?
Boruto Two Blue Vortex official Poster Manga (MangaPlus/Boruto)

Para penggemar Naruto kembali ramai memperbincangkan dunia ninja setelah Masashi Kishimoto mengumumkan proyek manga terbaru di New York Comic Con 2026. Proyek berjudul “Naruto: Shadow Rising” yang diumumkan pada Sabtu (10/10/2026) waktu setempat ini kembali memantik diskusi hangat di kalangan fans, terutama mengenai posisi serial Boruto sebagai sekuel resmi (canon) atau bukan.

Dalam cuplikan (teaser) resminya, tampak visual enam wajah Hokage terdahulu, patung Hokage ketujuh yang masih dalam proses pembangunan, serta kehadiran karakter ikonik seperti Naruto, Kakashi, Sasuke, dan Sakura. 

Di sana, Sakura terlihat sedang memandangi seorang bayi, sementara Naruto tampak mengangkat topi Hokage. Situs resmi Naruto sendiri menjadwalkan pengumuman informasi lanjutan mengenai proyek ini pada ajang Jump Festa 2027 yang digelar tanggal 19–20 Desember 2026 mendatang.

Diskusi ini bergulir di tengah berjalannya manga “Boruto: Two Blue Vortex” yang baru saja merilis bab ke-38 pada 20 Oktober 2026 lalu. Sementara itu, untuk versi animasinya, bagian pertama “Boruto: Naruto Next Generations” telah berakhir di episode 293 pada 26 Maret 2023. 

Meski situs resmi Naruto sudah mengonfirmasi bahwa animasi bagian kedua sedang dalam tahap produksi, hingga saat ini belum ada tanggal penayangan resmi yang dirilis.

Ketimpangan lini masa antara versi manga dan anime inilah yang kerap memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar mengenai keabsahan jalan cerita, atau yang biasa disebut dengan istilah canon.

Dalam budaya populer, istilah canon sendiri merujuk pada rangkaian cerita dan peristiwa resmi yang dianggap benar dalam kesinambungan sebuah dunia fiksi. Melansir penjelasan Patricia Easterling dalam Oxford Classical Dictionary (2015), kata ini berasal dari bahasa Yunani kann yang berarti aturan atau standar.

Sebagai contoh, kita bisa melihat semesta Sherlock Holmes. Katalog dari University of Minnesota mencatat bahwa karya asli sir Arthur Conan Doyle terdiri atas empat novel dan 56 cerita pendek. Kumpulan karya asli inilah yang dikenal sebagai Sherlock Holmes canon, sedangkan kisah Holmes yang ditulis oleh penulis lain tidak otomatis masuk ke dalam kategori resmi tersebut.

Terkait perdebatan canon di dunia Naruto, Kishimoto sempat menjelaskan perbedaan proses kerja antara Naruto dan Boruto dalam sebuah wawancara di situs Naruto Official pada 17 Juli 2025. Saat menggarap Naruto, ia menangani cerita sekaligus ilustrasi utamanya sendiri, sementara Mikio Ikemoto membantunya menggambar latar belakang serta bayangan klon (kagebunshin).

"Untuk Naruto, saya bertanggung jawab atas cerita dan ilustrasi utama, sementara Ikemoto membantu hal-hal seperti ilustrasi latar belakang dan menggambar bayangan klon," ungkap Kishimoto. Ia pun menegaskan posisi Ikemoto dalam proyek sekuelnya, "Untuk Boruto, Ikemoto sepenuhnya memegang kendali atas cerita dan ilustrasi utama. Ini benar-benar manganya Ikemoto."

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Boruto memang bukan manga yang ditulis dan digambar langsung oleh Kishimoto. Kendati demikian, penerbit VIZ tetap mencantumkan keterangan "Creation/Supervision by Masashi Kishimoto, Art by Mikio Ikemoto" pada halaman Two Blue Vortex. 

Situs resmi Naruto juga tetap mencatat Kishimoto sebagai penulis/pengawas, Ikemoto sebagai ilustrator, dan Studio Pierrot sebagai studio animasinya, sehingga status keaslian ceritanya tetap terjaga dengan baik.

Dalam artikel akademik bertajuk “Canon and Cultural Negotiation” (2024), Darren Hudson Hick dan Craig Derksen mendefinisikan canon sebagai persoalan tentang apa yang dianggap benar secara fiksi dalam suatu karakter, cerita, atau dunia rekaan. Keduanya menjelaskan bahwa otoritas atas keaslian sebuah cerita sebenarnya bisa dinegosiasikan antara kreator, penerbit, hingga para penggemar.

Oleh karena itu, status canon ini perlu dibaca berdasarkan lapisan kontinuitasnya masing-masing. Boruto adalah bagian resmi dari waralaba Naruto, dan versi animenya merupakan adaptasi yang sah. Namun, materi khusus yang hanya ada di anime tidak otomatis menjadi bagian dari kelanjutan cerita di versi manga. 

Penggemar yang lebih mengutamakan manga tentu bisa membedakan kedua format ini, sementara klaim non-canon yang muncul hanya karena Ikemoto yang menggarap Boruto sebenarnya menggunakan ukuran keaslian (otentisitas) yang berbeda.

Pada akhirnya, penggemar tidak harus menyukai Boruto untuk bisa tetap mencintai Naruto. Ada penggemar yang memilih hanya mengikuti kisah Naruto, ada yang menikmati Boruto, dan ada pula yang menyukai keduanya. 

Perdebatan mengenai status canon ini sebaiknya dinikmati sebagai diskusi yang menyenangkan tanpa harus memicu pertengkaran. Sebab, ramainya obrolan ini justru menjadi bukti nyata bahwa dunia ninja tersebut masih sangat hidup dan dicintai dalam budaya populer saat ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda