Kolom
Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia
Berbulan-bulan lamanya masyarakat Indonesia menghadapi cuaca panas dan kekeringan. Air semakin sulit diperoleh di sejumlah daerah, lahan mengering, sementara kebakaran hutan dan lahan terus menjadi ancaman. Hujan pun dinanti-nanti, seolah kedatangannya bisa mengakhiri segala kesusahan.
Akan tetapi, ketika hujan mulai turun di sejumlah wilayah, persoalan lain muncul. Pada Rabu (28/10/2026), banjir kembali melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh, tanggul sungai di Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, jebol dan menyebabkan pemukiman warga terendam. Sehari sebelumnya, banjir dan genangan juga dilaporkan terjadi di beberapa daerah lain. Data kejadian cuaca ekstrem BMKG mencatat sejumlah kejadian banjir dan genangan pada 27 hingga 28 Oktober 2026.
Ironi ini terasa getir. Kemarau membuat masyarakat menunggu hujan, sedangkan hujan datang membawa kecemasan baru. Kita seakan terus dipaksa memilih antara dua kesulitan yang sama-sama merugikan.
BMKG mencatat bahwa fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi penyebab panjangnya musim kemarau di Indonesia tahun ini. Berdasarkan prediksi musim hujan 2026/2027, sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan dari kondisi normalnya.
Salah satu dampak paling signifikan terlihat di Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY, yang sempat melewati masa hari tanpa hujan hingga 161 hari pada awal Oktober. BMKG mencatat hujan di wilayah ini sendiri diperkirakan baru akan turun secara bertahap mulai akhir bulan Oktober hingga pertengahan Desember.
Data tersebut menunjukkan betapa panjangnya masa kekeringan yang harus dihadapi masyarakat. Meski demikian, datangnya musim hujan nanti bukan berarti tantangan langsung selesai. Masa transisi ini justru menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mulai bersiap mengantisipasi risiko cuaca yang berbeda.
Banjir memang umumnya dipicu oleh curah hujan tinggi yang melebihi kapasitas daya tampung lingkungan. Ketika air hujan tidak terserap maksimal, aliran permukaan akan meningkat dan membuat sungai meluap, terlebih jika diperparah oleh drainase yang buruk serta alih fungsi lahan.
Kasus di Gayo Lues menjadi contoh nyata bahwa faktor infrastruktur juga memegang peran penting. Jebolnya tanggul sungai di sana membuat air langsung meluap ke pemukiman warga. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir di samping memang dipengaruhi oleh cuaca, ia juga dipengaruhi kondisi lingkungan dan kesiapan infrastruktur setempat.
Situasi inilah yang menjadi pengingat penting bagi kita bersama. Harapan akan datangnya hujan sudah selayaknya dibarengi dengan langkah nyata dalam menjaga lingkungan dan mematangkan persiapan menghadapi perubahan musim.
Di sinilah pemerintah memegang peran penting dalam memastikan setiap pembangunan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Upaya ini dapat dilakukan dengan melindungi kawasan resapan air, merawat saluran drainase, serta mengelola daerah aliran sungai secara berkelanjutan agar prakiraan cuaca bisa diterjemahkan menjadi langkah mitigasi yang nyata.
Terlebih lagi, BMKG telah menghimbau bahwa musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia. Informasi tersebut menjadi momentum berharga untuk bersiap menghadapi risiko banjir dan longsor, sama seperti saat mengantisipasi kekeringan dan kebakaran hutan pada musim kemarau lalu.
Oleh karena itu, tata kelola risiko idealnya berjalan secara preventif sebelum bencana terjadi. Pemerintah daerah dapat mulai mengevaluasi titik rawan banjir, memastikan infrastruktur berfungsi optimal, dan memperkuat sistem peringatan dini. Di saat yang sama, edukasi yang memadai kepada masyarakat sangat dibutuhkan agar warga dapat ikut mengantisipasi potensi ancaman di lingkungan sekitar mereka.
Bagaimanapun juga, hujan dan kemarau adalah bagian dari dinamika alam yang berjalan alami. Kita memang tidak bisa mengatur waktu kedatangannya, namun kita selalu punya pilihan untuk memperbaiki cara mengelola lingkungan dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Ketika pergantian musim membawa tantangannya masing-masing, situasi ini menjadi kesempatan berharga untuk melihat lebih jauh ke dalam tata kelola lingkungan kita. Menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah dalam pembenahan infrastruktur dan alam menjadi langkah bijak yang perlu disiapkan secara matang, bahkan sebelum hujan berikutnya tiba.