alexametrics

Wajib Tahu, 6 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia

Funcrev
Wajib Tahu, 6 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia
Ilustrasi jenis vaksin corona (unsplash.com/Brano)

Dalam mengurangi jumlah lonjakan kasus positif Covid-19 yang terus-menerus meningkat, sejak Januari 2021, pemerintah Indonesia telah berupaya melakukan proses vaksinasi dan ditargetkan dapat selesai pada Maret 2022. 

Pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 ini tertuang langsung dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit No. HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Sejauh ini ada sebanyak tujuh jenis vaksin Covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Keenam vaksin Covid-19 tersebut adalah vaksin, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, Novavax, dan Sinovac. 

Berikut penjelasan lengkap tujuh jenis vaksin yang digunakan di Indonesia:

1. Vaksin Sinovac

Vaksin asal negeri tirai bambu ini dikabarkan telah banyak didistribusikan ke daerah-daerah di Indonesia. Berdasarkan laporan Kemenkes, tercatat sejak 15 April hingga 8 Juli 2021 lalu, dosis vaksin Sinovac yang telah didistribusikan ada sebanyak 52 juta dosis. Dosis sebanyak itu akan segera diberikan kepada kurang lebih 22,13 juta orang.

Meskipun terdengar sangat banyak, namun jumlah tersebut sama sekali belum cukup untuk memenuhi seluruh dosis masyarakat Indonesia, mengingat jumlahnya yang lebih dari 200 juta penduduk. Vaksin ini tergolong memiliki efek samping yang ringan. Contohnya, nyeri pada area yang telah disuntik, nyeri otot, dan sakit kepala. Namun, ada juga yang merasakan lelah, mual, sampai muntah tergantung dari masing-masing reaksi tubuh.

2. Vaksin Sinopharm

Jenis vaksin yang digunakan di Indonesia selanjutnya adalah Sinopharm. Vaksin ini berasal dari Tiongkok. Sama seperti Sinovac, vaksin ini juga mengandung virus corona yang telah dimatikan. Keefektifan vaksin ini terbilang cukup bagus, di Uni Emirat Arab efikasi vaksin ini sudah mencapai angka 79,34%. Vaksin ini cocok diberikan kepada mereka yang berusia 18 sampai 85 tahun. Efek samping yang ditimbulkan juga tergolong ringan dan hampir sama seperti Vaksin Sinovac.

3. Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan jenis vaksin berbasis vektor adenovirus simpanse. Artinya, tim pengembang vaksin terlebih dahulu mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, kemudian virus dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Sesuai namanya, vaksin ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca. Uji coba yang dilakukan sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin corona AstraZeneca memiliki keefektifan yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengujian, vasin ini memiliki efikasi mencapai 76% dalam satu kali suntikan. Adapun salah satu keunggulan lain vaksin AstraZeneca ini adalah vaksin yang mudah didistribusikan karena tidak perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin.

4. Vaksin Moderna

Vaksin yang digunakan selanjutnya merupakan vaksin yang berasal dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, yang memiliki bahan dasar messenger RNA atau mRNA. Penggunaan vaksin ini ditetapkan melalui peraturan Menteri Kesehatan Indonesia. Vaksin ini disetujui setey melalui uji klinis fase III.

Vaksin ini dapat diberikan untuk usia lebih dari 18 tahun sampai di atas 55 tahun. Efek samping yang ditimbulkan juga masih tergolong wajar seperti rasa lelah, sakit kepala, nyeri oto dan sendi.

5. Vaksin Pfizer- BioNTech

Vaksin Pfizer- BioNTech buatan Amerika Serikat ini juga memiliki bahan dasar yang sama dengan vaksin sebelumnya, Moderna. Vaksin ini diketahui dapat diberikan untuk mereka yang berusia diatas 16 sampai diatas 55 tahun sebanyak dua dosis 0,3 ml. Efek samping yang ditimbulkan juga sama dengan Vaksin Moderna.

6. Vaksin Novavax

Vaksin Novavax merupakan vaksin yang dikembangkan Amerika Serikat dengan bahan dasar protein subunit. Vaksin ini dapat diberikan kepada mereka yang berusia 18 sampai 59 tahun dengan dua dosis 0,5 ml. Pada uji klinis pertama dan kedua diketahui efek samping yang ditimbulkan vaksin ini yaitu sakit pada bagian yang disuntik, ruam, pusing, tegang oto, demam, mual, hingga muntah.

Sambil menunggu mendapatkan vaksin,  jangan lupa untuk terus mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak