Mengenal Lebih Dalam tentang Anhedonia dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Ayu Nabila | Abdillah Qomaru Zaman
Mengenal Lebih Dalam tentang Anhedonia dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Ilustrasi orang yang mengalami anhedonia (pexels/Andrew Neel)

Kesenangan adalah salah satu hal yang dianggap penting dalam hidup kita. Kita mencari kesenangan dalam berbagai aktivitas, seperti makan makanan favorit, berolahraga, berbicara dengan teman, atau melakukan hobi. Namun, ada kondisi ketika kesenangan dan kegembiraan tidak dapat dirasakan, bahkan dari aktivitas yang biasanya dianggap menyenangkan. Kondisi ini disebut sebagai anhedonia.

Anhedonia adalah salah satu gejala dari berbagai gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, atau bipolar. Anhedonia ditandai dengan ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan dari aktivitas yang biasanya dianggap menyenangkan, atau merasa tidak tertarik pada aktivitas tersebut. Anhedonia dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan memperburuk kondisi gangguan mental yang sudah ada.

Pandangan lain juga dijelaskan menurut Pizzagalli (2014), "anhedonia merupakan gejala sentral dalam gangguan mood, terutama pada depresi, dan berhubungan erat dengan stres kronis." Ia juga menekankan perlunya pengembangan model terintegrasi yang dapat menjelaskan interaksi antara faktor-faktor psikologis, biologis, dan lingkungan yang berkontribusi terhadap anhedonia.

Kemudian, ada dua jenis anhedonia yang berbeda, yaitu anhedonia sosial dan anhedonia fisik. Anhedonia sosial terjadi ketika seseorang kehilangan minat pada interaksi sosial, seperti berbicara dengan teman atau keluarga. Sementara itu, anhedonia fisik terjadi ketika seseorang kehilangan minat pada aktivitas fisik, seperti olahraga atau makan makanan favorit.

BACA JUGA: Nam Joo Hyuk Terseret Kasus Bullying, Ini 4 Cara Mencegah Anak Jadi Pelaku

Penyebab anhedonia bervariasi dan belum sepenuhnya dipahami. Anhedonia sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental, tetapi juga dapat terjadi sebagai akibat dari kondisi medis lainnya, seperti gangguan tidur atau penyakit neurologis. Beberapa faktor risiko yang terkait dengan anhedonia adalah stres, trauma, ketidakseimbangan neurotransmitter dalam otak, dan ketidakseimbangan hormon.

Anhedonia dapat mempengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang secara signifikan. Orang yang mengalami anhedonia cenderung merasa kurang bergairah dan mudah merasa lelah. Mereka mungkin merasa kesulitan untuk berinteraksi sosial dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain. Anhedonia juga dapat mempengaruhi kinerja di tempat kerja dan merusak hubungan dengan pasangan.

Menurut penelitian Wu et al. (2017), "individu dengan gangguan depresi mayor cenderung mengalami penurunan antusiasme dalam pengalaman kesenangan yang diharapkan (anticipatory pleasure) dan pengalaman kesenangan yang diperoleh (consummatory pleasure), serta peningkatan pengalaman ketidaknyamanan dalam pengalaman yang diharapkan dan diperoleh (anticipatory dan consummatory displeasure) dibandingkan dengan kontrol sehat." Studi ini menunjukkan dampak anhedonia pada pengalaman emosi pada individu dengan depresi mayor.

Perawatan anhedonia tergantung pada penyebabnya. Jika anhedonia disebabkan oleh gangguan kesehatan mental, maka perawatan dapat melibatkan terapi dan obat-obatan. Jika anhedonia disebabkan oleh kondisi medis lain, maka perawatan harus ditargetkan pada penyakit yang mendasarinya.

Terdapat beberapa cara untuk mengatasi anhedonia. Terapi kognitif-behavioral dan terapi perilaku dapat membantu individu mempelajari keterampilan baru dalam mengatasi stres dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Olahraga dan meditasi juga dapat membantu meningkatkan suasana hati dan merangsang produksi neurotransmitter yang berguna dalam mengatasi anhedonia.

BACA JUGA: Lipatan Hitam di Leher Tak Melulu karena Daki, Bisa Jadi Resistensi Insulin

Dalam kasus yang parah, anhedonia dapat menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti depresi dan kecanduan. Orang dengan depresi sering mengalami anhedonia, yang menyebabkan mereka kehilangan minat pada kegiatan yang mereka nikmati sebelumnya. Sementara itu, orang dengan kecanduan sering mencari kesenangan untuk menghindari rasa sakit atau kekosongan, namun tidak dapat merasakan kenikmatan dari aktivitas tersebut karena anhedonia.

Ketika anhedonia terjadi, seseorang dapat merasa kesepian, tidak berguna, dan tidak bisa menikmati hidup. Hal ini dapat mempengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan dan meningkatkan risiko untuk masalah kesehatan mental lainnya, seperti stres, kecemasan, dan gangguan tidur.

Menurut Alsayednasser (2022) Untuk mengatasi anhedonia, terapi dan pengobatan dapat membantu mengatasi masalah kesehatan mental yang mendasar dan memperbaiki kemampuan seseorang untuk merasakan kesenangan. Terapi kognitif perilaku dapat membantu seseorang mengubah pola pikir negatif dan mengembangkan keterampilan untuk meningkatkan perasaan positif.

Pengobatan farmakologi seperti obat antidepresan juga dapat membantu mengatasi anhedonia dengan meningkatkan kadar serotonin dan dopamin dalam otak, yang berperan dalam pengaturan suasana hati dan perasaan senang.

Namun, penting untuk diingat bahwa anhedonia tidak selalu disebabkan oleh masalah kesehatan mental. Beberapa kondisi medis seperti stroke, Alzheimer, atau gangguan tidur dapat juga menyebabkan anhedonia. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab anhedonia dan cara terbaik untuk mengatasinya.

Dalam kesimpulannya, anhedonia adalah gangguan emosional yang serius yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Kondisi ini dapat mengurangi kualitas hidup seseorang dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental lainnya. Namun, dengan terapi yang tepat dan pengobatan, seseorang dapat memperbaiki kemampuan mereka untuk merasakan kesenangan dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka.

Sumber:

Alsayednasser, Batool, et al. "How well do Cognitive Behavioural Therapy and Behavioural Activation for depression repair anhedonia? A secondary analysis of the COBRA randomized controlled trial." Behaviour Research and Therapy 159 (2022): 104185.

Wu, Haijing, et al. "Anticipatory and consummatory pleasure and displeasure in major depressive disorder: An experience sampling study." Journal of abnormal psychology 126.2 (2017): 149.

Pizzagalli, Diego A. "Depression, stress, and anhedonia: toward a synthesis and integrated model." Annual review of clinical psychology 10 (2014): 393-423.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak