Health

Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Dokter Ini Bagikan 4 Tips untuk Lindungi Diri

Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Dokter Ini Bagikan 4 Tips untuk Lindungi Diri
Ilustrasi pria memakai masker (magnific/jcomp)

Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat kewaspadaan terhadap dampak letusan perlu di waspadai. Badan Geologi melalui PVMBG menetapkan gunung tersebut berada pada Status Siaga (Level III) per 5 September 2026.

Dalam laporan tersebut, Badan Geologi mencatat aktivitas letusan tipe Strombolian masih berlangsung, ditandai dengan lontaran batu pijar serta abu vulkanik.

Paparan abu vulkanik bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat lingkungan menjadi kotor, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama apabila partikelnya terhirup.

International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) menyebut paparan abu vulkanik dapat menyebabkan beberapa dampak bagi kesehatan.

1. Iritasi Mata

Abu vulkanik yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi karena partikelnya memiliki tekstur seperti pasir dan dapat menggores permukaan mata. Akibatnya, mata bisa terasa perih, gatal, merah, hingga berair.

2. Iritasi Kulit

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan kulit mengalami iritasi, meskipun kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Abu vulkanik yang menempel pada kulit memiliki sifat asam, sehingga kulit dapat menjadi merah dan rasa gatal yang kemudian digaruk terus-menerus juga dapat membuat kulit terluka dan meningkatkan risiko infeksi. 

3. Gangguan Pernapasan

Dampak yang paling perlu diwaspadai adalah ketika abu vulkanik terhirup. Karena partikel yang sangat halus dapat masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

Paparan abu dalam jumlah banyak dapat membuat hidung iritasi, disertai batuk, pilek, hingga  tenggorokan terasa sakit. Bagi orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan sebelumnya, paparan abu dapat memperparah gejala seperti batuk, mengi, dan sesak napas.  

Melihat berbagai risiko tersebut, Dokter Kevin Mark membagikan sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.

“Salah pencegahan, abu vulkanik bisa ‘keselip’ masuk ke paru-paru!” tulis Dokter Kevin Mark dalam unggahannya.

1. Pilih Masker yang Tepat

Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah memilih perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan. 

“Untuk paparan abu vulkanik, masker kain filtrasinya ≤44%, surgical sekitar 89–91% namun lebih banyak bocor dari sisi, sementara respirator N95-equivalent >98%—jadi pilih N95/KN95 yang fit dan menutup rapat wajah,” tulis Dokter Kevin Mark.

Menurut Dokter Kevin Mark, kemampuan setiap jenis masker dalam menyaring partikel abu vulkanik berbeda sehingga penggunaan masker yang tidak tepat masih memungkinkan partikel masuk melalui celah di sekitar wajah.

karena itu, ia menyarankan untuk memilih produk masker N95 atau KN95 yang dapat menutup area hidung, mulut, serta sisi wajah dengan rapat agar perlindungan terhadap paparan abu vulkanik lebih optimal.

2. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Selain menggunakan perlindungan pernapasan, Dokter Kevin Mark menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak benar-benar diperlukan.

“Kalau nggak perlu-perlu banget, enggak usah keluar deh. Ditunda dulu lari di luar, nongkrong di coffee shop outdoor 1–3 hari ke depan. Tutup jendela atau pintu terutama jika kamu di daerah yang sedang aktif banget hujan abunya,” tulis Dokter Kevin Mark.

Langkah tersebut sejalan dengan panduan IVHHN yang menganjurkan masyarakat tetap berada di dalam ruangan dan menjaga pintu serta jendela tetap tertutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.

3. Jangan Membersihkan Abu dalam Keadaan Kering 

Membersihkan abu dengan cara menyapu atau menggosok permukaan dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali beterbangan ke udara sehingga meningkatkan risiko terhirup.

“Abu vulkanik bukan sekadar debu-partikelnya bisa berupa pecahan-pecahan kecil batuan dan kaca vulkanik yang tajam sehingga jangan digosok atau disapu kering karena bisa membuat luka dan baret pada permukaan,” tulis Dokter Kevin Mark. 

IVHHN juga merekomendasikan agar endapan abu sedikit dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan untuk mengurangi partikel yang beterbangan, sementara penyapuan dalam kondisi kering sebaiknya dihindari karena dapat menghasilkan paparan abu yang sangat tinggi.

4. Cukupi Kebutuhan Cairan

Langkah terakhir yang dibagikan Dokter Kevin Mark berkaitan dengan menjaga kondisi tubuh selama menghadapi paparan abu vulkanik, salah satunya dengan memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi karena mata dan tenggorokan dapat terasa lebih tidak nyaman ketika terpapar abu.

“Dehidrasi = mata cepat kering dan tenggorokan mudah sakit, ditambah paparan abu dah fix kamu akan radang tenggorokan dan mata!” tulis Dokter Kevin Mark.

Selain mencukupi kebutuhan cairan, Dokter Kevin Mark juga menyebut beberapa jenis vitamin dan antioksidan yang menurutnya dapat diperhatikan, yakni vitamin D (1.000-4.000 IU/hari), vitamin C non-acidic serta antioksidan seperti zinc dan glutathione.

Dengan melakukan sejumlah langkah pencegahan tersebut, paparan abu vulkanik dapat diminimalkan. 

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi, agar risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dapat dikurangi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda