Hobi
Buntut Ejekan ke Son Heung-min, Timnas Korea Selatan Boikot Media Lokal
Kabar mengejutkan datang dari kamp latihan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026. Persiapan skuad Taeguk Warriors menjelang laga krusial fase grup melawan Meksiko harus dibayangi oleh ketegangan internal.
Bukan karena masalah cedera pemain, melainkan sebuah aksi media blackout yang dilancarkan para pemain terhadap media negara mereka sendiri.
Langkah ini diambil setelah sang kapten sekaligus ikon sepak bola Asia, Son Heung-min, menjadi sasaran ejekan oleh oknum jurnalis.
Mikrofon Bocor yang Berujung Fatal
Semua bermula pada sesi latihan terbuka tanggal 7 Juni 2026 di base camp Guadalajara, Meksiko. Tanpa disadari, kamera dan mikrofon milik stasiun TV JTBC, pemegang hak siar resmi turnamen tersebut di Korea, menangkap obrolan privat tidak etis di antara dua jurnalis yang hadir.
Dalam rekaman tersebut, mereka terdengar mengejek rekam jejak wajib militer Son Heung-min saat sang pemain sedang berlari bersama rekan-rekan setimnya. Rekaman mentah itu kemudian bocor ke publik dan disiarkan di Korea Selatan, memicu gelombang kemarahan dari netizen di media sosial.
Bagi publik Korea Selatan, isu wajib militer (wamil) bukanlah bahan bercandaan, apalagi jika menyangkut pahlawan nasional. Sesuai hukum setempat, pria berbadan sehat wajib menjalani wamil selama 18 hingga 21 bulan.
Namun, Son Heung-min, yang kini berusia 33 tahun dan bermain untuk Los Angeles FC di MLS setelah meninggalkan Tottenham Hotspur tahun lalu, mendapatkan dispensasi resmi yang sah.
Hak istimewa tersebut ia dapatkan setelah sukses memimpin Korea Selatan meraih medali emas di Asian Games 2018. Sebagai gantinya, Son tetap menyelesaikan tugas alternatif, termasuk pelatihan militer dasar selama tiga minggu pada masa pandemi tahun 2020 dan program dinas sosial.
Mengejek dedikasi seorang pemain yang sudah mencatatkan lebih dari 145 penampilan bagi negaranya jelas dinilai sebagai pelanggaran moral yang fatal oleh skuad timnas.
Dampak dari kebocoran video tersebut langsung terasa nyata di atas lapangan. Meskipun Korea Selatan berhasil menumbangkan Republik Ceko dengan skor 2-1 pada laga pembuka Grup A lewat gol Hwang In-beom dan Oh Hyeon-gyu, atmosfer di mixed zone justru terasa dingin. Son Heung-min dengan tegas menolak berbicara kepada awak media.
Langkah sang kapten langsung diikuti oleh seluruh anggota skuad. Para pemain dilaporkan menolak berbicara kepada jurnalis Korea Selatan di luar komitmen wajib dari FIFA, dan semua jadwal wawancara eksklusif dibatalkan seketika.
Ketegangan ini dikabarkan memicu mundurnya salah satu media officer timnas pada hari Selasa, meskipun pihak asosiasi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai pengunduran diri tersebut.
Pernyataan KFA
Melihat situasi yang kian liar, Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) langsung merilis pernyataan resmi yang mengutuk keras tindakan oknum wartawan tersebut.
"KFA menghormati aktivitas peliputan dan peran media. Namun, peliputan di lapangan juga harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepercayaan. Perlindungan terhadap pemain harus menjadi prioritas utama. Komentar tidak pantas tersebut telah menimbulkan guncangan besar dan kekecewaan mendalam di dalam skuad," tulis KFA dalam rilis resminya.
KFA juga meminta komunitas sepak bola dan media untuk bersatu memberikan dukungan positif agar fokus anak asuh mereka tidak terpecah di Piala Dunia.
Kini, suasana di Guadalajara dipenuhi keheningan yang tegang. Pada hari Selasa, akses media ke kamp latihan ditutup total. Media lokal Meksiko mengabarkan sempat ada pertemuan darurat antara ofisial tim dan perwakilan jurnalis Korea Selatan untuk meredam situasi sebelum konferensi pers resmi pra-pertandingan hari Rabu.
Dengan laga penentu melawan Meksiko yang sudah di depan mata pada hari Kamis mendatang, fokus psikologis skuad Korea Selatan kini diuji. Apakah media blackout ini akan mempererat solidaritas tim untuk kembali meraih poin penuh, atau justru menjadi distraksi yang merugikan?