Hobi

Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar

Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
Klub Corat-Coret dalam acara Rest Area #3 di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/10). (dok. Instagram/@hayatnnfss_)

Belum pernah terbayangkan dalam benak saya akan berbaur dengan orang-orang dalam sebuah komunitas menggambar. Pasalnya, menggambar bukanlah keahlian saya. Membuat garis lurus saja kadang masih bengkok, apalagi harus menuangkan objek tertentu ke atas kertas.

Namun, rasa penasaran membawa saya untuk mencoba pengalaman baru bersama Klub Corat-coret.

Minggu sore (25/10), saya mendatangi kegiatan komunitas tersebut di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Saat tiba di lokasi, suasana sudah ramai. Para peserta terlihat berkumpul di atas tikar dengan selembar kertas dan alat gambar masing-masing. Ada yang sibuk menggambar, ada juga yang berbincang dengan orang-orang di sekitarnya.

Saya kemudian menuju meja registrasi untuk mendaftar dan menerima merchandise. Habis itu, saya mencari tempat yang sekiranya masih kosong untuk bergabung dengan peserta lain.

Kami pun mengawali kegiatan dengan perkenalan singkat. Tak lama kemudian, suasana kembali dipenuhi kesibukan masing-masing.

Para peserta, termasuk saya, mulai menunduk, memperhatikan kertas putih itu lalu menuangkan ide melalui gambar.

Di antara mereka, ada yang menggambar bunga, bumi, pohon, hingga gedung-gedung. Bahkan ada juga yang menggambar tangga dengan memadukan pelangi.

Melihat peserta lain sudah sibuk menggambar, saya sendiri sempat bertanya-tanya apa yang akan digambar.

Sempat terselip kata minder, karena gambar-gambar mereka cukup bagus. Namun, karena keterbatasan waktu yang diberikan mendesak saya untuk berpikir cepat. Dengan kemampuan yang jauh dari kata mahir, saya akhirnya memilih objek sederhana: tomat.

Setiap Gambar Punya Cerita di Baliknya

Hasil gambar dari kegiatan Rest Area #3 bersama Klub Corat Coret di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/10). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)
Hasil gambar dari kegiatan Rest Area #3 bersama Klub Corat Coret di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/10). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Sambil berusaha menyelesaikan gambar, saya mulai menikmati suasana kegiatan. Kami tidak hanya duduk berdekatan dan menggambar, tetapi juga mengambil foto dan berbincang-bincang santai.

Orang-orang yang sebelumnya tidak begitu kenal perlahan menjadi teman berbagi aktivitas sore itu.

Tak hanya itu, awalnya saya mengira kegiatan ini akan berfokus pada proses menggambar. Datang, menentukan objek, menuangkan ide tersebut ke atas kertas, lalu selesai.

Ternyata oh ternyata, ada bagian lain yang membuat pengalaman ini terasa berbeda.

Menjelang akhir kegiatan, kami diminta untuk menjelaskan makna dari gambar yang telah dibuat.

Satu per satu peserta mendapat giliran untuk menceritakan karyanya. Gambar yang sebelumnya hanya terlihat sebagai kumpulan objek dan warna, kini mulai memiliki makna ketika pembuatnya menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut.

Saya sendiri merasa sesi ini menjadi bagian menarik. Sebab, saya jadi bisa melihat bahwa gambar tidak harus selalu berhenti pada bentuk yang tampak di atas kertas.

Di baliknya, ada gagasan maupun harapan yang ingin disampaikan melalui karya masing-masing.

Ketika giliran saya tiba, saya menjelaskan alasan memilih tomat sebagai objek gambar hari ini. Dari sebuah objek sederhana, saya mencoba menyampaikan harapan untuk diri sendiri.

Mungkin tomat terlihat biasa saja bagi orang lain, tetapi bagi saya, tomat bukanlah sekadar buah atau sayuran. Ia berbentuk bulat dan berwarna merah, mengisyaratkan tekad yang kuat dan kokoh serta keberanian.

"Kenapa aku gambar tomat? Sebenarnya aku gak suka tomat, cuma karena dia ini seger dan warnanya merah hijau tuh cakep, ya. Jadi, ya aku berharap dengan merahnya tomat ini aku bisa berani, soalnya aku orangnya takutan dan merah kan identik tuh sama keberanian," kata saya saat sesi pemaparan dari definisi hasil gambar saya.

Pengalaman itu membuat saya melihat kembali kegiatan menggambar dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah gambar ternyata bisa jadi awal percakapan, bahkan ketika orang-orang yang berkumpul belum saling mengenal sekalipun.

Mungkin pada awalnya saya datang dengan rasa penasaran tentang pengalaman menggambar bersama orang baru.

Namun, begitu pulang saya membawa pemahaman bahwa kegiatan ini juga memberi ruang bagi setiap orang untuk berbagi sesuatu tentang dirinya.

Pada akhirnya, tidak semua orang harus mahir menggambar untuk bisa menikmati kegiatan semacam ini, terkadang, yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba menuangkan ide dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mendengarkan cerita di baliknya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda