alexametrics

Memaknai Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Yulia erlinda
Memaknai Sejarah dan Pemikiran Akuntansi Syariah
Ilustrasi keuangan (Pixabay/Steve Buissinne)

Akuntansi bukanlah profesi baru, hal itu dilakukan di SM dalam bentuk yang sangat sederhana. Yang menarik Pacioli menggunakan bukunya pada tahun 1494 M: Summa De Arithmetica Geometry Proportionalita (Tinjauan Aritmatika, Geometri dan Proportionalita), yang menjelaskan pembukuan berpasangan pada tahun 1494, sehingga digunakan sebagai penemu akuntansi modern, meskipun dia mengatakannya itu selesai lebih dari satu abad yang lalu.

Dilihat dari hasil penelusuran pemikiran Islam, ada hubungan tertentu antara pengusaha muslim. Bukti dan istilah yang digunakan oleh Paciolli juga sama dengan yang digunakan oleh para saudagar Muslim. Selain itu, ketika Negara Islam mulai berkembang, sistem akuntansi yang cukup maju dapat dijadikan dasar bagi umat Islam untuk mengklaim ikut serta dalam perkembangan akuntansi modern.

Namun gagasan ini masih dipertanyakan dalam beberapa hal, termasuk pemikiran umat Islam itu sendiri, Oleh karena itu, penelitian mengenai hal ini masih diperlukan di masa mendatang, termasuk membuktikan bahwa akuntansi syariah bukanlah hal yang baru dan asing dibandingkan dengan akuntansi tradisional yang berkembang saat ini.

Kapan Akuntansi Mulai Dilakukan ?

Akuntansi sudah ada sejak zaman prasejarah, dan akuntansi merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Sejak zaman kuno, setiap rumah tangga memiliki akun sendiri untuk mencatat pakaian dan makanan musim dingin. Ketika orang mulai mengenal keberadaan “perdagangan”, mereka juga mengenal konsep nilai dan mulai memahami sistem mata uang. Mulai dari Kekaisaran Babilonia (4500 SM), era Firaun Mesir, dan Kode Hammurabi (2250 SM), bukti pembukuan dapat ditemukan, yang dapat ditemukan dalam catatan akuntansi Ebla di Suriah utara.

Bagaimana Perkembangan Akuntansi Di Zaman Nabi Muhammad SAW?

Ketika Rasulullah memimpin Daulah Islam di Madinah, beliau mulai mengubah praktik keuangan atau kegiatan ekonomi dari riba dan berbagai bentuk penipuan, penipuan, perjudian, pemerasan, monopoli dan segala upaya untuk mengambil milik orang lain dalam suatu cara.

Bahkan Nabi lebih memperhatikan pencatatan keuangan, Nabi secara khusus mendidik beberapa sahabat untuk berkecimpung dalam industri ini dan memberi mereka gelar khusus, yaitu hafazhatul amwal (direktur keuangan). Praktik akuntansi pada masa Nabi Muhammad dapat diamati di Baitulmar, yang didirikan oleh Nabi Muhammad pada awal abad ke-7. Pada masa itu, fungsi baitul maal adalah menampung dan mengelola seluruh pendapatan nasional, termasuk zakat, ushr (pajak pertanian Muslim), jizyah (pajak perlindungan bagi non-Muslim yang tinggal di wilayah pendudukan Muslim), dan kharaj (pajak atas harta benda). produk pertanian muslim.

Semua pengeluaran yang dibayarkan untuk kepentingan negara baru dapat dikeluarkan setelah memasuki Baitul Maal dan mencatatnya. Meskipun pengelolaan Baitul Maal saat itu masih sederhana, Nabi SAW telah mengangkat pejabat Kadi, serta sekretaris dan panitera pemerintahan.

Mereka berjumlah 42 orang, terbagi menjadi empat bagian, yaitu: sekretaris deklarasi, sekretaris hubungan dan pendaftaran tanah, sekretaris perjanjian dan sekretaris perang (Nurhayati & Wasilah, 2009). Dari sini terlihat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad, pemisahan tanggung jawab fiskal untuk menjamin akuntabilitas telah diterapkan. Kemudian Baitul Marr melanjutkan kekhalifahan sahabat nabi, yaitu Abu Bakar Ashidik (537-634 M), Omar Bin Khatab (584-644 M), Osman Ben Afan (23-35 M/644-656 M), Ali bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M).

Perkembangan Baitul Maal yang semakin pesat terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Saat itu, sistem administrasi Baitul Maal berjalan baik di tingkat pusat dan daerah. Tidak hanya itu, pada masa kekhalifahannya, baitul maal juga memiliki kelebihan, yang kemudian dibagikan sesuai petunjuk Nabi Muhammad. Adanya surplus ini menunjukkan bahwa proses pencatatan dan pelaporan berjalan dengan baik.

Bagaimana Perkembangan Akuntansi di Zaman Khalifah?

a. Abu Bakar Asidik

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, pengelolaan Baitulmal sangat sederhana, dengan anggaran berimbang dan hampir tidak ada sisa.

b. Umar Bin Khatab

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab (Umar bin Khattab), ia bersentuhan dengan istilah “Diwan”, yaitu tempat para pelaksana duduk, bekerja, mencatat dan menyimpan informasi akuntansi, serta bertanggung jawab membayar upah. Khalifah Umar menunjukkan bahwa perkembangan akuntansi dari satu tempat ke tempat lain adalah hasil dari hubungan antara orang-orang. Selain itu, Baitul Maal telah diidentifikasi sebagai daerah yang ditaklukkan oleh Islam

c. Utsman bin Affan

Pada masa pemerintahan Khalifah Utsmaniyah, istilah khittabat al-Rasull wa sirr diperkenalkan, yang berarti menyimpan catatan rahasia. Dalam hal pengawasan pelaksanaan agama dan akhlak lebih menitikberatkan pada muhtasib, penanggung jawab lembaga al hisbah, seperti soal timbangan, penipuan jual beli, orang yang tidak punya banyak utang, dan termasuk perhitungannya. ibadah bahkan pengecekan keyakinan, dan masih banyak lagi Hal-hal lainnya termasuk perhitungan atau hal-hal yang tidak adil bagi semua makhluk hidup di dunia ini

d. Ali Bin Abi Thalib

Pada masa pemerintahan Ali, terdapat sistem administrasi Baitulmal yang berfungsi dengan baik yang terpusat pada pemerintah pusat dan daerah. Surplus Baitulmal disalurkan secara profesional sesuai dengan aturan Rasulula SAW. Hal ini menunjukkan bahwa proses pencatatan dan pelaporan berjalan dengan baik. Khalifah Ali memiliki konsep pemerintahan, administrasi publik dan isu-isu terkait.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak