alexametrics

Prinsip Melayani Nadiem Makarim dari Gojek ke Kemendikbud

Drastiana
Prinsip Melayani Nadiem Makarim dari Gojek ke Kemendikbud
Nadiem Makarim. (SuaraSulsel.id/Sekretariat Presiden)

Nadiem Makarim dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Oktober 2019 menduduki kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Sebagai ex-CEO sekaligus founder dari perusahaan startup Gojek Indonesia, Nadiem tercatat sebagai menteri termuda dalam jajaran kabinet dengan usia 35 tahun. Tak heran, banyak yang memanggil beliau dengan sebutan "Mas Menteri".

Berpengalaman lama menjadi pemimpin di pekerjaan sebelumnya (Gojek), dibawah kepemimpinan barunya, Nadiem mengajak seluruh kepala sekolah dan pengawas sekolah di 34 provinsi untuk mengubah paradigma kepemimpinan melalui kegiatan Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah pada 27-30 November 2019. Paradigma ini disebut oleh Nadiem sebagai Kepemimpinan 2.0. Nadiem menilai, kepala sekolah dan pengawas sekolah memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dengan tujuan utama mengembangkan potensi peserta didik yang berkarakter.

Paradigma kepemimpinan yang diubah oleh Nadiem yakni kepemimpinan dimana seorang pemimpin cenderung menjadi pengawas dan regulator, diubah menjadi paradigma pemimpin yang melayani. Nadiem mengatakan bahwa menjadi seorang pemimpin adalah seorang pelayan yang melayani.

Sikap melayani itu sendiri ditunjukkan oleh Nadiem sebagai Mendikbud dimana setiap kunjungannya ke berbagai sekolah, perguruan tinggi, atau lembaga pengawas pendidikan, dirinya selalu menanyakan satu hal penting yaitu apakah dirinya beserta tim (Kemendikbud) telah membantu bawahan dalam mengerjakan tugasnya. Selain itu, Nadiem juga tidak ragu untuk menanyakan saran-saran yang bisa diberikan kepada dirinya agar bisa menjadi pemimpin yang lebih baik di bidang pendidikan ini.

Prinsip melayani Nadiem Makarim tersebut sesuai dengan konsep servant leader dari Robert K. Greenleaf (1970) dengan buku berjudul The Servant as Leader. Menurut Greenleaf, servant leader mempunyai kecenderungan lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi orang-orang yang dipimpinnya di atas dirinya (Spears, 2010). Servant leader memandang kepemimpinan bukan sebuah posisi atau status, tetapi sebagai kesempatan untuk melayani sebagai bentuk dalam mengembangkan orang lain dengan sepenuhnya (Greenleaf, 2002).

Melalui prinsip melayani yang ditanamkan oleh Nadiem, pemimpin diajak untuk menciptakan lingkungan yang aman untuk para guru berinovasi dan tidak takut akan kegagalan sehingga dapat membangun budaya inovatif di dalam organisasi pendidikan. Bawahan diarahkan untuk mencetuskannya gagasannya, mengritik atasannya, dan mencoba sesuatu yang baru dengan kemungkinan gagal.

Seperti dalam Program Organisasi Penggerak (POP) yang dicetuskan Kemendikbud sebagai bagian dari Merdeka Belajar merupakan wadah untuk mencetak pemimpin dan guru-guru yang inovatif dalam bentuk pelatihan yang dilakukan dalam lingkungan sekolah sendiri dengan metode mentoring dan coaching guru-guru di sekitar sekolah mereka. Mendikbud menyampaikan pentingnya saling memberikan masukan, bertukar pengalaman, bertukar pikiran, berdebat, dan menggali informasi antar guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk perbaikan proses pembelajaran.

Namun, POP justru mendapat resistensi dari organisasi masyarakat karena kurangnya sosialisasi dan misinformasi (Kompas.com, 2020). Adanya resistensi tersebut membuat Nadiem tidak segan untuk meminta maaf dan mengakui kekurangan dalam hal cara kementerian melaksanakan program ini dan minimnya sosialisasi sebelum program diluncurkan. Nadiem sama sekali tidak menonjolkan ego, melainkan menunjukkan kesungguhan dan berharap tetap bisa berkolaborasi serta mengevaluasi program tersebut.

Berbagai resistensi juga kerap dihadapi oleh Nadiem melalui kebijakan Merdeka Belajar yang dikeluarkannya. Salah satunya juga yang paling banyak dibahas terkait penghapusan Ujian Nasional (UN). Nadiem bahkan terlibat adu argumen dengan Jusuf Kalla terkait penghapusan UN (Kompas.com, 2019).

Sikap-sikap Nadiem tersebut secara tidak langsung bisa diidentifikasikan dengan karakter-karakter servant leader yang dikemukakan oleh Spears (2010). Spears menyebutkan ada 10 karakteristik seorang servant leader yang dirinya identifikasi dari karya Robert K. Greenleaf. Beberapa diantaranya yang dapat diuraikan:

  1. Mendengar (listening). Nadiem tidak pernah menolak adanya resistensi, ini memperlihatkan bahwa Nadiem mendengar masalah yang terjadi di dunia pendidikan dan beliau juga mendengar saran-saran yang diberikan kepadanya sebagai bahan evaluasi.
  2. Komitmen untuk pertumbuhan (commitment to the growth of people). Komitmen ini terlihat dengan Nadiem memberikan pelatihan guru yang berbeda bukan hanya melihat seminar, melalui POP skema pelatihan benar-benar terjun ke lapangan dengan metode saling menilai dan belajar antar guru. Meskipun POP sempat ditolak pada 2020, Kemendikbud siap meluncurkan kembali di tahun 2021.
  3. Penyembuhan (healing). Nadiem mampu menciptakan penyembuhan emosional baik hubungan dirinya atau hubungan dengan orang lain. Sikap keterbukaan Nadiem juga membuat apapun kesalahan yang dibuat oleh Kemendikbud, mereka berani untuk mengakui kesalahan serta mengevaluasi kebijakan atau keputusan yang diambil.
  4. Konseptualisasi (conceptualization). Nadiem melihat masalah dari perspektif konseptualisasi berarti berfikir secara jangka panjang atau visioner dalam basis yang lebih luas. Nadiem mengakui pendidikan adalah akar dari perbaikan SDM, maka melalui kebijakan Merdeka Belajar, tidak hanya siswa yang didorong untuk maju, tetapi guru bahkan stakeholder luar (NGO, Ormas) juga dikerahkan untuk membantu kualitas pendidikan.
  5. Persuasi (persuasion). Pemimpin yang melayani berusaha meyakinkan orang lain daripada memaksa kepatuhan (Saputra & Nurani, 2019). Melalui visi misi yang dirinya bawa untuk 5 tahun ke depan, Nadiem berupaya untuk mengajak para bawahan serta guru untuk mencetuskannya gagasan, mengritik atasan, dan mencoba sesuatu yang baru agar dapat membangun budaya inovatif dalam bidang pendidikan

Nadiem menanamkan mindset bahwa pemimpin bukan hanya sekedar "suruh-menyuruh" tetapi bagaimana pemimpin dapat memenuhi kebutuhan timnya dan membantu kesulitan timnya. Nadiem juga tidak takut terhadap kritik dan saran, karena menurutnya justru hal tersebut menjadi potensi bagi dirinya untuk mengelola timnya agar lebih baik. Seperti mengutip perkataan Max DePree "the first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between, the leader is a servant.”

Referensi:

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak