alexametrics

Maulid Nabi: Akhlak Nabi Muhammad sebagai Refleksi Mengatasi Persoalan Masa Kini

al mahfud
Maulid Nabi: Akhlak Nabi Muhammad sebagai Refleksi Mengatasi Persoalan Masa Kini
Ilustrasi masjid (pexels-konevi)

Tanggal 19 Oktober 2021 atau 12 Rabiul Awal 1443 H, kita memeringati Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah momen bermakna mendalam untuk memeringati kelahiran teladan utama Nabi Muhammad Saw.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya menjadi momentum bagi kita semua untuk semakin giat menggali nilai-nilai kesantunan dan akhlak mulia Rasulullah di sepanjang hidupnya. 

Momen Maulid Nabi seharusnya bisa kita jadikan saat untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap segala tindakan yang kita lakukan selama ini. Dari menelusuri akhlak Nabi Muhammad selama beliau berdakwah misalnya. Kita bisa melihat apakah hal-hal yang kita lakukan selama ini benar-benar telah meneladani dan mencerminkan akhak yang tercermin dalam diri Rasulullah Saw. 

Melihat kembali keteladanan akhlak Nabi Muhammad sebagai cermin untuk evaluasi diri di masa kini atau era sekarang menjadi begitu penting. Terutama di tengah maraknya perilaku amoral, kekerasan, dan sebagainya di era sekarang ini.  Bagi penulis, ada dua topik atau persoalan utama yang penting diperhatikan untuk dijadikan refleksi di momen peringatan Maulid Nabi saat ini. 

Pertama, di tengah penyebaran paham radikalisme terorisme yang mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap kelompok atau umat lain. Kita semua tahu, kelompok ini tidak merepresentasikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) yang menyebarkan kasih sayang, penghormatan, dan kebaikan bagi sesama. 

Dengan membawa-bawa nama agama, kelompok ekstremis tersebut justru kerap menampilkan wajah kasar, menyuburkan intoleransi, kebencian, bahkan tak segan melakukan kekerasan. Jelas cara-cara tersebut sangat jauh, bahkan bertolak belakang dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW dalam berdakwah. 

Di sinilah kemudian, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi saat yang tepat untuk kembali meresapi dan meneladani akhlak Nabi, untuk kemudian bersama-sama menekankan pentingnya dakwah yang santun, damai, mendamaikan, dan dilandasi penghargaan terhadap sesama. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. 

Kedua, melihat maraknya fenomena perdebatan, saling mencaci (hate speech), dan pertikaian di dunia maya. Hal ini semakin terlihat seiring makin populernya era media sosial. 

Kita melihat sendiri selama beberapa tahun terakhir, orang begitu mudah saling mencaci dan menyerang sesama hanya karena perbedaan pendapat. Di sini, akhlak, norma, dan etika berkomunikasi seakan-akan hilang begitu saja, tergusur oleh emosi, amarah, dan kebencian yang dikobarkan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, hal tersebut menjadi ancaman tersendiri. Sebab dapat merenggangkan ikatan persaudaraan dan bangunan persatuan menjadi goyah serta terguncang. 

Di tengah persoalan tersebut, akhlak mulia Nabi Muhammad SAW baik dalam berinteraksi dengan sesama maupun dalam berdakwah, adalah rujukan utama bagi kita untuk kembali menumbuhkan nilai-nilai kesantunan, kasih sayang, dan penghormatan pada sesama. 

Catatan sejarah yang merekam bagaimana akhlak dan karakteristik dakwah Nabi SAW adalah sumber keteladanan yang tak akan pernah habis untuk digali dan dipelajari. Bagaimana sikap, perilaku, strategi dakwah, maupun kepemimpinan beliau selama menyampaikan ajaran Islam, ibarat mata air yang tak akan pernah kering yang akan selalu mengalirkan inspirasi bagi kita dalam menjalankan ajaran Islam serta menciptakan kedamaian di dunia. Wallahu a’lam.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak