Menjadi Mahasiswa Akademisi atau Organisatoris, Kamu Pilih yang Mana?

Budi Prathama
Menjadi Mahasiswa Akademisi atau Organisatoris, Kamu Pilih yang Mana?
Ilustrasi seorang mahasiswa. (Pixabay/@terimakasih0)

Menjadi mahasiswa itu bisa dibilang gampang-gampang susah, namun hal yang pasti saat sudah menjadi mahasiswa tentu gak sama lagi saat masih siswa. Di waktu masih berstatus siswa mungkin masih disuap berbagai mata pelajaran oleh guru, dipenuhi berbagai aturan dan kedisiplinan. Tetapi kalau sudah jadi mahasiswa, asupan secara langsung oleh dosen itu gak sama lagi. Justru mahasiswa dituntut agar bisa mandiri dalam mengembangkan skill dan pengetahuannya sendiri. 

Dalam perhelatan sejarah, peran mahasiswa selalu menempati posisi terpenting. Misalnya bagaimana peran mahasiswa saat momen Sumpah Pemuda, peran mahasiswa saat menumbangkan Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi, bahkan peran dan sumbangsih mahasiswa di era sekarang ini masih menjadi harapan besar. 

Untuk itu, emang gak salah kalau mahasiswa mendapatkan label sebagai control sosial, agent pembaharu, dan sebagai intermediary  actor sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Artinya peran mahasiswa sangat besar untuk bisa berdiri di depan dalam membela mereka yang lemah. 

Sebagai seorang pembelajar, mungkin saja kita banyak menemui berbagai tipe mahasiswa di kampus-kampus. Tidak asing ditemui mahasiswa yang hanya datang mengikuti pelajaran saja, ada yang suka gaya-gayaan belaka, bahkan ada mahasiswa selalu tampil di garda terdepan untuk melakukan aksi demonstrasi. 

BACA JUGA: Mengharukan, Ini Penyebab Brasil Turunkan Kiper Ketiga saat Lawan Korea Selatan di Piala Dunia 2022

Iya, semua itu memang gak salah dan cara pilihan semua orang. Tetapi penting diingat bahwa tugas mahasiswa itu besar dan memang sejatinya akan menjadi generasi pelanjut untuk mengarungi perkembangan bangsa. 

Terkait dengan itu, mungkin gak asing bagi kita mendengar istilah mahasiswa akademisi ataupun mahasiswa organisatoris. Mahasiswa akademisi sering dilakoni sebagai mahasiswa yang sangat aktif di kampus namun kadang tidak terlalu berminat untuk ikut organisasi, artinya mahasiswa dengan tipe ini biasanya hanya berfokus pada pelajaran sesuai dengan jurusan yang diambil. 

Sementara gelar bagi mahasiswa organisatoris menyandang sebagai mahasiswa yang sangat antusias dan loyal untuk berorganisasi. Mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan itu sangatlah banyak, dan melalui organisasi menjadi salah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Apalagi kita tahu bahwa organisasi itu ada banyak sekali dan masing-masing hampir memiliki ajarannya. Artinya tiap organisasi memiliki ciri khas tersendiri dengan bentuk pendidikan kader yang berbeda-beda.

Biasanya kalau orang yang terlalu organisatoris justru gak banyak mahasiswa justru menganggap kuliahnya gak terlalu penting. Artinya mereka lebih mementingkan urusan organisasi ketimbang dengan urusan perkuliahan. Namun bukan berarti kalau semua mahasiswa organisatoris itu semuanya menyepelekan kuliahnya, itu sih catatan pentingnya. 

Terkait dengan dengan tipe mahasiswa tersebut, menurut saya semuanya ada jalannya masing-masing. Gak ada yang bisa mastikan bahwa mereka yang akademisi sudah otomatis akan sukses di masa yang akan datang, dan begitupun sebaliknya mahasiswa organisatoris tidak selamanya akan menyepelekan kuliahnya. 

Itulah bagian dari perjalan hidup seorang mahasiswa, cepat selesai ataupun lambat itu adalah pilihan dan kita gak boleh langsung menghakiminya. Artinya kalau menjadi mahasiswa penting untuk selalu berpegang teguh pada prinsip. Dan kalau bisa dan memang bisa kalaupun memang ada kemauan, menjadi mahasiswa akademisi dan organisatoris sebenarnya bisa berjalan dua-duanya, hanya kedisiplinan dan manajemen waktulah yang patut untuk diperhatikan. 

Video yang Mungkin Anda Suka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak