Kolom
Silent Bullying: Perundungan yang Tak Dianggap Perundungan
Ada satu jenis perundungan yang tidak pernah dipaparkan di buku pelajaran, tidak pernah disebut dalam seminar anti-bullying, dan tidak bisa direkam kamera CCTV. Tidak ada tamparan, tidak ada bentakan, tidak ada caci maki. Hanya diam. Tapi diam itu tajam, menusuk, dan menumpuk dalam cara yang sulit dijelaskan. Saya menyebutnya: silent bullying—perundungan yang tidak dianggap perundungan.
Perundungan diam-diam merupakan jenis perundungan yang melibatkan tindakan mengucilkan, mengabaikan, atau merendahkan individu tanpa adanya konfrontasi secara langsung. Beberapa contohnya adalah menyembunyikan informasi krusial di kantor, tidak merespons pesan, membicarakan seseorang di belakang, atau secara sengaja menyingkirkan orang tersebut dari kelompok.
Saya pernah mengalaminya, dan saya tahu banyak orang juga mengalami hal yang sama. Tapi pengalaman serupa ini jarang adanya tindakan, karena bentuknya memang tidak heboh dan dramatis. Tidak ada luka fisik untuk dijadikan bukti. Namun, menimbulkan perasaan tidak nyaman yang berulang.
Pengalaman pertama yang membuat saya sadar bahwa diam bisa melukai adalah ketika saya masih aktif di sebuah grup WhatsApp. Saya bukan tipe yang cerewet. Saya hanya sesekali menyapa, bertanya kabar, atau menanggapi pembahasan ringan. Tapi hampir setiap kali saya mengirim pesan, tidak pernah ada yang merespons.
Anehnya, ketika orang lain yang mengirim pesan lima menit kemudian, grup itu mendadak hidup. Balasan muncul berseliweran, emoji tumpah ruah, bercandanya ramai. Saya membaca semuanya sambil menahan napas. Lama-lama saya bertanya dalam hati: Ada apa dengan saya?
Apakah saya membosankan? Apakah mereka tidak suka saya? atau… apakah mereka memang tidak ingin saya ada di sana?
Rasanya seperti berdiri di tengah keramaian, tapi dianggap transparan. Ada di satu lingkungan tetapi tidak diakui keberadaannya. Dan jujur saja, itu lebih menyesakkan daripada konflik terbuka.
Bertahun-tahun setelah itu, saya mendengar cerita teman saya yang lain. Ia menangis sambil berkata bahwa teman satu gengnya pergi nongkrong tanpa mengajaknya. Yang lebih menyakitkan, ia mengetahuinya dari Instagram Story.
Ada foto minuman, tawa, piring kosong. Belakangan ia tahu ternyata mereka punya grup lain yang sengaja tidak mengikutsertakan dia. Alasannya tidak pernah jelas, tapi bukankah “ketidakjelasan” itu justru yang membuat luka semakin dalam?
Diam-diam menghilangkan satu orang dari lingkaran pertemanan; diam-diam memastikan ia tidak ikut; diam-diam merayakan sesuatu tanpa dirinya adalah perundungan yang tidak disadari. Lagi-lagi, di sana tidak ada kata-kata kasar. hanya peniadaan sembunyi-sembunyi.
Saya juga pernah mengalami bentuk lain: pengabaian sosial yang terlihat kecil, tapi meninggalkan bekas panjang. Saat sekolah dan perkuliahan, saya beberapa kali menyapa dosen atau senior.
Saya mengucapkan salam, cukup jelas untuk didengar. Mereka menoleh sebentar, wajahnya datar, lalu memalingkan kepala seolah tidak melihat saya.Saya berdiri canggung, sambil berpura-pura tidak peduli.
Padahal malamnya saya memikirkannya terus: apakah suara saya terlalu pelan? Apakah saya salah? Apakah mereka memang tidak suka saya ? Atau sebenarnya ada hierarki sosial tak kasat mata yang sengaja membuat sebagian orang merasa kecil?
Yang tidak disadari banyak orang adalah: silent bullying ini membuat korbannya overthinking tanpa akhir.
Korban silent bullying ini bisa mempertanyakan diri sendiri berkali-kali. Apakah karena saya yang paling miskin? apa karena saya paling jelek, atau yang paling tidak menarik? Dan yang terburuk: perasaan takut bahwa mungkin kami sedang dibicarakan di belakang—meski tak pernah ada bukti nyata. Semua ketakutan itu tidak muncul dari satu tamparan, tapi dari seribu diam yang terjadi secara berulang-ulang.
Jika kamu pernah merasa tidak dilihat, atau sengaja diabaikan tanpa alasan, percayalah bahwa perasaan itu valid. Kamu hanya manusia yang ingin diakui keberadaannya.
Silent bullying mungkin tidak bising, tapi efeknya bisa menghancurkan kepercayaan diri seseorang sedikit demi sedikit. Dan sekarang mungkin sudah waktunya kita berhenti meremehkannya dan menamai luka itu dengan benar.
Dan saya rasa, sebagai pelaku silent bullying, alangkah baiknya memberi tahu langsung kepada teman yang mungkin dikucilkan alasan kenapa mereka dianggapp berbeda. Tidak masalah jika harus memberi tahu hal menyakitkan seperti misalnya: bau badannya mengganggu, atau ia pernah menyindir atau membuat sakit hati seseorang, atau perilakunya aneh dan tidak umum, dibanding harus dibicarakan dan diam-diam dikucilkan tanpa tahu sebabnya.