Kolom
Galodo Bukan Titik Nol: Catatan Hikmah Lembaran Hidup Baru yang Lebih Baik
Galodo telah menghancurkan Sumatera, khususnya Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Beberapa perkampungan hilang ditelan banjir.
Rumah-rumah hancur, bahkan hanyut terbawa banjir. Peternakan musnah. Listrik padam. Tak ada sinyal internet. Semua fasilitas umum juga ikut hancur. Beragam obyek wisata rusak dimakan galodo. Masyarakat telah kehilangan segalanya. Sumber penghasilan dan semua harta bendanya. Semua kembali ke titik nol. Tidak punya apa-apa lagi.
Banyak cerita pilu yang bermunculan di tengah musibah galodo ini. Sebuah keluarga terpaksa bertahan di hutan agar selamat dari bencana galodo.
Orang-orang rela menembus banjir dan longsor demi bertemu sanak-saudaranya. Seorang pengungsi bahkan harus makan beras yang terbungkus lumpur demi bertahan hidup. Bayi kehilangan orang tuanya. Di daerah terisolir, banyak warga yang meninggal dunia akibat kelaparan. Banjir besar telah membawa kayu-kayu gelondongan dan merusak peradaban.
Namun, musibah itu juga membuat jiwa persatuan bangsa Indonesia bangkit. Banyak pihak bahu-membahu memberikan bantuan. Satu milyar terkumpul dalam sekejap. Mereka bergotong-royong untuk menolong warga yang terkena musibah.
Para relawan menembus banjir dan lumpur demi menyalurkan bantuan. Bersama-sama membersihkan rumah sakit agar bisa berfungsi kembali. Si paling-paling mendatangi berbagai tempat untuk menyalurkan bantuan. Di balik musibah tersimpan kisah manis negeriku.
Galodo Bukan Titik Nol
Walau musibah telah menghancurkan segalanya, tapi galodo bukan titik nol. Musibah galodo adalah awal kehidupan baru. Semua boleh hilang ditelan galodo. Namun, akan banyak hal baru yang datang, menggantikan yang telah hilang. Warga Sumatra harus bangkit, memulai kehidupan barunya. Life must go on. Hidup ini harus terus berjalan.
Jiwa gotong royong, persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia menjadi titik awal kebangkitan dari musibah galodo. Warga Sumatra tidak sendirian. Masih banyak saudara sebangsa dan setanah air yang rela memberikan bantuan. Mereka siap memberikan bantuan moril dan materil.
Pak Anies menghibur anak-anak dengan bercerita. Juga memborong hasil kebun salah satu warga adalah contoh nyata bentuk kepedulian tersebut. Bahkan, jurnalis Indonesia yang paling berpengaruh, Najwa Shihab pun ikut terjun ke lapangan. Pemerintah, komunitas, selebriti, berbagai perusahaan, dan masyarakat umum siap terjun untuk bergerak. Memperbaiki kerusakan akibat galodo.
Perbaikan Infrastruktur Awal Kehidupan Baru di Sumatra
Berbagai fasilitas umum telah banyak hancur akibat galodo. Jalan-jalan rusak. Jembatan hancur diterjang galodo. Jaringan komunikasi terputus. Listrik padam. Akses masuk ke berbagai wilayah pun menjadi sangat sulit. Walau berbagai fasilitas umum telah rusak, tapi kita tak ingin harapan dan kehidupan warga Sumatra ikut hancur bersama galodo. Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur menjadi awal kehidupan baru di Sumatra.
Seminggu setelah musibah galodo, saudaraku harus terbang ke Aceh demi memperbaiki infrastruktur tersebut. Di tengah kecemasan keluarga akan keselamatannya, dia terbang untuk memperbaiki penerangan di Aceh. Aceh dan wilayah Sumatra lainnya bisa tersenyum kembali. Lampu-lampu kembali menyala dan jaringan komunikasi bisa dilakukan. Sebuah awal kehidupan baru telah dimulai.
Tentara dan warga pun bergotong royong membangun rumah dengan memanfaatkan kayu-kayu gelondongan yang dikirim galodo ke perkampungan. Para relawan membentuk dapur-dapur umum agar warga tak kelaparan. Ada pula yang menyediakan air bersih. Semua pihak telah mulai bergerak untuk kembali membangun peradaban manusia di Sumatra. Mereka harus kembali hidup normal. Musibah boleh datang tapi semangat juang dan pantang mundur akan mengalahkan segalanya.
Tiba saatnya bagi pemerintah untuk memperbaiki akses masuk ke berbagai wilayah. Memperbaiki jalan-jalan rusak agar bisa digunakan dan dilalui berbagai jenis kendaraan. Memperbaiki jembatan yang terputus agar masyarakat bisa terhubung kembali. Kisah pejabat yang hampir celaka akibat tak adanya jembatan itu semoga menjadi motivasi kuat untuk mulai membangun Sumatra.
Pembangunan di Sumatra harus dimulai lagi. Membangun kebutuhan fisik dan mental. Sekolah, mesjid, perkantoran, tempat wisata dan berbagai sarana prasarana lainnya.
Pemerintah pun wajib menghidupkan kembali roda perekonomian di Sumatra. Perekonomian adalah nyawa warga Sumatra. Mereka harus kembali bisa mendapatkan penghasilan demi membiayai hidup keluarga.
Upaya ini telah dimulai dengan berfungsinya kembali jembatan Meureudu di Pidie Jaya sejak 12 Desember 2025. Bina Marga telah melakukan perbaikan dan penimbunan pada oprit jembatan. Dengan demikian, jalur Pidie Jaya dan Bireun bisa tersambung kembali. Bantuan bisa disalurkan ke daerah-daerah yang terisolir.
Pemerintah juga telah banyak membuka ruas-ruas jalan lainnya. Selain Meureudu, ada juga ruas jalan Lhokseumawe hingga Langsa, ruas Langsa dengan Kota Kuala Simpang. Jalur menuju Sumatra Utara dari Kuala Simpang juga telah dibuka kembali.
Jembatan Bailey di Awe Geutah juga sedang dikejar deadline penyelesaiannya pada 27 Desember 2025. Namun demikian, jembatan ini bisa digunakan dengan kapasitas terbatas. Berfungsinya jembatan-jembatan ini menjadi awal kehidupan baru pasca bencana di Sumatra.
Berbagai alat berat pun telah didatangkan untuk membuka kehidupan yang normal bagi warga Sumatra. Pasca bencana, lumpur warisan galodo harus dibersihkan. Kayu-kayu gelondongan yang menjadi sampah pun wajib diangkat. Perkampungan harus dibersihkan agar warga bisa menjalani rutinitasnya kembali.
Berbagai alat berat telah disebar di berbagai titik strategis. Excavator, dozer, loader, grader, beco loader, dan dump truk dikerahkan untuk percepatan pembersihan material banjir dan longsoran, pemulihan akses jalan, serta penanganan fasilitas publik. Setelah selesai, anak-anak diharapkan bisa bersekolah lagi, kantor-kantor bisa beroperasi kembali. Kehidupan yang normal bisa berlangsung lagi. Galodo bukan titik nol.
Selain itu, penyediaan air bersih juga menjadi kebutuhan penting. Air adalah sumber kehidupan. Pengeboran air baku pun tersebar di dua puluh empat titik. Hal ini dilakukan untuk pelayanan air bersih darurat pasca bencana. Dengan adanya air bersih, kondisi sosial dan kesehatan masyarakat bisa lebih baik lagi. Rumah sakit juga bisa beroperasi lagi dengan sanitasi yang lebih baik bagi tenaga kesehatan, pasien, dan pengunjung rumah sakit.
Dengan beragam pembangunan darurat pasca bencana tersebut serta kerja sama berbagai pihak, musim panen durian bisa berbuah manis. Masyarakat Sumatra bisa memulai kehidupannya yang baru. Secara perlahan, mereka bisa bangkit lagi. Roda perekonomian berjalan lagi. Galodo bukan titik nol. Namun, lembaran baru untuk memulai hidup yang lebih baik lagi.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS