Kolom
Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?
Saya pernah berada di titik di mana apa pun yang saya lakukan terasa seperti keputusan yang salah. Saat fokus pada karier, ada yang bilang saya terlalu ambisius.
Tapi saat mencoba lebih hadir untuk keluarga, saya justru dianggap kurang berkembang. Rasanya seperti tidak ada ruang yang benar-benar “tepat” karena selalu ada standar lain yang menunggu untuk menilai.
Di situlah saya mulai sadar kalau mungkin ini bukan soal pilihan yang keliru, tapi tentang standar ganda yang memang tidak pernah benar-benar adil.
Karier atau Keluarga: Dua Pilihan yang Sama-sama Diperdebatkan
Saya sering mendengar bahwa perempuan sekarang punya lebih banyak pilihan. Dan itu benar. Tapi yang jarang dibicarakan adalah bagaimana setiap pilihan itu selalu datang dengan penilaian.
Ketika memilih serius membangun karier, saya dianggap “terlalu sibuk” dan “lupa kodrat”. Ada kekhawatiran yang dilontarkan, seolah-olah keberhasilan ini akan mengorbankan kehidupan pribadi.
Tapi di sisi lain, saat memilih untuk lebih memprioritaskan keluarga, saya justru dianggap menyia-nyiakan potensi. Sia-sia sudah sekolah tinggi, ilmu tidak terpakai, atau statement lain sejenisnya.
Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah ada titik tengah yang benar-benar diterima? Atau memang perempuan selalu dituntut untuk sempurna di dua sisi sekaligus?
Terlalu Kuat atau Terlalu Lemah
Di tempat kerja, saya berusaha tegas agar dianggap kompeten. Tapi sikap itu kadang ditafsirkan sebagai “terlalu galak” atau “tidak ramah”. Sementara jika lebih lembut dan kooperatif, saya justru dianggap kurang tegas dan mudah diabaikan.
Saya seperti harus menakar setiap ekspresi, setiap kata, setiap sikap agar tidak jatuh ke label yang salah. Tapi masalahnya, batas antara “tepat” dan “tidak” itu sering berubah tergantung siapa yang menilai.
Sebenarnya urusan penilaian, laki-laki mungkin juga menghadapi problem ini. Hanya saja, untuk perempuan, ruang toleransinya terasa lebih sempit.
Penampilan yang Selalu Jadi Sorotan
Hal lain yang tidak kalah melelahkan adalah soal penampilan. Jika saya terlalu memperhatikan cara berpakaian atau berdandan, saya dianggap “terlalu ingin terlihat”. Tapi jika tampil sederhana, saya malah dinilai kurang merawat diri.
Standarnya selalu bergerak, tapi tuntutannya tetap sama: harus pas, harus sesuai, harus tidak berlebihan. Padahal definisi “berlebihan” itu sendiri bisa berbeda-beda bagi setiap orang.
Saya pun jadi sadar kalau tubuh perempuan sering kali diposisikan sebagai objek penilaian publik. Dan apa pun yang saya lakukan, selalu ada komentar yang mengikuti.
Keputusan Pribadi Jadi Konsumsi Publik
Hal-hal yang seharusnya personal sering berubah menjadi bahan diskusi bersama. Kapan menikah, punya anak atau tidak, bekerja atau tidak. Semuanya terasa seperti keputusan yang boleh dinilai orang lain.
Saya pernah mencoba menjelaskan, memberi alasan, bahkan membenarkan pilihan yang saya ambil. Tapi lama-lama saya merasa lelah sendiri.
Karena ternyata, bukan penjelasan saya yang kurang, tapi ekspektasi orang lain yang memang tidak pernah selesai. Apa pun yang saya pilih, selalu ada sudut pandang yang menganggap itu salah.
Hidup di Bawah Bayang-bayang Penilaian
Standar ganda ini membuat saya sering meragukan diri sendiri. Saya jadi overthinking sebelum mengambil keputusan. Takut salah, takut dinilai, dan takut tidak sesuai dengan harapan.
Saya bahkan jadi terlalu sibuk mempertimbangkan apa kata orang, sampai hampir lupa bertanya: apa yang sebenarnya aku inginkan?
Padahal, hidup dengan terus-menerus mencoba memenuhi ekspektasi yang bertabrakan itu melelahkan. Tidak ada garis akhir. Tidak ada titik untuk merasa benar-benar cukup.
Melepaskan Kebutuhan untuk Selalu “Benar”
Pelan-pelan, saya mulai menyadari kalau saya tidak bisa memenangkan semua penilaian. Dan mungkin, saya memang tidak perlu melakukannya.
Saya mulai belajar melepaskan kebutuhan untuk selalu terlihat benar di mata semua orang. Karena selama saya masih bergantung pada standar yang berubah-ubah itu, saya akan terus merasa salah.
Saya pun mulai bertanya pada diri sendiri: apakah keputusan ini membuat saya lebih tenang? Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya yakini? Pertanyaan sederhana yang jauh lebih penting daripada mencoba memenuhi semua ekspektasi.
Menentukan Standar Versi Sendiri
Hari ini, saya mencoba membangun standar versi sendiri. Bukan berarti saya tidak peduli pada orang lain. Hanya tidak lagi menjadikan penilaian mereka sebagai satu-satunya acuan.
Saya mulai menerima bahwa tidak semua orang akan setuju dengan pilihan yang saya ambil. Dan itu tidak apa-apa. Sebab menjadi perempuan di tengah standar ganda memang tidak mudah.
Namun, jika saya terus hidup dengan aturan yang tidak pernah adil, saya hanya akan terus merasa bersalah. Jadi, mungkin kuncinya berani memilih meski tahu akan tetap ada yang menganggapnya salah.