Kolom

Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?

Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?
Earphone Kabel (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Pernahkah kita melihat anak muda di kereta atau angkutan umum dengan kabel putih meliuk dari telinga menuju saku celananya? Atau mungkin sudah mulai bosan dengan earphone bluetooth yang mati di tengah perjalanan? Saya mengalaminya dua minggu lalu.

Saat sedang asyik mendengarkan podcast, tiba-tiba TWS (True Wireless Stereo) kiri saya mati. Saya panik, mencari charger, tapi baterainya pun habis. Sejak saat itu, saya kembali menggunakan earphone kabel lama yang tersimpan di laci dan ternyata, saya tidak sendirian.

Kembalinya penggunaan earphone kabel di tahun 2026, setelah hampir satu dekade didominasi TWS atau earphone bluetooth, kini generasi Z dan milenial mulai melirik kembali earphone kabel sebagai pilihan utama. Mengapa ini terjadi? Dan apa dampaknya? Mari kita kupas tuntas.

Berdasarkan laporan Global Consumer Audio Trends 2026 yang dirilis oleh Future Source Consulting, terjadi peningkatan penjualan earphone kabel sebesar 42% secara global dibandingkan tahun 2025. Sementara itu, pertumbuhan penjualan TWS hanya 8%, angka ini terus melambat secara drastis dari tahun-tahun sebelumnya.

Di Indonesia, pencarian kata kunci "earphone kabel" di online shop naik 3 kali lipat sejak Januari 2026. Yang menarik, 65% pembelinya adalah kelompok usia 15–25 tahun. Bukan orang tua yang “gaptek”, melainkan anak muda melek teknologi yang justru sengaja kembali ke kabel.

Google Trends juga mencatat lonjakan pencarian “earphone kabel vs bluetooth” sebesar 210% pada kuartal pertama 2026. Fenomena ini bahkan diberi tagar #KabelIsBack di TikTok dan X, dengan lebih dari 50 juta tayangan. Para kreator konten berlomba-lomba memamerkan earphone kabel retro mereka.

Kira-kira apa yang mendorong anak muda beralih kembali ke teknologi yang dianggap “kuno”? Setidaknya ada empat penyebab utama, pertama yakni bosan dengan mengisi daya, kita di generasi yang hidup dengan ponsel, laptop, dan smartwatch. Semua barang tersebut perlu di-charge, hingga merasa lelah dengan satu perangkat lagi yang harus diisi dayanya. Earphone kabel tidak pernah mati. Selama ponsel hidup, suara mengalir.

kedua, adanya masalah koneksi bluetooth yang terus putus-sambung, lag, atau hanya satu earbud yang tersambung adalah keluhan klasik pengguna TWS. Terdapat survei internal dari AudioTech Review 2026 menyebutkan 73% responden pernah mengalami frustrasi karena koneksi bluetooth yang tidak stabil. Earphone kabel bebas dari masalah itu.

Ketiga, harga yang lebih ramah di kantong, earphone kabel berkualitas baik bisa didapatkan dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Sementara TWS dengan kualitas suara setara bisa mencapai Rp 500.000 ke atas. Di tengah tekanan ekonomi global 2026, para anak muda generasi z memakai kabel, karena adanya efisiensi yang menjadi pertimbangan utama.

Keempat, nostalgia dengan gaya tahun 2000-an, gaya ini masih kuat di 2026 membawa kembali aksesori lawas. Earphone kabel dianggap sebagai statement gaya untuk menunjukkan bahwa seseorang tidak bergantung pada teknologi sekali pakai.

Pengaruh fenomena ini bukan sekadar tren belanja, melainkan mengubah perilaku sehari-hari. Anak muda menjadi lebih sadar akan digital minimalism, serta menjadi gerakan untuk mengurangi ketergantungan pada gadget. Dengan earphone kabel, mereka tidak perlu khawatir kehilangan satu earbud kecil atau lupa membawa kotak cas.

Selain itu, muncul komunitas “Wired Heads” di berbagai kota besar. Mereka mengadakan kopdar (kopi darat) dengan tema “Unplug from Wireless” suatu paradoks yang menarik. Mereka justru terhubung secara sosial karena memilih kabel.

Di lingkungan kampus dan kantor, earphone kabel juga mengurangi gangguan saat rapat daring karena tidak ada jeda suara akibat interferensi bluetooth. Hal ini berdampak pada produktivitas anak muda makin meningkat.

Fenomena ini tidak lepas dari dampak yang ditimbulkan, karena kita dapat berperan penurunan limbah elektronik. TWS memiliki baterai litium kecil yang sulit didaur ulang. Setiap tahun, diperkirakan 1,5 miliar TWS berakhir di tempat pembuangan sampah global. Dengan kembali ke earphone kabel yang awet hingga 5–10 tahun, volume sampah elektronik dapat ditekan.

Adapula dampak ekonomi seperti, produsen aksesori mulai memproduksi ulang earphone kabel dengan desain modern kabel anti-kusut, jack L-shaped, bahkan yang kompatibel dengan USB-C. Harga kompetitif menguntungkan konsumen.

Namun ada dampak negatif kecil yakni potensi bahaya tersandung kabel bagi pengguna yang aktif bergerak. Tapi ini bisa diatasi dengan klip kabel atau rute kabel di dalam jaket.

Apakah earphone kabel lebih aman daripada TWS? Earphone kabel terbukti lebih aman baik dari sisi kesehatan maupun keamanan data, pertama dari radiasi elektromagnetik pada TWS yang mengandalkan gelombang bluetooth (frekuensi 2,4 GHz) yang dipancarkan dekat dengan kepala. Meskipun studi belum membuktikan bahaya jangka pendek, beberapa ilmuwan menyarankan prinsip kehati-hatian.

Untuk earphone kabel mentransmisikan sinyal listrik melalui kawat, tanpa radiasi nirkabel. Bagi mereka yang sensitif terhadap EMF (Electromagnetic Field), kabel adalah pilihan paling aman.

Kedua dari sisi keamanan siber, belum banyak diketahui, perangkat bluetooth sebenarnya rentan terhadap serangan bluebugging atau bluesnarfing, hal ini bisa menyebabkan hacker menyadap sebuah percakapan atau mengirim malware. Earphone kabel adalah jalur fisik yang tidak bisa diretas dari jarak jauh.

Ketiga yaitu gampang tertukar, karena TWS yang mudah jatuh atau tertukar dengan milik orang lain berisiko higienis (infeksi telinga). Earphone kabel tetap menempel di tubuh kita sendiri.

Fenomena earphone kabel di 2026 bukan sekadar nostalgia kosong. Ini adalah respons cerdas anak muda terhadap kelelahan teknologi nirkabel yang tidak sempurna. Mereka memilih kabel karena praktis, murah, awet, dan lebih aman. Bukan berarti TWS mati, tetapi kabel telah menemukan tempatnya kembali.

Jadi, jika kita melihat seseorang memasang earphone kabel di kereta, jangan anggap kuno. Mereka mungkin lebih paham teknologi dari yang kita kira. Saya sendiri sekarang selalu membawa earphone kabel di tas sebagai cadangan, sekaligus pengingat bahwa kadang yang sederhana adalah yang terbaik.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda