Ada satu ironi yang diam-diam tumbuh di tengah kehidupan Generasi Z. Pada usia yang secara sosial dianggap produktif dan matang untuk membangun kemandirian, justru akses terhadap hunian semakin menyempit. Rumah yang dahulu ditempatkan sebagai kebutuhan dasar kini berubah menjadi kemewahan. Bahkan, tempat tinggal sementara seperti kos pun pelan-pelan bergerak ke arah yang tidak lagi masuk akal.
Generasi Z tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka tumbuh di tengah kenaikan harga tanah, perubahan pola kerja, dan kebijakan perumahan yang tidak pernah benar-benar berpihak pada akses yang adil. Ketika publik gemar menyederhanakan persoalan ini sebagai akibat gaya hidup, yang luput dibicarakan adalah fakta bahwa struktur ekonomi dan tata kelola ruang telah membuat hunian semakin jauh dari jangkauan generasi muda.
Harga Tanah Melonjak, Upah Tertinggal Jauh
Masalah paling mendasar dalam krisis kepemilikan rumah bagi Generasi Z terletak pada harga tanah dan rumah yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan. Di kota-kota besar dan wilayah penyangga, tanah telah lama diperlakukan sebagai komoditas investasi. Nilainya naik bukan karena kebutuhan warga, melainkan karena spekulasi dan akumulasi modal.
Sementara itu, pendapatan generasi muda bergerak lambat. Banyak dari mereka bekerja di sektor jasa, kreatif, dan digital yang menawarkan fleksibilitas, tetapi minim kepastian. Upah sering kali hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk membangun masa depan. Dalam kondisi seperti ini, menabung untuk uang muka (down payment) rumah menjadi rencana yang terus tertunda.
Kesenjangan ini menciptakan realitas baru. Rumah tidak lagi sekadar mahal, tetapi secara sistemik memang tidak disiapkan untuk dapat dimiliki oleh generasi yang baru memasuki dunia kerja. Negara membiarkan pasar menentukan arah, padahal pasar selalu bekerja untuk mereka yang sudah memiliki akses modal sejak awal.
Harga Kos Kian Tak Masuk Akal, Harapan Punya Rumah yang Tidak Tergapai
Di tengah sulitnya membeli rumah, Generasi Z dipaksa berkompromi dengan pilihan tinggal di kos atau hunian sewa. Namun, bahkan pilihan ini kini tidak lagi ramah. Harga kos di kawasan perkotaan melonjak tajam, sering kali tidak sebanding dengan kualitas ruang yang ditawarkan.
Kamar sempit dengan fasilitas terbatas dihargai jutaan rupiah per bulan. Lokasi yang dekat dengan pusat kerja dan pendidikan menjadi alasan pembenar, seolah-olah jarak dapat menghapus persoalan rasionalitas harga. Dalam situasi ini, generasi muda membayar mahal hanya untuk memiliki ruang tidur dan sedikit privasi.
Ironinya, biaya kos yang tinggi justru menggerus peluang untuk menabung. Setiap bulan, sebagian besar pendapatan habis untuk sewa, transportasi, dan kebutuhan dasar. Harapan memiliki rumah sendiri pun semakin menjauh, bukan karena tidak direncanakan, melainkan karena terus dikalahkan oleh kebutuhan jangka pendek yang tidak bisa ditunda.
Di titik ini, menyewa bukan lagi pilihan strategis, melainkan keterpaksaan. Generasi Z terjebak dalam siklus bertahan hidup. Mereka bekerja untuk membayar tempat tinggal sementara, tanpa pernah benar-benar mendekati kepemilikan hunian yang permanen.
Negara yang Terlambat Hadir
Persoalan hunian Generasi Z pada akhirnya bermuara pada absennya peran negara yang kuat. Rumah diperlakukan sebagai urusan pasar, bukan sebagai hak sosial. Program perumahan memang tersedia, tetapi sering kali tidak menjawab kebutuhan nyata generasi muda.
Rumah bersubsidi dibangun jauh dari pusat aktivitas, minim transportasi publik, dan terpisah dari ekosistem kerja. Bagi Generasi Z yang hidup dalam ritme mobilitas tinggi, pilihan ini terasa tidak relevan. Akhirnya, mereka kembali ke kos mahal di kota, membayar harga tinggi demi akses terhadap pekerjaan.
Kebijakan perumahan juga tidak terintegrasi dengan kebijakan upah, transportasi, dan tata ruang. Rumah dibangun tanpa memikirkan bagaimana penghuninya bekerja, berpindah, dan hidup. Dalam situasi ini, solusi yang dihadirkan hanya bersifat administratif, bukan substantif.
Rumah dan Masa Depan Sosial
Krisis hunian Generasi Z bukan sekadar soal properti, melainkan soal arah pembangunan. Ketika generasi produktif tidak mampu mengakses ruang hidup yang layak, maka yang terancam adalah keberlanjutan sosial itu sendiri. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi fondasi bagi kehidupan yang stabil dan bermartabat.
Jika harga kos terus melambung dan rumah terus menjauh dari jangkauan, Generasi Z akan hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan. Mereka bekerja tanpa rasa aman, merencanakan masa depan tanpa pijakan ruang yang pasti.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya bukan lagi mengapa Generasi Z sulit membeli rumah. Pertanyaannya adalah untuk siapa sistem perumahan ini dirancang. Selama hunian diperlakukan sebagai komoditas dan bukan hak, selama negara absen dari koreksi struktural, mimpi memiliki rumah akan tetap menjadi cerita yang tidak pernah selesai bagi generasi muda hari ini.