Ketika Pancasila Tak Lagi Dihafal, Tapi Dialami di Kelas

Lintang Siltya Utami | Harsa Permata
Ketika Pancasila Tak Lagi Dihafal, Tapi Dialami di Kelas
Poster film Bumi Manusia [dok Falcon Pictures]

Mengajar Pancasila di kelas sering kali berhadapan dengan satu persoalan klasik: mahasiswa cepat bosan. Materinya dianggap normatif, atau terlalu ideal dan sulit dipraktikkan. Diskusinya kaku, dan Pancasila kerap dipersepsikan sebagai kumpulan sila yang harus dihafal, bukan nilai yang dihidupi.

Untungnya, sejak 2020 novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sudah termasuk dalam rencana pembelajaran mata kuliah Pendidikan Pancasila di universitas tempat saya mengajar, khususnya untuk membahas Sejarah Pergerakan Nasional. Untuk memperkaya pemahaman mahasiswa, saya kemudian melengkapinya dengan dokumenter tentang kisah Tirto Adhi Soerjo serta film Bumi Manusia, adaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah soal animo mahasiswa. Pada awalnya, pendekatan membaca novel secara mandiri—melalui instruksi di Learning Management System (LMS)—tidak selalu menghasilkan keterlibatan yang diharapkan. Karena itu, saya mencoba mengubah cara mendekati teks Bumi Manusia, dari sekadar kewajiban membaca menjadi pengalaman bersama di ruang kelas.

Pendekatan ini saya rancang menyerupai permainan yang menegangkan. Seorang mahasiswa saya tunjuk untuk membaca dua halaman di depan kelas, lalu ia menunjuk mahasiswa lain untuk melanjutkan dua halaman berikutnya, dan seterusnya. Setiap mahasiswa yang maju mendapat apresiasi berupa poin tambahan. Setelah sekitar 15–20 halaman dibaca bersama, mahasiswa kemudian saya tugaskan untuk menyelesaikan bacaan hingga minimal 50 halaman.

Pada pertemuan berikutnya, film Bumi Manusia diputar di kelas dengan satu prasyarat sederhana: mahasiswa harus mampu menjawab kuis lisan tentang alur dan tokoh cerita. Jika tidak, pembacaan novel dilanjutkan kembali.

Jika pada akhirnya mahasiswa di kelas tersebut bisa menjawab dengan baik semua kuis yang saya berikan, maka film akan saya putarkan selama beberapa menit. Setiap 20–30 menit biasanya akan saya hentikan untuk mengajak diskusi para mahasiswa tentang kaitan isi cerita yang ditonton dengan sejarah pergerakan nasional dan Pancasila.
Setelah selesai menonton, saya akan bertanya lagi: bagaimana pandangan para mahasiswa tentang perbandingan antara novel dan film? Apakah film sudah bisa menggambarkan sepenuhnya isi cerita dan roh novel, atau tidak?

Sebagian besar mahasiswa biasanya lebih menyukai filmnya karena dibintangi Iqbaal Ramadhan yang ganteng dan Mawar de Jongh yang cantik. Selain itu, karena film lebih menyoroti kisah cinta Minke dan Annelies, biasanya para mahasiswa yang sebagian besar anak muda akan sangat antusias karenanya.

Akan tetapi, saya juga memberikan pandangan tersendiri yaitu bahwa seharusnya Bumi Manusia tidak dipahami sebagai kisah cinta belaka, tetapi bagaimana kondisi bangsa kita di bawah sistem kolonialisme Belanda yang penuh dengan diskriminasi dan ketidakadilan.

Hal yang kemudian mendorong Minke (karakter yang terinspirasi dari Tirto Adhi Soerjo) dan para intelektual muda lainnya untuk berjuang lewat organisasi. Minke dan pelopor pergerakan nasional adalah golongan intelektual Indonesia generasi pertama, yang kemudian melahirkan golongan intelektual generasi kedua yang dalam sejarah berhasil merumuskan Pancasila, memerdekakan bangsa Indonesia, dan mendirikan negara Indonesia.

Persepsi mahasiswa tentang novel Bumi Manusia dan sejarah pergerakan nasional serta perumusan Pancasila ini biasanya bisa saya tangkap di esai pada saat UTS, karena Bumi Manusia, sejarah pergerakan nasional, dan perumusan Pancasila adalah pilihan topik dalam soal esai UTS.

Pasca-UTS, biasanya kelas saya akan diisi oleh presentasi tugas kelompok yang berupa ulasan terhadap beberapa film—sekitar tiga film yang saya pilih karena berkaitan dengan topik pembelajaran. Untuk topik Pancasila sebagai Ideologi, saya pilih film The Book Thief karena berkisah tentang bagaimana kondisi demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia di bawah ideologi Nazisme.

Film berikutnya adalah Istirahatlah Kata-Kata, film yang judulnya diambil dari salah satu puisi penyair Wiji Thukul. Film ini berkisah tentang pelarian Wiji Thukul di Pontianak pasca-peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) 1996. Ulasan tentang film ini biasanya saya tugaskan mahasiswa untuk menggunakan perspektif sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Namun, mahasiswa boleh menggunakan sila-sila lainnya karena Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh.

Terakhir, film yang saya jadikan materi pembelajaran adalah film Gie. Film ini berkisah tentang sepenggal kisah hidup Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia tahun 1960-an. Film ini saya kaitkan dengan implementasi sila ke-3, 4, dan 5 Pancasila. Biasanya untuk film Gie, mahasiswa saya tugaskan untuk membuat video presentasi. Mereka boleh menggunakan berbagai fitur untuk memperindah tampilan video presentasi kelompok masing-masing.

Untuk UAS, sejak semester ganjil 2025, saya tugaskan mahasiswa untuk membuat video implementasi sila-sila Pancasila. Video tersebut harus diunggah ke YouTube. Mahasiswa hanya mengumpulkan file yang berisi tautan YouTube, video presentasi, dan nama-nama anggota kelompok yang berpartisipasi.

Sejujurnya, saya lihat para mahasiswa mengerjakan tugas dengan antusias, presentasi juga dilakukan dengan penuh semangat. Suasana diskusi kelas jadi hidup. Ketika sesi presentasi film Istirahatlah Kata-Kata, saya buat jadi semacam permainan “keberanian bersuara, berbicara, dan berargumentasi”. Mahasiswa yang aktif di sesi ini, dalam artian aktif bertanya, menjawab pertanyaan, maupun memberikan pandangannya, akan saya beri poin ekstra yang akan diakumulasikan dalam nilai akhir untuk tugas ini.

Begitulah secara keseluruhan aktivitas kelas Pancasila yang saya ampu. Kalau dari hasil kerja para mahasiswa yaitu tugas-tugas yang dikumpulkan, saya lihat mereka jadi lebih bersemangat dan antusias. Mata kuliah Pendidikan Pancasila bukan lagi dilihat sebagai mata kuliah yang kaku dan membosankan.

Di sinilah sebenarnya bisa ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran Pancasila dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila seharusnya diisi oleh berbagai aktivitas yang memungkinkan para mahasiswa untuk mencari sendiri arti dan makna nilai-nilai Pancasila. Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana aplikasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Pancasila lewat analisis terhadap berbagai kisah dan pengalaman manusia lainnya dalam sastra dan film, sesungguhnya selain menambah wawasan, juga berfungsi untuk meningkatkan empati mahasiswa terhadap manusia lainnya yang mungkin berada dalam kondisi yang sangat sulit akibat sistem tempat mereka hidup bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Akhir kata, belajar Pancasila seharusnya menjadi hal yang mengesankan bagi para mahasiswa atau anak didik, karena dengan inilah mereka mampu untuk mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila yang ideal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah, para pengajar Pancasila seharusnya mengondisikan kelas Pancasila sedemikian rupa supaya pengalaman belajar Pancasila menjadi hal yang selalu dikenang oleh para pesertanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak