Mimpi Putih Tulang

M. Reza Sulaiman | Harsa Permata
Mimpi Putih Tulang
Ilustrasi suasana batin Usman dalam mimpi (Sumber Gambar: Ilustrasi AI)

Usman terbangun dengan napas yang memburu tepat setelah azan subuh berkumandang di langit Yogyakarta. Keringat dingin membasahi kaus tipisnya, meskipun udara di luar sedang dingin-dinginnya. Ia baru saja terlelap sejenak setelah salat subuh, namun dalam waktu yang sangat singkat itu, sebuah mimpi datang menyergapnya dengan intensitas yang tidak wajar.

Di dalam mimpinya, ia tidak lagi berada di kamarnya yang lembap, melainkan di sebuah negeri yang jauh, negeri Ratu Elizabeth yang selalu ia rindukan sekaligus ia takuti karena kemahalannya.

Dalam mimpi itu, kedua orang tuanya muncul. Ayahnya berdiri dengan wajah yang datar, hampir tanpa ekspresi, meminta Usman untuk segera membawanya ke Inggris. Usman mencoba menjelaskan betapa dingin dan menusuknya cuaca di sana, seolah-olah dingin itu adalah peringatan akan sesuatu yang lebih kelam.

Namun, sosok ayahnya hanya terdiam, menatap ke arah ufuk yang gelap. Usman merasa ini bukan sekadar bunga tidur biasa; ada pertanda yang ia sendiri belum mampu terjemahkan.

Pagi itu, Usman termenung sangat lama di meja makan. Pikirannya melayang pada kenyataan hidupnya di negeri "Zamrud Khatulistiwa" ini, yang meskipun indah, terasa sangat mengimpit baginya. Ia membandingkan biaya hidup yang berlipat-lipat jika ia harus kembali ke Inggris, tempat yang menurutnya jauh lebih nyaman asalkan seseorang memiliki uang yang cukup.

Persoalannya, Usman sadar betul siapa dirinya; ia bukanlah anak sultan atau pejabat tinggi negeri yang memiliki akses dana tak terbatas.

Pergolakan batin Usman semakin dalam ketika ia mengingat betapa sulitnya mencari jalan kembali ke sana. Beasiswa adalah satu-satunya harapan, namun bidang filsafat yang ia cintai seolah menjadi kutukan di negerinya sendiri. Pemerintah lebih mengutamakan lulusan ekonomi, hukum, atau sains.

Ia juga merasa terasing karena tidak memiliki jaringan "bawah tanah" yang konon bisa menentukan siapa yang berhak terbang ke luar negeri. Bahkan, ketika ia mencoba melamar langsung ke universitas di negeri Bertrand Russell, aplikasinya selalu layu sebelum berkembang, kalah saing oleh lulusan asli sana.

"Aku hanya lulusan negeri 'plus enam dua'," keluh Usman dalam hati. Di mata sebagian orang, filsafat adalah jalan buntu yang tidak menjanjikan masa depan cerah. Ia menatap Annie, istrinya, dan kedua anaknya, Ali dan Fatimah, dengan rasa bersalah yang menggerogoti. Bagaimana ia bisa menjamin masa depan mereka jika untuk mencukupi kebutuhan bulanan saja ia harus memeras otak setiap hari?

Annie, yang seolah bisa membaca kegelisahan suaminya, mencoba menghibur dengan mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu, mereka benar-benar berada di titik nadir setelah pulang dari Inggris dengan kantong kosong. Usman sempat bermimpi bertemu ayahnya yang membawa koran dan menunjukkan tulisan Usman yang dimuat.

Tak lama kemudian, tulisan-tulisannya memang benar-benar dimuat di berbagai media, memberikan napas tambahan bagi keuangan keluarga mereka. Kenangan itu membangkitkan ingatan Usman pada masa-masa sulitnya di Depok dan Sunter, di mana ia harus berangkat saat subuh dan pulang setelah matahari terbenam hanya untuk menyambung hidup.

"Ayah harus coba lagi mencari beasiswa ke Inggris," ucap Annie pelan sambil melirik Ali yang sedang duduk tenang di kursi rodanya. Ada kilat kesedihan di mata Annie. Ia ingat betapa Ali sangat menikmati trotoar atau footpath yang lebar dan ramah di Inggris. Ali yang cerdas, yang mampu berbicara seperti penutur asli bahasa Inggris dan sangat suka membaca buku di perpustakaan sekolahnya dulu. Namun, bagi Usman, kembali ke sana terasa seperti mengharapkan mukjizat Tuhan yang mustahil.

Malam harinya, setelah kelelahan mengurusi pekerjaan dan membantu Annie menjaga kedua anak mereka, Usman kembali terlelap. Kali ini, mimpinya jauh lebih mengerikan. Ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang mengenakan surjan lengkap dengan blangkon. Lelaki tua itu berambut perak keputihan dengan kulit yang putihnya menyerupai tulang yang sudah lama terkubur. Badannya kurus kering, namun tegap selayaknya atlet. Matanya hitam gelap dengan aura yang membuat Usman merinding.

"Bapak siapa?" tanya Usman dengan suara bergetar.

Lelaki itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa dingin. "Menurutmu, aku ini siapa? Lupakah kau pada diriku?"

Usman menggeleng ketakutan. "Saya benar-benar tidak tahu siapa Jenengan, Pak," jawabnya dalam bahasa Jawa yang halus.

Seketika itu juga, sosok itu lenyap, meninggalkan Usman yang terbangun dalam kondisi gelagapan dan haus yang luar biasa.

Keesokan harinya, Usman menceritakan mimpi aneh itu kepada Annie secara terperinci. Biasanya ia cepat lupa, namun kali ini setiap detail kulit putih tulang lelaki itu terekam jelas di ingatannya. Annie menyimpulkan bahwa sosok itu adalah Mbah Kakung, meskipun Usman sendiri belum pernah bertemu beliau semasa hidup. Annie menyarankan agar Usman mengikuti laku prihatin Mbah Kakung, yaitu puasa Senin–Kamis.

"Mungkin ini cara agar Ayah mendapatkan apa yang diinginkan," ujar Annie. Usman setuju untuk memulai puasa tersebut, meski ia memberikan syarat jika ia sedang tidak fit, ia tidak akan memaksakan diri karena takut jatuh sakit. Di sisi lain, ia mencoba merasionalisasi tindakannya dengan membaca artikel ilmiah bahwa puasa baik untuk kesehatan lambung dan penyakit degeneratif seperti asam urat serta hipertensi yang ia derita.

Satu bulan berlalu. Selama menjalani puasa itu, Usman merasakan perubahan yang aneh dalam dirinya. Meskipun impiannya ke luar negeri belum terwujud, hatinya menjadi sangat tenang dan gembira. Depresi yang biasanya menyergap jiwanya kini seolah menghilang ditelan kegelapan. Namun, ketenangan itu terasa seperti ketenangan sebelum badai.

Hingga suatu hari, seorang tukang pos datang membawa surat dari Kementerian Luar Negeri. Jantung Usman berdegup kencang saat membacanya di ruang tengah. Ia diminta menjadi Tenaga Ahli salah seorang Duta Besar Indonesia untuk Irlandia. Duta Besar itu ternyata adalah kawan lamanya saat menjadi aktivis pers kampus. Karena jasa politik kawannya tersebut dalam mendukung presiden terpilih, ia diberikan jabatan di Irlandia—negara yang bertetangga sangat dekat dengan Inggris.

"Alhamdulillah," ucap Annie penuh syukur. Irlandia memang bukan Inggris, namun jaraknya yang dekat memungkinkan mereka mengunjungi Inggris dengan biaya murah. Namun, saat kabar gembira itu disampaikan kepada Ali, reaksi anak itu justru di luar dugaan.

Ali menolak keras untuk ikut ke Irlandia. Ia tidak ingin meninggalkan teman-teman akrabnya di sekolah menengah yang sekarang. Usman mencoba membujuk, namun Ali tetap pada pendiriannya. Usman pun tersadar, Ali sudah terlalu lelah dengan kehidupan mereka yang sering berpindah-pindah. Ali, yang fisiknya membutuhkan bantuan Usman untuk setiap pergerakan—mulai dari tempat tidur ke kursi roda—kini menolak untuk bergerak lebih jauh lagi.

Usman kini terjepit di antara dua pilihan yang mustahil: mengejar impiannya kembali ke tanah impian melalui pintu Irlandia, atau tetap tinggal di sini demi kebahagiaan jiwa anaknya yang selama ini telah banyak berkorban bagi ambisi sang ayah. Di sudut ruangan, Usman seolah melihat bayangan lelaki berkulit putih tulang itu tersenyum, seakan-akan semua dilema ini adalah bagian dari "makna mimpi" yang harus ia tanggung.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak