The Citizen: Luka Imigran Muslim 2001 dan Wajah Amerika di Era Trump

Lintang Siltya Utami | Harsa Permata
The Citizen: Luka Imigran Muslim 2001 dan Wajah Amerika di Era Trump
Ibrahim Jarrah dalam poster film The Citizen (plex.tv)

Film The Citizen (2012) ini disutradarai oleh Sam Kadi. Berkisah tentang perjuangan seorang imigran Muslim asal Lebanon bernama Ibrahim Jarrah—diperankan dengan baik oleh Khaled El Nabawy.

Jujur saja, film ini sengaja saya pilih untuk diulas oleh para mahasiswa di kelas PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) yang saya ampu. Mengapa? Karena saya ingin para mahasiswa bisa mempresentasikan dan memahami betul apa itu relasi antara demokrasi, hak dan kewajiban warga negara, sampai ke definisi negara dan konstitusi. Dalam pandangan saya, semua itu tercermin lewat perjalanan hidup Ibrahim di film.

Para mahasiswa juga terlihat cukup antusias menonton film ini, menulis ulasan, serta melakukan presentasi secara berkelompok di depan kelas. Selain itu, akhir film yang cukup dramatis dan di luar dugaan membuat banyak mahasiswa bertepuk tangan.

Berbekal green card dari undian lotere, Ibrahim berangkat ke Amerika. Harapannya sederhana: jadi warga negara dalam lima tahun—sebuah jalan menuju American Dream yang ia bayangkan penuh kebebasan. Di sana, ia bertemu Diane (Agnes Bruckner) yang jadi sahabatnya, Mo (Rizwan Manji) si pemilik pom bensin keturunan Pakistan yang baik hati, Mickey (Brian Edward Marable) si tunawisma, sampai David (Dennis North). David ini seorang Yahudi yang ditolong Ibrahim saat dikeroyok kelompok fundamentalis rasis di sana.

Suatu malam, setelah diusir oleh Diane dari apartemennya karena kesalahpahaman, Ibrahim harus menggelandang di jalanan. Saat itu, kebetulan malam Natal, banyak orang bernyanyi dan mengucapkan selamat Natal. Nahasnya, David dipukuli segerombolan fundamentalis malam itu hanya karena mengucapkan Happy Hanukkah—nama hari raya kaum Yahudi. Ibrahim yang terpanggil naluri kemanusiaannya mencoba membela David, akan tetapi ia juga pada akhirnya dipukuli sampai pingsan oleh gerombolan fundamentalis tersebut.

Dalam cerita film ini, hidup Ibrahim berbalik 180 derajat setelah tragedi 11 September 2001. Ia ditangkap saat sedang melakukan ibadah salat. Ia kemudian ditahan berbulan-bulan cuma gara-gara nama belakangnya, “Jarrah”, sama dengan salah satu teroris WTC. Sebagai Muslim Timur Tengah, Ibrahim kenyang dicaci dan diserang secara rasial akibat Islamofobia yang ekstrem di sana.

Hebatnya, ia tetap sabar menjalani proses legal. Meski sempat patah arang alias kehilangan semangat saat pemerintah AS mau mendeportasinya, dukungan Diane dan David membuatnya bertahan. Akhirnya, Ibrahim menang di pengadilan, lolos dakwaan, dapat kewarganegaraan, dan bisa berkeluarga di Amerika.

Bagaimana relevansinya dengan kondisi sekarang? Meskipun latar cerita ini terjadi pada tahun 2001, namun trauma dan pola diskriminasi yang dialami Ibrahim seolah terulang kembali, bahkan lebih sistematis, di masa sekarang. Menurut saya, ini sangat kontekstual dengan AS di bawah Donald Trump periode kedua. Sosok yang menampilkan wajah buruk Amerika: imperialis dan rasis. Bagaimanakah kontekstualitasnya?

Pertama, yaitu brutalitas ICE yang melampaui milm. Di film, Ibrahim masih bisa membela diri di depan hukum. Tapi sekarang? Satgas imigrasi bentukan Trump, yakni ICE, jauh lebih brutal. Tercatat ada dua warga Amerika yang sampai harus kehilangan nyawa gara-gara brutalitas ICE ini. Ruang kemanusiaan yang dulu menyelamatkan Ibrahim sekarang makin sempit akibat kebijakan deportasi massal yang agresif.

Kedua, efek domino bagi masyarakat. Penegakan hukum yang agresif ini nggak cuma nyasar imigran gelap. Retorika anti-imigran memicu kekerasan sosial. Saat negara membiarkan kecurigaan pada kelompok tertentu, masyarakat merasa punya "izin moral" untuk mendiskriminasi orang lain. Hal ini bisa lebih berlipat ganda efeknya pada era digital saat sekarang ini, di mana semua orang bisa menyebarkan apa pun pandangannya, termasuk yang rasis sekalipun di media sosial. Hal yang ironisnya, terkadang malah banyak yang menyukainya dan memberikan tanda like di media sosial.

Ketiga, yaitu krisis konstitusi. Dalam film, Ibrahim memang bersumpah untuk membela Konstitusi AS dan martabat manusia. Tapi kalau aparat dipakai buat urusan domestik dengan dalih "keamanan nasional", itu namanya penyalahgunaan kekuasaan. Kebijakan luar negeri Trump yang arogan—seperti menyerang kedaulatan Venezuela—jelas mencederai konstitusi dan hukum internasional. Hal yang merupakan sebuah ironi besar dari frasa “American Dream”, yang biasanya sering disampaikan untuk menggambarkan bagaimana Amerika Serikat sebagai negara dan wilayah yang penuh kemungkinan dan impian. Hal yang bisa membuat siapa pun bisa bermimpi dan mewujudkannya di sana.

Kesimpulannya, AS sekarang juga lagi kena imbas perlambatan ekonomi gara-gara kebijakan Tariff Trump. Agresi militer AS ke negara lain malah membuat warga AS sendiri, terutama yang Muslim, merasa dibenci. Tak jarang, sebutan imperialis dan agresor disematkan pada Amerika Serikat dalam berbagai postingan dan komen di media sosial. Hal yang sekali lagi ironi dari sebuah negara yang dulunya mengedepankan demokrasi dan hak asasi manusia.

Ibrahim Jarrah dalam film memang berhasil. Tapi buat jutaan "Ibrahim" masa kini, nasibnya mungkin tidak akan berakhir indah di ruang sidang. Kalau Amerika mau tetap jadi "tanah harapan" dan “kebebasan”, maka yang harus diperkuat itu bukan tembok atau aparat, tapi komitmen pada keadilan dan empati. Itulah nilai yang diperjuangkan Ibrahim di sepanjang film ini.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak