Estetika Media Sosial: Kala Hidup Lebih Penting Terlihat daripada Dijalani

Lintang Siltya Utami | Irhaz Braga
Estetika Media Sosial: Kala Hidup Lebih Penting Terlihat daripada Dijalani
Ilustrasi sosial media dan secangkir kopi (Pixabay)

Media sosial telah mengubah cara manusia memandang dan menjalani hidup. Pengalaman tidak lagi berhenti pada momen itu sendiri, melainkan berlanjut ke bagaimana ia ditampilkan. Foto makanan sebelum dimakan, pemandangan sebelum dinikmati, dan perasaan sebelum benar-benar dirasakan menjadi kebiasaan sehari-hari. Dalam lanskap digital ini, estetika bukan sekadar gaya visual, melainkan nilai sosial. Hidup yang terlihat indah sering kali dianggap lebih bermakna daripada hidup yang benar-benar dijalani.

Estetika media sosial bekerja melalui kurasi. Setiap unggahan adalah hasil pilihan sadar tentang apa yang ingin diperlihatkan dan apa yang disembunyikan. Realitas dipoles, disaring, dan disusun agar sesuai dengan selera audiens. Proses ini pelan-pelan menggeser fokus dari pengalaman ke representasi. Yang penting bukan lagi bagaimana hidup terasa, melainkan bagaimana hidup tampak di layar.

Budaya Visual dan Standar Kehidupan Ideal

Platform media sosial bertumpu pada visual. Algoritma lebih menyukai gambar yang rapi, warna yang konsisten, dan komposisi yang menarik. Dari sini, lahir standar estetika tertentu yang kemudian diasosiasikan dengan kehidupan ideal. Rumah minimalis, tubuh proporsional, kopi artisan, dan liburan yang fotogenik menjadi simbol kebahagiaan versi digital.

Masalahnya, standar ini sering kali tidak realistis. Ia lahir dari potongan potongan kehidupan yang dipilih secara selektif, bukan dari keseluruhan pengalaman manusia yang penuh kontradiksi. Namun, karena terus diulang, standar tersebut terasa normal dan bahkan wajib diikuti. Banyak orang merasa hidupnya kurang bernilai hanya karena tidak tampak seindah yang muncul di linimasa.

Dalam konteks ini, estetika bukan lagi ekspresi diri, melainkan tuntutan sosial. Individu terdorong untuk menyesuaikan hidupnya dengan kerangka visual tertentu. Aktivitas dipilih bukan karena bermakna, tetapi karena layak diunggah. Pengalaman yang tidak fotogenik perlahan tersisih, seolah tidak cukup penting untuk dikenang.

Ketika Validasi Menggantikan Kehadiran

Estetika media sosial tidak bisa dilepaskan dari mekanisme validasi. Suka, komentar, dan jumlah tayangan menjadi ukuran keberhasilan sebuah momen. Validasi eksternal ini perlahan memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri. Kepuasan tidak lagi datang dari pengalaman personal, tetapi dari respons audiens.

Akibatnya, kehadiran dalam momen sering terpecah. Alih-alih tenggelam dalam pengalaman, pikiran sibuk memikirkan sudut pengambilan gambar, caption yang tepat, dan waktu unggah yang optimal. Hidup dijalani sambil memikirkan bagaimana ia akan ditampilkan. Di titik ini, pengalaman kehilangan kedalamannya.

Lebih jauh, ketergantungan pada validasi visual berpotensi mengikis kejujuran emosional. Perasaan sedih, lelah, atau gagal jarang mendapat tempat karena tidak sesuai dengan estetika positif yang diharapkan. Banyak orang merasa harus selalu terlihat baik baik saja, meski realitasnya tidak demikian. Estetika menjadi topeng yang menutupi kerentanan.

Mencari Makna di Balik Tampilan

Kritik terhadap estetika media sosial bukan berarti menolak keindahan. Masalahnya bukan pada keinginan untuk terlihat rapi atau artistik, melainkan ketika tampilan menjadi tujuan utama. Hidup yang sepenuhnya diarahkan untuk konsumsi visual berisiko kehilangan makna personalnya.

Di tengah arus ini, muncul upaya untuk melawan secara halus. Beberapa orang mulai membagikan konten yang lebih jujur, memperlihatkan proses alih-alih hasil, atau bahkan memilih untuk tidak membagikan apa pun. Pilihan ini bukan soal anti media sosial, melainkan usaha merebut kembali kendali atas pengalaman hidup.

Menjalani hidup dengan penuh kesadaran berarti memberi ruang bagi momen yang tidak terdokumentasi. Tidak semua hal harus dibagikan, tidak semua pengalaman perlu disaksikan publik. Ada nilai dalam menjalani sesuatu secara utuh, tanpa kamera, tanpa penilaian, dan tanpa keharusan terlihat menarik.

Pada akhirnya, estetika media sosial mencerminkan dilema zaman digital: antara ingin diakui dan ingin hadir. Ketika hidup lebih penting terlihat daripada dijalani, yang hilang bukan hanya keaslian, tetapi juga kedekatan dengan diri sendiri. Menjaga jarak kritis terhadap estetika digital bukan berarti mundur dari zaman, melainkan upaya untuk memastikan bahwa di balik layar yang indah, hidup tetap benar-benar dirasakan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak