Buka bersama atau bukber kantor telah menjadi agenda rutin setiap Ramadan. Di banyak perusahaan, momen ini dianggap sebagai ruang mempererat kebersamaan, mencairkan suasana formal, dan membangun kekompakan tim. Undangan dikirim melalui grup percakapan, restoran dipesan jauh hari, dan agenda disusun agar seluruh karyawan dapat hadir. Sekilas, bukber tampak sebagai tradisi sederhana yang sarat kehangatan.
Namun, di balik suasana santai itu, terselip dinamika relasi sosial yang lebih kompleks. Bukber kantor bukan sekadar pertemuan makan setelah azan Magrib, melainkan arena interaksi yang memuat simbol status, kedekatan dengan atasan, hingga strategi membangun jejaring internal. Dalam konteks ini, ia menjadi panggung kecil dari politik relasi sosial di tempat kerja.
Budaya kerja modern tidak hanya ditentukan oleh capaian target, tetapi juga oleh kemampuan menjalin hubungan. Makan bersama menjadi medium untuk menunjukkan loyalitas, solidaritas, dan keterlibatan. Ketidakhadiran, meski beralasan, kadang ditafsirkan sebagai kurang komitmen. Di sinilah bukber berubah dari undangan sosial menjadi semacam kewajiban implisit.
Antara Kebersamaan dan Ekspektasi
Secara ideal, bukber kantor menghadirkan suasana egaliter. Atasan dan bawahan duduk satu meja, berbincang ringan, dan berbagi cerita personal yang jarang muncul dalam rapat formal. Ada upaya meruntuhkan sekat hierarki. Tawa lebih lepas, bahasa lebih santai, dan candaan mengalir tanpa tekanan target.
Namun, realitasnya tidak selalu sesederhana itu. Hierarki tetap terasa, meski dibungkus keramahan. Pilihan tempat duduk bisa mencerminkan kedekatan dengan pimpinan. Siapa yang duduk di dekat manajer atau direktur kerap dianggap memiliki akses lebih. Percakapan ringan pun dapat berfungsi sebagai ajang menunjukkan kompetensi atau kesetiaan.
Bagi sebagian karyawan, terutama yang baru bergabung atau berada di posisi kontrak, bukber menjadi momen penting untuk "terlihat". Mereka berusaha hadir tepat waktu, terlibat aktif dalam obrolan, dan menjaga kesan profesional meski suasana santai. Ada kesadaran bahwa relasi sosial di luar ruang rapat dapat memengaruhi persepsi atasan.
Di sisi lain, tidak semua orang nyaman dengan keramaian sosial. Ada yang memiliki tanggung jawab keluarga di rumah, ada pula yang secara personal lebih menyukai batas tegas antara kerja dan kehidupan privat. Ketika bukber dipersepsikan sebagai kewajiban, ruang pilihan menjadi menyempit. Tekanan sosial bekerja secara halus, tanpa perlu aturan tertulis.
Politik Kedekatan dan Modal Sosial
Sosiolog sering menyebut relasi sebagai modal sosial. Dalam dunia kerja, modal sosial bisa sama pentingnya dengan keterampilan teknis. Kedekatan dengan atasan atau rekan lintas divisi membuka peluang informasi dan kolaborasi. Bukber kantor, dalam konteks ini, menjadi ruang akumulasi modal sosial.
Obrolan ringan tentang hobi, keluarga, atau pengalaman pribadi dapat membangun kepercayaan. Kepercayaan ini sering kali menjadi dasar rekomendasi proyek atau promosi. Tidak jarang keputusan informal terbentuk dari kesan yang dibangun di luar forum resmi. Bukber menjadi salah satu kanalnya.
Namun, politik kedekatan juga menyimpan potensi eksklusivitas. Jika relasi dibangun hanya dalam lingkaran tertentu, karyawan yang berada di luar lingkaran itu bisa merasa terpinggirkan. Kelompok kecil yang kerap duduk bersama atau memiliki frekuensi interaksi lebih intens dapat membentuk jaringan informal yang kuat, sementara yang lain hanya menjadi partisipan pasif.
Dalam dinamika ini, manajemen memiliki peran penting untuk menjaga inklusivitas. Bukber seharusnya tidak menjadi arena pembentukan klik atau kelompok tertutup. Ia idealnya menjadi ruang yang merayakan keberagaman karakter dan latar belakang, bukan mempertegas garis pemisah.
Selain itu, perlu diingat bahwa tidak semua karyawan menjalankan ibadah puasa. Dalam lingkungan kerja yang plural, sensitivitas menjadi kunci. Bukber dapat tetap menjadi ruang kebersamaan, tetapi tanpa mengabaikan kenyamanan mereka yang berbeda keyakinan. Politik relasi sosial yang sehat justru dibangun di atas penghargaan terhadap perbedaan.
Menjaga Makna di Tengah Seremonial
Ramadan pada dasarnya mengajarkan pengendalian diri dan empati. Jika bukber kantor hanya menjadi ajang pencitraan atau strategi mendekatkan diri pada kekuasaan, nilai spiritualnya berpotensi memudar. Kebersamaan berubah menjadi seremonial tanpa makna.
Perusahaan dapat memaknai bukber lebih dari sekadar makan bersama. Ia bisa diisi dengan refleksi singkat, apresiasi terhadap kinerja tim, atau kegiatan berbagi kepada masyarakat sekitar. Ketika orientasinya melampaui konsumsi, bukber menjadi lebih bermakna.
Bagi individu, penting untuk menyadari bahwa relasi profesional tidak harus dibangun melalui kepura-puraan. Keaslian sikap dan konsistensi kinerja tetap menjadi fondasi utama. Bukber hanyalah salah satu ruang interaksi, bukan satu-satunya penentu masa depan karier.
Pada akhirnya, bukber kantor adalah cermin kecil dari dinamika sosial di tempat kerja. Ia memuat kehangatan sekaligus strategi, kebersamaan sekaligus kalkulasi. Politik relasi sosial mungkin tidak terhindarkan, tetapi dapat dikelola dengan kesadaran etis.
Jika Ramadan adalah bulan perbaikan diri, maka bukber bisa menjadi latihan membangun relasi yang lebih jujur dan inklusif. Bukan sekadar hadir untuk dilihat, tetapi hadir untuk saling memahami. Di situlah tradisi ini menemukan maknanya yang lebih dalam.