Di ruang tamu keluarga kelas menengah kita, ada sebuah skenario yang diputar berulang-ulang setiap kali seorang anak mengeluh tentang tekanan hidup. Kalimat pembukanya hampir selalu sama: "Dulu Bapak itu jalan kaki sepuluh kilo ke sekolah..." atau "Dulu Ibu cuma makan nasi garam supaya kalian bisa les."
Narasi ini, dalam diskursus sosial sering disebut sebagai glorifikasi penderitaan. Melansir dari ulasan sosiologis di Tirto.id mengenai generation gap, pola komunikasi yang terus-menerus membandingkan tingkat kesulitan hidup lintas generasi justru sering kali menjadi tembok besar yang menghambat empati dan menciptakan jarak emosional yang permanen antara orang tua dan anak.
Romantisasi penderitaan ini bukan sekadar cerita nostalgia; ia kerap digunakan sebagai senjata moral. Bagi generasi orang tua (Baby Boomers dan Gen X), memamerkan kepahitan masa lalu adalah cara untuk menanamkan rasa syukur dan daya juang.
Namun, bagi milenial dan Gen Z yang tumbuh di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi kelas menengah dan krisis kesehatan mental, narasi ini sudah kehilangan relevansinya, bahkan terasa seperti penghakiman yang meremehkan perjuangan mereka saat ini.
Kenapa narasi "adu nasib" ini tidak lagi relevan?
Pertama, kita harus membedah jenis "medan perangnya". Generasi orang tua mungkin menghadapi tantangan fisik yang berat dan keterbatasan infrastruktur. Namun, mereka hidup di era di mana harga tanah di pinggiran kota masih bisa terbeli dengan tabungan pegawai rendahan, dan persaingan kerja belum sebrutal hari ini.
Sebaliknya, anak muda sekarang mungkin tidak perlu berjalan kaki berkilo-kilo meter, namun mereka menghadapi "hutan belantara" digital yang menguras kewarasan. Harga properti yang meroket jauh di atas kenaikan gaji rata-rata serta tuntutan efisiensi kerja yang tanpa batas membuat beban psikologis anak muda sekarang jauh lebih menyesakkan daripada beban fisik masa lalu.
Ketika orang tua berkata, "Dulu Bapak begini...", secara tidak langsung mereka sedang melakukan invalidasi emosi. Mereka berasumsi bahwa karena sang anak tidak menderita secara fisik sehebat mereka dulu, maka si anak tidak berhak merasa lelah, stres, apalagi depresi.
Padahal, kelelahan mental akibat tuntutan hustle culture di kantor atau tekanan eksistensi di media sosial adalah nyata. Membandingkan rasa sakit adalah kesalahan logika; itu seperti membandingkan orang yang sesak napas karena asma dengan orang yang sesak napas karena tenggelam. Keduanya sama-sama berjuang untuk tetap bernapas.
Selain itu, romantisasi penderitaan ini melahirkan mentalitas "martir" yang berisiko. Orang tua sering merasa bahwa karena mereka sudah bersimbah peluh demi anak, maka anak wajib membalasnya dengan kepatuhan mutlak—termasuk dalam memilih karier yang dianggap "aman" oleh orang tua meski tidak diminati anak. Ini adalah akar konflik kelas menengah: anak ingin mandiri secara intelektual, namun orang tua masih memegang kendali lewat narasi "utang budi" atas penderitaan masa lalu.
Dampaknya, anak muda sekarang mulai bersikap skeptis. Mereka tidak lagi melihat kemiskinan atau penderitaan masa lalu sebagai sesuatu yang harus dipuja atau diulangi. Mereka lebih menghargai efektivitas, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup (work-life balance). Bagi anak muda, jika ada jalan yang lebih manusiawi dan sehat, mengapa harus memilih jalan yang penuh luka hanya demi mendapatkan predikat "tahan banting" dari lingkungan sosial?
Sudah saatnya kita mengubah frekuensi obrolan di meja makan. Daripada terjebak dalam kompetisi "siapa yang paling menderita", alangkah bijaknya jika orang tua mulai mendengar bahwa tantangan zaman ini memang telah berganti rupa.
Orang tua perlu menyadari bahwa keberhasilan mereka melewati masa sulit seharusnya menjadi jembatan agar anaknya tidak perlu merasakan kepedihan yang sama, bukan justru dijadikan tolok ukur bahwa anak harus menderita serupa demi mendapatkan pengakuan.
Menghormati masa lalu tidak harus dilakukan dengan meromantisasi lukanya. Anak muda sangat menghargai keringat orang tua mereka, namun mereka juga butuh pengakuan bahwa bertahan di era modern dengan segala kecemasannya adalah bentuk "jalan kaki sepuluh kilo" versi mereka sendiri yang tak kalah melelahkan.