Kolom
Sisi Gelap Unboxing: Adu Cepat Sampai Rumah, Adu Lama Terurai di Tanah
Membeli produk secara daring bukan lagi hal baru bagi masyarakat. Sebelum aplikasi e-commerce merajalela, kita sudah biasa memanfaatkan media sosial, misalnya Facebook, untuk bertransaksi. Hanya saja, frekuensinya masih sangat rendah.
Namun sejak pandemi Covid-19 menginvasi, Indonesia mengalami lonjakan kegiatan jual-beli di toko online. Dilansir Pusat Data Kontan yang merujuk pada Bank Indonesia, nilai transaksi e-commerce di Indonesia meningkat dari 205,5 triliun pada tahun 2019 menjadi 487,01 triliun pada tahun 2024.
Pembatasan aktivitas luar ruangan tersebut menggeser budaya belanja masyarakat. Kegiatan yang semula lebih banyak dilakukan secara fisik, kini dapat diakses melalui jentikan jari. Cukup menyelesaikan pembayaran, lalu menunggu kurir mengirim pesanan sesuai lokasi yang ditentukan.
Sisi gelap unboxing paket: mudah dibuka, tetapi sulit diurai
Sayangnya di balik kesenangan membuka paket, ada ledakan polusi plastik yang jarang disadari. Dalam satu bungkus paket yang kita terima, ada tiga hingga empat lapisan plastik sekali pakai di sana. Untuk mengamankan barang tersebut, dibutuhkan kantong polymailer luar, bubble wrap, dan selotip yang menempel di kardus.
Plastik kemasan ini sering kali dibuang begitu saja setelah paket dibuka. Sulit menemukan pihak yang mau menerimanya untuk didaur ulang. Hal ini karena residu tersebut nilai ekonominya rendah dan memiliki sisa perekat yang membuatnya sulit untuk diolah.
Padahal, ada bahaya senyap yang perlahan mengintai. Dilansir Environmental Protection Agency (EPA), sampah plastik memakan waktu 100 hingga 1.000 tahun agar dapat terurai. Bahkan ketika proses itu berlangsung, limbah ini akan terpecah menjadi mikroplastik yang siap mengotori rumah kita, planet bumi.
Partikel ultra kecil ini berukuran 5 milimeter hingga 1 nanometer (0,000001 milimeter). Mirisnya, lebih dari 1.500 spesies di bumi secara tidak sadar menelan mikroplastik. Bahkan pada manusia sendiri, partikel ini dapat menyusup dan menyebar ke dalam organ vital, misalnya sistem pencernaan dan alat reproduksi.
Fakta ini menjadi alarm keras bahwa kenikmatan instan ternyata harus dibayar dengan kerusakan ekosistem. Jika masih abai, kita perlu berpikir ulang. Pasalnya, rantai pencemaran ini akan berputar dan kembali ke piring makan kita sendiri.
Siasat mengurangi sampah plastik dari aktivitas jual-beli di internet
Saya tidak akan meminta Anda untuk berhenti membeli barang secara daring. Bagaimanapun juga, aktivitas ini telah membantu perputaran roda ekonomi UMKM di dalam negeri. Bahkan menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, tercatat ada 4,4 juta pelaku usaha yang menjual produknya di platform digital.
Di sini, saya mengajak Anda dan kita semua untuk bijak mengurangi sampah plastik. Tindakan ini tidak harus dimulai dengan satu lompatan besar, tetapi dapat pula dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Sebagai upaya preventif, kita dapat menerapkan siasat slow shopping. Bukan menghindari, melainkan menunda pembelian barang tanpa urgensi yang jelas. Dengan begitu, setiap paket yang datang memang berisi produk yang benar-benar kita butuhkan, bukan keputusan singkat karena tergiur diskon 50 persen.
Selain mengurangi penggunaan pembungkus gelembung (bubble wrap), metode ini juga menghindarkan kita dari boncos di awal bulan.
Jika produk tersebut memang perlu dibeli secara daring, kita dapat mempraktikkan strategi bulk shopping. Dengan membeli barang sekaligus, bungkus yang digunakan tentu akan lebih minim. Penjual akan mengemasnya dalam satu plastik, bukan paket kecil yang berceceran.
Tidak hanya itu, beberapa toko digital juga menyediakan tambahan potongan harga pada pembelian dengan kuantitas tertentu. Bisa dibilang, trik tersebut laksana mendapat dua ikan dalam sekali pancing. Kita dapat mengurangi sampah plastik sekaligus menghemat pengeluaran. Sangat menguntungkan, bukan?
Meskipun terdengar kecil, aksi-aksi tersebut akan sangat menentukan nasib bumi dan milyaran manusia di dalamnya. Jika tidak dimulai dari sekarang, apa kita perlu menunggu sampai gunungan sampah menjadi pemandangan?