Frugal Living, Gaya Hidup Hemat atau Terlalu Pelit?

Lintang Siltya Utami | Khoirul Umar
Frugal Living, Gaya Hidup Hemat atau Terlalu Pelit?
Ilustrasi berhemat (pexels.com/cottonbro studio)

Belakangan ini istilah frugal living makin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda yang mulai sadar pentingnya mengatur keuangan. Di media sosial, banyak yang membagikan tips hidup hemat, belanja seperlunya, masak sendiri, sampai menahan diri dari nongkrong mahal. Tapi di sisi lain, tak sedikit juga yang mencibir, “Ah, itu mah pelit saja dibungkus istilah keren.”

Lalu sebenarnya, frugal living itu gaya hidup hemat yang cerdas atau cuma pembenaran buat jadi terlalu pelit?

Kalau dilihat dari maknanya, frugal living adalah gaya hidup yang menekankan pada kesadaran dalam menggunakan uang. Fokusnya bukan sekadar menghemat, tapi memastikan setiap pengeluaran punya nilai dan tujuan. Orang yang menjalani frugal living biasanya lebih selektif dalam belanja, tidak mudah tergoda diskon, dan cenderung memprioritaskan kebutuhan dibanding gengsi.

Masalahnya, di mata sebagian orang, kebiasaan seperti ini terlihat ekstrem. Misalnya memilih membawa bekal ke kantor daripada beli makan di luar, jarang nongkrong di kafe mahal, atau berpikir dua kali sebelum upgrade gadget. Di era ketika gaya hidup sering dijadikan simbol kesuksesan, pilihan untuk hidup sederhana memang bisa dianggap aneh.

Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang salah dari mengatur uang dengan bijak?

Kita hidup di zaman yang serba cepat dan konsumtif. Iklan ada di mana-mana, promo bertebaran, dan media sosial membuat standar hidup terasa makin tinggi. Tanpa sadar, banyak orang belanja bukan karena butuh, tapi karena ingin terlihat “setara” dengan lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, frugal living justru bisa jadi bentuk perlawanan yang sehat terhadap tekanan sosial.

Namun, memang ada garis tipis antara hemat dan pelit. Hemat berarti bijak dalam mengeluarkan uang. Pelit biasanya identik dengan enggan berbagi atau terlalu menekan diri sendiri sampai mengorbankan kualitas hidup. Orang yang hemat tetap bisa menikmati hidup, hanya saja lebih terencana. Sementara orang yang terlalu pelit sering kali menolak semua pengeluaran, bahkan yang sebenarnya penting atau bermanfaat.

Frugal living yang sehat bukan berarti menolak semua kesenangan. Bukan juga berarti menghitung setiap rupiah sampai membuat hidup terasa kaku. Intinya adalah kesadaran. Misalnya, kamu tetap nongkrong dengan teman, tapi memilih tempat yang sesuai budget. Kamu tetap liburan, tapi direncanakan jauh-jauh hari agar tidak mengganggu kondisi keuangan. Kamu tetap beli barang yang diinginkan, tapi setelah memastikan kebutuhan utama sudah aman.

Yang menarik, banyak orang yang menjalani frugal living justru merasa hidupnya lebih tenang. Mereka tidak lagi dikejar cicilan konsumtif, tidak stres setiap akhir bulan, dan punya tabungan atau investasi yang perlahan bertambah. Ada rasa kontrol atas keuangan yang membuat hidup terasa lebih stabil.

Di sisi lain, ada juga yang terlalu ekstrem menjalani konsep ini. Sampai-sampai menolak ajakan teman demi menghemat, menghindari pengeluaran sosial, atau merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu untuk diri sendiri. Kalau sudah sampai tahap ini, mungkin memang perlu evaluasi. Karena tujuan mengatur uang adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan malah membuatnya terasa sempit.

Menurut saya, frugal living itu bukan soal pelit atau tidak. Ini soal prioritas. Setiap orang punya tujuan hidup berbeda. Ada yang ingin cepat punya rumah, ada yang ingin pensiun lebih awal, ada yang ingin bebas dari utang secepat mungkin. Untuk mencapai tujuan itu, tentu perlu pengorbanan dan pengendalian diri. Dan di situlah frugal living berperan.

Yang sering dilupakan, hidup hemat itu bukan berarti tidak mampu. Justru banyak orang yang sebenarnya mampu, tapi memilih tetap sederhana karena punya visi jangka panjang. Mereka sadar bahwa uang yang dihemat hari ini bisa menjadi fondasi keamanan di masa depan.

Tentu saja, tidak semua orang harus menjalani frugal living dengan cara yang sama. Kamu bisa menyesuaikan dengan gaya dan kebutuhan pribadi. Intinya bukan mengikuti tren, tapi menemukan pola pengeluaran yang membuatmu nyaman sekaligus aman secara finansial.

Kalau ada yang bilang frugal living itu pelit, mungkin mereka melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Karena dalam budaya yang sering mengukur kesuksesan dari tampilan luar, pilihan untuk tidak ikut arus memang bisa terlihat “kurang.” Tapi pada akhirnya, yang merasakan dampaknya adalah diri sendiri.

Lebih baik dianggap terlalu hemat tapi punya tabungan dan ketenangan, daripada terlihat boros tapi diam-diam stres memikirkan tagihan. Tentu, keseimbangan tetap penting. Hidup bukan hanya soal menumpuk uang, tapi juga menikmati perjalanan.

Jadi, frugal living itu gaya hidup hemat atau terlalu pelit? Jawabannya tergantung bagaimana kamu menjalaninya. Kalau dilakukan dengan sadar, seimbang, dan tetap memberi ruang untuk menikmati hidup, itu adalah bentuk kecerdasan finansial. Tapi kalau sampai membuatmu terisolasi atau merasa tersiksa, mungkin ada yang perlu disesuaikan.

Pada akhirnya, bukan soal labelnya. Bukan soal terlihat hemat atau tidak. Yang paling penting adalah apakah gaya hidupmu sekarang mendukung masa depan yang kamu inginkan. Kalau iya, maka kamu sudah berada di jalur yang tepat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak