Kolom

Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa

Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
Ilustrasi sampah. (Pixabay.com/@RitaE)

Kalau dipikir-pikir, hubungan manusia dengan sampah itu agak unik. Semua orang menghasilkan sampah setiap hari, tapi anehnya banyak yang merasa urusan sampah selesai begitu benda itu lepas dari tangan. Bungkus kopi dilempar ke selokan, plastik belanja ditinggal di pinggir jalan, puntung rokok dibuang ke sungai—habis perkara. Seolah-olah setelah tidak terlihat, sampah itu lenyap begitu saja dari muka Bumi. Padahal kenyataannya tidak begitu. Sampah cuma pindah tempat, lalu diam-diam balik lagi dalam bentuk banjir, bau menyengat, air kotor, atau laut yang makin rusak.

Di Indonesia, kebiasaan buang sampah sembarangan ini sudah seperti budaya kecil yang diwariskan turun-temurun. Ironisnya, banyak orang melakukannya sambil tetap merasa dirinya warga yang baik-baik saja. Ada yang rajin ikut pengajian, aktif ronda malam, bahkan cerewet soal moral orang lain, tapi masih enteng melempar gelas plastik dari jendela mobil. Mungkin karena membuang sampah sembarangan tidak pernah dianggap dosa besar. Paling banter cuma disebut “kurang disiplin”.

Makanya menarik waktu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa membuang sampah sembarangan hukumnya haram. Reaksi orang macam-macam. Ada yang mendukung, ada yang menertawakan, ada juga yang merasa MUI sekarang terlalu ikut campur urusan receh. Padahal kalau dipikir lebih dalam, justru di situlah letak menariknya. Sesuatu yang selama ini dianggap sepele tiba-tiba dinaikkan levelnya menjadi persoalan moral.

Dan memang mungkin masalah terbesar kita soal sampah bukan sekadar kurang tempat sampah atau minimnya petugas kebersihan, melainkan soal mentalitas. Kita terlalu terbiasa hidup dengan logika “yang penting bukan di rumah saya”. Makanya sungai dijadikan tempat buang kasur, selokan jadi kuburan popok bayi, dan trotoar berubah fungsi jadi tempat numpuk sampah rumah tangga. Ada semacam keyakinan aneh bahwa ruang publik itu wilayah tanpa tuan, jadi bebas diperlakukan seenaknya.

Padahal efeknya balik lagi ke manusia juga. Orang buang sampah ke sungai, lalu beberapa bulan kemudian rumahnya kebanjiran. Orang membakar sampah plastik tiap sore, lalu bingung kenapa anaknya batuk terus. Kita sering lupa kalau alam punya cara sendiri untuk mengembalikan ulah manusia. Bedanya, alam tidak pernah protes di media sosial. Dia langsung kasih akibat.

Yang lucu, kita sebenarnya termasuk bangsa yang sangat cerewet soal kebersihan dalam level pribadi. Banyak orang tidak tahan lihat lantai rumah kotor sedikit saja. Tapi begitu keluar rumah, standar itu mendadak hilang. Trotoar penuh sampah dianggap biasa, sungai hitam pekat dianggap pemandangan normal, bahkan tumpukan sampah di pinggir jalan kadang sudah menyatu dengan lanskap kota. Kita seperti punya dua kepribadian: bersih di dalam rumah, cuek di luar rumah.

Fatwa MUI tadi sebenarnya menarik bukan karena unsur “haram”-nya saja, tetapi karena ia mencoba menyentuh wilayah yang sering gagal disentuh aturan hukum: kesadaran batin. Selama ini pemerintah bikin larangan, pasang denda, bikin slogan kebersihan di mana-mana, tapi hasilnya ya begitu-begitu saja. Sebab aturan tanpa kesadaran biasanya cuma bertahan selama ada pengawasan. Begitu tidak ada yang lihat, tangan otomatis refleks buang sampah sembarangan lagi.

Masalahnya, membangun kesadaran kolektif memang jauh lebih sulit daripada sekadar bikin peraturan. Pendidikan soal lingkungan sering berhenti di slogan tempel di dinding sekolah: “Buanglah Sampah pada Tempatnya.” Setelah itu selesai. Tidak pernah benar-benar dibiasakan sebagai budaya hidup. Anak-anak diajari hafal jenis sampah organik dan anorganik, tapi orang dewasa di sekitarnya tetap buang sampah ke sungai. Jadinya pelajaran moral kalah oleh contoh sehari-hari.

Di sisi lain, negara juga tidak bisa cuci tangan. Banyak daerah masih punya sistem pengelolaan sampah yang amburadul. Tempat pembuangan minim, pengangkutan tidak rutin, fasilitas daur ulang setengah hidup. Dalam situasi seperti itu, masyarakat sering dipaksa berhadapan dengan sampah tanpa solusi yang jelas. Jadi memang tidak adil kalau semua kesalahan dilempar ke warga semata.

Tetapi tetap saja, perubahan paling sederhana sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Dari kebiasaan menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kedengarannya receh, tapi justru kebiasaan kecil itulah yang menentukan wajah sebuah masyarakat. Kota bersih bukan lahir dari pidato panjang soal lingkungan, melainkan dari orang-orang yang cukup sadar bahwa sampahnya sendiri bukan urusan orang lain.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda