Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?

M. Reza Sulaiman | AHMAD NAUFAL TIRUS
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
Ilustrasi restoran (Pixabay Neshom)

Bulan Ramadan bagi masyarakat Indonesia bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah transformasi sosial yang masif. Namun, di balik narasi kesalehan publik, terselip sebuah fenomena yang kian lazim namun jarang dibahas secara serius: "seni" mokel berjamaah.

Istilah mokel, yang merujuk pada aksi membatalkan puasa sebelum waktunya secara sembunyi-sembunyi, kini tidak lagi menjadi tindakan personal yang memalukan. Di lingkungan pergaulan anak muda atau "tongkrongan", aktivitas ini telah bergeser menjadi sebuah ritual kolektif yang dibalut dengan tawa dan rasa persaudaraan yang salah kaprah.

Solidaritas yang Salah Alamat

Bagi banyak remaja dan dewasa muda, mokel bersama teman satu geng dianggap sebagai bentuk loyalitas tanpa batas. Ada semacam adrenalin tersendiri saat mereka harus menyusun strategi "bawah tanah" untuk mencari warung makan yang tertutup tirai atau memesan minuman dingin secara sembunyi-sembunyi untuk dinikmati di pojok kafe yang sepi. Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini berkaitan erat dengan teori konformitas. Seseorang sering kali merasa "terpaksa" ikut membatalkan puasa hanya agar tidak dianggap terlalu kaku, tidak setia kawan, atau "sok suci" oleh kelompoknya.

Hal ini menunjukkan bahwa di era sekarang, tekanan teman sebaya (peer pressure) memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk perilaku individu. Nilai-nilai spiritual yang bersifat vertikal sering kali kalah oleh kebutuhan akan validasi horizontal dari teman sebaya. Solidaritas tongkrongan pun berubah menjadi sebuah tameng untuk melakukan pelanggaran komitmen pribadi secara bersama-sama.

Normalisasi melalui Komedi Digital

Melesatnya tren mokel kolektif ini juga dipicu oleh glorifikasi di media sosial. Konten-konten berupa meme, video pendek di TikTok, hingga cuitan jenaka tentang "perjuangan mencari warteg buka" sering kali viral dan mendapatkan ribuan likes. Normalisasi ini menciptakan persepsi kolektif bahwa mokel adalah hal yang manusiawi, lucu, dan patut dibagikan. Ketika sebuah perilaku yang seharusnya bersifat privat dan penuh rasa bersalah justru dirayakan secara massal di ruang digital, maka integritas moral pun perlahan-lahan terkikis.

Dampaknya, rasa malu yang seharusnya menjadi rem bagi perilaku menyimpang menjadi hilang. Budaya digital 2026 ini seolah memberikan ruang bagi "pelarian" spiritual. Masyarakat digital kita lebih sering melihat mokel sebagai konten yang relatable daripada sebuah kegagalan dalam menjaga amanah ibadah.

Erosi Integritas di Era Post-Truth

Esensi puasa sebenarnya terletak pada pengawasan diri (self-monitoring). Ini adalah ibadah yang paling privat; tidak ada orang yang benar-benar tahu kita berpuasa atau tidak selain diri sendiri dan Tuhan. Saat seorang individu memilih untuk mokel demi validasi kelompok, ia sebenarnya sedang menggadaikan integritasnya. Jika di usia produktif seseorang sudah terbiasa mengkhianati komitmen spiritual demi kenyamanan sesaat, dikhawatirkan mentalitas "asal tidak ketahuan" ini akan mengakar kuat.

Mentalitas ini bisa menjadi bibit perilaku koruptif di masa depan. Integritas bukan sesuatu yang bisa dinyalakan dan dimatikan sesuai situasi; ia harus dilatih, bahkan dalam perkara-perkara kecil seperti menjaga segelas air di siang hari Ramadan. Jika fondasi kejujuran pada diri sendiri saja sudah rapuh, bagaimana kita bisa mengharapkan integritas dalam tanggung jawab profesional yang lebih besar?

Membangun Karakter di Balik Tirai Warung

Fenomena mokel sebenarnya adalah ujian terkecil dari sebuah karakter. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa menjadi bagian dari sebuah komunitas tidak berarti harus kehilangan jati diri dan prinsip. Solidaritas yang sehat seharusnya adalah solidaritas yang saling mendukung dalam kebaikan, bukan yang saling menjerumuskan dalam kelalaian.

Menjadi berbeda dengan tetap teguh menjaga puasa di tengah godaan teman-teman yang "mokel" adalah bentuk keberanian moral yang sesungguhnya. Mari kita kembalikan makna puasa sebagai ajang pembuktian kualitas diri. Kejujuran saat tidak ada mata manusia yang melihat adalah fondasi utama bagi generasi yang tangguh. Jangan sampai tirai warung makan menjadi saksi bisu runtuhnya integritas kita sebagai manusia.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak