Kolom
Tragedi Kresek Hitam: Sengkarut Sampah Plastik Pasca-Iduladha yang Tak Kunjung Usai
Aroma sate dan gulai mungkin masih tercium harum dari dapur-dapur rumah kita. Hari Raya Iduladha baru saja berlalu dengan segala kemeriahan dan kesucian maknanya. Jutaan masyarakat telah merasakan indahnya berbagi dan menerima berkah berupa paket daging kurban.
Namun, ketika kemeriahan antrean kupon di masjid-masjid mulai reda dan lantai halaman tempat penyembelihan telah bersih disiram air, ada sebuah pemandangan horor yang tertinggal di tempat pembuangan sampah. Gunungan kantong plastik mika, tali rafia, dan yang paling mendominasi: kresek hitam bekas wadah pembagian daging kurban. Sengkarut masalah sampah plastik pascalebaran kurban ini seolah menjadi ritual tahunan yang tak kunjung usai, memicu pertanyaan kritis bagi kaum Yoursay yang peduli pada masa depan bumi: sampai kapan ibadah suci kita harus mengorbankan kelestarian alam?
Ironi Plastik Hitam: Wadah Praktis yang Beracun dan Merusak
Penggunaan kantong plastik kresek, terutama yang berwarna hitam, telah menjadi standar operasional tidak tertulis bagi sebagian besar panitia kurban di Indonesia. Alasannya sederhana dan klasik: murah, mudah didapat dalam jumlah massal, dan praktis untuk membungkus daging yang basah dan berdarah. Namun, di balik kepraktisan tersebut, ada bahaya ganda yang mengintai. Dari sisi kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah berkali-kali mengingatkan bahwa kresek hitam merupakan hasil proses daur ulang sampah plastik yang riwayat penggunaan sebelumnya tidak jelas, bahkan sering kali mengandung zat karsinogenik yang berbahaya jika bersentuhan langsung dengan makanan basah seperti daging segar.
Dari sisi ekologi, dampaknya jauh lebih mengerikan. Bayangkan jika satu masjid membagikan 1.000 paket daging, berapa puluh ribu kantong plastik yang diproduksi dalam satu hari di satu kecamatan saja? Secara nasional, angka ini melonjak menjadi jutaan lembar plastik yang dibuang ke bumi dalam waktu bersamaan. Plastik-plastik ini tidak akan hancur dalam ratusan tahun ke depan. Di sinilah kaum Yoursay bisa melihat sebuah ironi yang nyata: niat mulia untuk membersihkan diri dari sifat kebinatangan melalui ibadah kurban, justru berakhir dengan tindakan "mengotori" bumi yang menjadi tempat tinggal kita sendiri.
Kampanye Green Kurban yang Masih Kalah Populer
Sebenarnya, narasi mengenai green kurban atau kurban ramah lingkungan bukanlah hal yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan berbagai komunitas lingkungan gencar mengampanyekan penggunaan wadah alternatif yang dapat terurai secara alami. Mulai dari penggunaan besek bambu yang puitis, keranjang anyaman pandan, daun jati, hingga daun pisang yang sangat tradisional. Beberapa masjid di kota-kota besar bahkan sudah mulai mewajibkan jemaahnya membawa wadah sendiri dari rumah saat hendak menukarkan kupon daging kurban.
Namun, mengapa gerakan baik ini masih kalah populer dan mandek di tingkat akar rumput? Masalahnya kembali lagi pada benturan antara idealisme lingkungan dengan kalkulasi ekonomi mikro panitia masjid. Harga selembar kantong plastik hitam tidak sampai beberapa ratus rupiah, sementara harga sebuah besek bambu bisa mencapai ribuan rupiah. Bagi panitia kurban yang mengelola anggaran secara ketat, mengalihkan dana untuk wadah ramah lingkungan sering kali dianggap sebagai "pemborosan" yang memotong kuota pembelian hewan kurban. Kurangnya edukasi struktural membuat aspek kelestarian lingkungan masih ditempatkan sebagai prioritas kesekian di bawah aspek kepraktisan dan kuantitas.
Menuju Kedewasaan Ibadah yang Berwawasan Lingkungan
Menyelesaikan sengkarut sampah plastik pasca-Iduladha tidak bisa hanya dengan mengandalkan imbauan moral yang sifatnya sukarela. Diperlukan sebuah pergeseran paradigma berpikir kolektif dalam memandang ibadah itu sendiri. Islam secara tegas mengajarkan bahwa menjaga bumi (khalifah fil ardh) dan tidak berbuat kerusakan adalah bagian dari perwujudan iman. Oleh karena itu, konsep kurban yang paripurna seharusnya tidak hanya berhenti pada proses penyembelihan yang syar'i, tetapi juga mencakup proses distribusi yang thayyib (baik dan bersih bagi lingkungan).
Sudah saatnya manajemen masjid dan lembaga amil zakat di Indonesia mulai memasukkan "anggaran lingkungan" sebagai komponen wajib yang tidak terpisahkan dari operasional kurban. Edukasi kepada para mudhohi (pekurban) juga harus ditingkatkan, bahwa menyisihkan sedikit uang ekstra untuk membeli wadah ramah lingkungan adalah bagian dari kesempurnaan ibadah kurban mereka.
Langkah Nyata Memutus Rantai Sampah Hari Raya
Hari raya telah usai, namun jutaan lembar plastik yang kita buang kemarin kini sedang memulai perjalanannya menyumbat saluran air, menumpuk di TPA, hingga berakhir menjadi mikroplastik di lautan. Mari kita, seluruh kaum Yoursay, menjadikan sengkarut ini sebagai momentum evaluasi besar. Kita tidak perlu menunggu kebijakan dari atas untuk mulai bergerak.
Pada Iduladha tahun-tahun berikutnya, mari kita mulai dari diri sendiri dengan membawa reusable bag atau wadah makanan sendiri dari rumah saat mengantre daging kurban. Desak pengurus masjid di lingkungan tempat tinggal kita untuk mulai mencoret kresek hitam dari daftar belanja panitia. Ibadah kurban adalah simbol pengorbanan ego. Mari kita korbankan sedikit rasa "praktis" dan kenyamanan semu demi memberikan napas lega bagi bumi yang kian renta ini.