Misi Glow Up Lebaran: Antara Kejar Tayang Kulit Bening dan Dompet yang Kering

M. Reza Sulaiman | AHMAD NAUFAL TIRUS
Misi Glow Up Lebaran: Antara Kejar Tayang Kulit Bening dan Dompet yang Kering
Ilustrasi skincare( pixabay /@pmvchamara)

Memasuki minggu-minggu awal Ramadan, perbincangan di media sosial tidak hanya berkutat pada jadwal imsakiyah atau resep takjil. Ada satu narasi yang terus berulang dan seolah menjadi kompetisi terselubung bagi anak muda: target glow up sebelum Lebaran.

Istilah glow up yang merujuk pada transformasi penampilan menjadi lebih menarik ini kian masif dikampanyekan, terutama melalui video-video pendek di TikTok maupun Instagram. Namun, di balik semangat memperbaiki diri, terselip sebuah fenomena insekuritas yang akut dan budaya konsumerisme yang terkadang melampaui logika.

Tekanan Sosial di Meja Reuni

Bagi banyak orang, momen Lebaran bukan sekadar hari kemenangan spiritual, melainkan panggung pembuktian diri. Acara buka bersama (bukber) atau silaturahmi keluarga besar sering kali menjadi momen di mana penampilan fisik menjadi objek penilaian utama. Pertanyaan tentang berat badan, kondisi kulit wajah, hingga gaya berpakaian seolah menjadi bumbu wajib dalam percakapan.

Hal inilah yang memicu kepanikan massal untuk tampil sesempurna mungkin dalam waktu singkat. Tak jarang, banyak anak muda yang melakukan diet ekstrem yang tidak sehat atau menggunakan produk kecantikan tanpa izin edar yang menjanjikan hasil instan dalam "dua minggu menuju hari raya". Di sini, kesehatan sering kali dikorbankan demi validasi sesaat dari orang-orang yang mungkin hanya kita temui setahun sekali. Obsesi ini menunjukkan betapa dalamnya insekuritas yang tertanam akibat standar kecantikan yang semakin tidak realistis.

Algoritma dan Komodifikasi Insekuritas

Media sosial memainkan peran besar dalam melanggengkan tren ini. Algoritma sering kali menyuguhkan konten-konten transformasi fisik yang dramatis, yang secara tidak langsung membisikkan pesan bahwa "kamu belum cukup baik jika belum terlihat seperti ini". Para pelaku bisnis kecantikan pun menangkap celah ini dengan sangat cerdik. Iklan-iklan produk pemutih, pelangsing, hingga perawatan klinis gencar dipasarkan dengan embel-embel "siap tampil beda saat Idulfitri".

Ini adalah bentuk komodifikasi insekuritas, di mana rasa tidak percaya diri seseorang dijadikan peluang bisnis. Kita dipaksa percaya bahwa kebahagiaan saat Lebaran sangat bergantung pada seberapa glowing wajah kita di foto keluarga atau unggahan media sosial. Akibatnya, esensi Ramadan sebagai bulan pengendalian diri sering kali bergeser menjadi bulan perbaikan citra fisik semata.

Integritas Diri di Tengah Gempuran Tren

Sebagai penulis yang kritis, kita perlu melihat bahwa transformasi diri yang sesungguhnya tidak bisa dilakukan secara instan. Mengejar standar kecantikan digital adalah sebuah perlombaan tanpa garis finis. Selalu akan ada tren baru, produk baru, dan standar baru yang membuat kita merasa tidak pernah cukup. Integritas diri justru diuji saat kita mampu berkata "cukup" pada tekanan sosial yang merusak kesehatan mental dan fisik kita.

Glow up yang sebenarnya seharusnya dimulai dari dalam, yaitu bagaimana kita menghargai diri sendiri dan menjaga kesehatan sebagai bentuk syukur. Jika kita menghabiskan waktu Ramadan hanya dengan rasa cemas akan penampilan luar, maka kita mungkin akan kehilangan momen kedamaian batin yang menjadi inti dari bulan suci ini. Kepercayaan diri yang sejati lahir dari rasa nyaman dengan diri sendiri, bukan dari seberapa banyak pujian yang kita terima saat reuni sekolah nanti.

Menata Ulang Makna Kemenangan

Idulfitri adalah hari kemenangan bagi mereka yang berhasil menaklukkan hawa nafsu, termasuk nafsu untuk selalu ingin terlihat lebih hebat atau lebih cantik di mata orang lain. Tidak ada salahnya ingin tampil rapi dan menarik di hari raya, namun jangan biarkan hal itu menjadi beban yang menyiksa. Jangan sampai kita mengawali hari kemenangan dengan sisa-sisa kelelahan akibat diet ekstrem atau kerusakan kulit akibat produk instan.

Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai ajang untuk glow up secara menyeluruh—baik itu pikiran, tutur kata, maupun tindakan. Kecantikan yang paling awet adalah kebaikan karakter dan kecerdasan dalam menyaring tren yang masuk. Pada akhirnya, orang-orang akan lebih mengingat keramahan dan ketulusan kita daripada sekadar seberapa cerah kulit kita di bawah lampu ruang tamu saat bersilaturahmi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak