Sihir Kain Katun dan Tidur Siang yang Tak Terpatahkan di Bulan Ramadan

M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Sihir Kain Katun dan Tidur Siang yang Tak Terpatahkan di Bulan Ramadan
Ilustrasi tidur (pexels/Andrea Piacquadio)

Ada sebuah hukum tidak tertulis yang saya yakini kebenarannya setiap kali Ramadan tiba: tingkat kebahagiaan seseorang yang berpuasa berbanding lurus dengan tingkat kehalusan permukaan seprainya.

Mungkin terdengar berlebihan atau bahkan sedikit menggelikan. Namun, coba ingat-ingat lagi momen di jam satu siang, saat matahari sedang galak-galaknya di luar sana, dan tenggorokan Anda mulai terasa seperti gurun pasir yang lupa disiram. Di titik kritis itu, tidak ada takjil semewah apa pun yang bisa menandingi godaan sebuah kamar yang tenang dengan kipas angin yang mendengung rendah, dan hal ini merupakan variabel paling penting—seprai yang baru saja diganti.

Minggu lalu, saya memutuskan untuk mencuci seprai pada hari ketiga puasa. Ada kepuasan aneh saat melihat kain-kain itu menari di dalam mesin cuci, lalu dijemur di bawah terik matahari hingga aromanya berubah menjadi perpaduan antara bunga sakura buatan dan bau "matahari" yang khas. Sore harinya, tepat sebelum waktu ngabuburit, saya memasang seprai itu kembali.

Begitu tubuh ini ambruk di atas kasur, ada sensasi nyess yang menjalar. Kain katun yang masih kaku namun dingin menyentuh kulit, memberikan efek anestesi alami bagi rasa lapar yang mulai rewel. Saat itulah saya berpikir: mengapa hal sepele seperti seprai bersih bisa terasa begitu revolusioner di bulan ini?

Secara teknis, kita semua tahu bahwa tidur adalah "ibadah" yang paling sering dijadikan tameng oleh kaum rebahan saat puasa. Namun, di balik label ibadah itu, saya menemukan sebuah perspektif baru. Ramadan sebenarnya sedang memaksa kita untuk kembali ke hal-hal dasar (back to basics). Ketika asupan makanan dibatasi, sensor perasa kita terhadap kenyamanan fisik menjadi jauh lebih sensitif. Kita jadi lebih menghargai embusan angin, lebih mensyukuri udara dingin, dan tentu saja, lebih memuja kualitas istirahat.

Tidur di bulan Ramadan bukan sekadar memindahkan waktu tidur malam ke siang hari. Ini adalah ritual pemulihan. Saat saya berbaring di atas seprai yang wangi itu, saya merasa sedang melakukan "diplomasi" dengan tubuh saya sendiri. Saya seolah berbisik, "Maaf ya, hari ini tidak ada kopi pagi atau makan siang yang enak, tapi sebaliknya, nikmatilah permukaan kain yang lembut ini."

Menariknya, kebersihan seprai ini juga berdampak secara psikologis. Bayangkan Anda sedang merasa haus, lalu harus berbaring di atas kasur yang berantakan, penuh remah-remah biskuit sisa sahur, atau kain yang sudah lepek karena keringat. Alih-alih istirahat, yang ada malah emosi yang naik ke ubun-ubun. Di bulan yang menuntut kepatuhan ini, lingkungan mikro (seperti kasur kita) ternyata memegang peranan kunci dalam menjaga kewarasan.

Ada semacam "keheningan" yang berkualitas yang saya dapatkan. Tidur siangnya, meski hanya 20 menit alias power nap, terasa sangat padat dan berkualitas. Saya terbangun dengan perasaan segar, bukan malah pening.

Ternyata, kebersihan tempat tidur adalah bentuk perawatan diri paling murah dan paling jujur yang bisa kita lakukan saat berpuasa. Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk buka mewah di hotel demi merasa "dimanjakan". Cukup luangkan waktu 15 menit untuk mengganti seprai, dan Anda telah membangun istana kenyamanan Anda sendiri.

Lebih dalam lagi, ritual ini mengajarkan saya tentang keikhlasan. Mengganti seprai itu melelahkan, apalagi sambil puasa. Harus menarik ujung-ujung kain, mengangkat kasur yang berat, dan memastikan tidak ada kerutan. Mirip dengan puasa itu sendiri—melelahkan dalam prosesnya, namun sangat manis pada hasilnya. Ada kebanggaan kecil saat melihat tempat tidur rapi, seperti sebuah kemenangan kecil sebelum kemenangan besar saat azan Magrib berkumandang.

Jadi, untuk Anda yang merasa Ramadan kali ini terasa lebih berat atau membosankan, mungkin solusinya bukan mencari hiburan di luar sana. Percayalah, ada jenis kebahagiaan yang sangat spiritual sekaligus sangat fisik saat kita bisa memejamkan mata di atas kain yang bersih dan dingin sambil menunggu waktu berbuka. Karena terkadang, cara terbaik untuk mensyukuri nikmat Tuhan adalah dengan merawat tempat kita mengistirahatkan badan yang sedang berjuang ini.

Sudahkah Anda mengganti seprai hari ini? Kalau belum, mungkin itu alasan mengapa tidur siang Anda terasa kurang "berkah".

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak