Jadwal kuliah yang padat biasanya berakhir dengan istirahat. Namun, bagi kami, 41 manusia kuat di Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Atma Jogja, petualangan justru baru dimulai saat matahari terbenam. Sejak bergabung pada akhir 2023 dan memasuki dinamika konser pada Januari 2024, kata "lelah" seolah terhapus dari kamus harian.
Di sini, saya bukan lagi mahasiswa yang duduk tenang di dalam kelas, melainkan menjadi seorang “Kaliya” yang harus berteriak lantang, menembus batas rasa malu demi sebuah pertunjukan yang mengesankan.
Kota Caligo dari Bulan Januari
Jika akhir 2023 adalah masa perkenalan, maka Januari 2024 adalah pintu masuk utama. Konser sebagai syarat awal kelulusan untuk menjadi anggota PSM sejati. Kami menamai perjalanan ini “ORPHIC: I Can See the End as It Begins”. Sebuah tajuk yang puitis, namun di baliknya tersimpan latihan fisik dan suara yang berlapis.
Kurang lebih 266 hari kami ditempa. Ritmenya hampir gila: kuliah di pagi hari, lalu menyambung latihan vokal hingga larut malam. Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi waktu jeda, justru menjadi puncak dinamika—terutama saat latihan drama untuk sebuah konser paduan suara. Di hari Minggu, kami tidak hanya menyanyi, tetapi juga menari dan bermain peran. Sebab, konser kali ini bercerita tentang sebuah keluarga yang terjebak di Kota Caligo, kota yang luluh lantak akibat wabah zombi dari eksperimen seorang ilmuwan yang gagal.
Memerankan Kaliya: Si Pemalu di Balik Topeng Anak Kecil

Awalnya, saya hanya sebagai anggota dalam Divisi Acara. Tugas saya sederhana: meng-casting teman-teman untuk menjadi pemeran drama. Namun, takdir berkata lain. Saya justru terpilih memerankan Kaliya, anak bungsu yang manja tetapi menyimpan banyak haru karena kehilangan kakak sulungnya.
Tantangan ini terasa sangat sulit bagi saya yang aslinya pemalu. Saya harus masuk dari pintu penonton, bernyanyi "la la la" dengan suara anak-anak yang melengking keras tanpa bantuan mikrofon. Warna suara saya dideteksi adalah alto yang bernyanyi dengan suara dada gandem dan di zona nyaman nada rendah perempuan, tapi dalam sekejap harus melakukan switch vokal menjadi suara anak kecil yang nyaring.
Belum lagi urusan ekspresi. Bermain drama di panggung besar menuntut ekspresi yang lebay agar terbaca oleh penonton di barisan belakang. Selama empat bulan pertama, saya bergelut dengan rasa malu. Namun, dinamika olah rasa di sanggar hingga sesi latihan yang diwarnai tangis dan perjuangan, perlahan meruntuhkan tembok itu. Kaliya mulai merasuki jiwa saya.
Peluh, Rima, dan Drama di Balik Layar

Di balik megahnya panggung, ada realita yang tak banyak orang tahu. Kami belajar profesionalisme lewat hal-hal kecil: cara berjalan menggunakan heels dan pantofel, menjaga attitude panggung, hingga menghafal blocking yang harus berpindah 2 sampai 5 kali dalam satu lagu.
Langkah kaki beradu, di atas panggung yang bisu. Hati yang ragu, kini melebur menjadi satu. Bukan sekadar nada yang selaras, tapi ego yang juga harus dipangkas.
Dinamika kepanitiaan pun tak kalah menantang. Sering kali setelah sesi latihan, kami masih harus duduk melingkar untuk melakukan rapat demi hari-h yang hebat. Marah, kecewa, lelah, dan haru bercampur menjadi satu. Namun, semua drama itu adalah bumbu yang menguatkan ikatan 41 manusia hebat di dalamnya.
Sungguh, Lagu Tulus berjudul Manusia Kuat bisa menggambarkan perjuangan kami saat itu.
"Sarjana Konser" 16 Juni
Puncaknya tiba pada 16 Juni 2024. Di atas panggung Auditorium Kampus 2 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kami berhasil menaklukkan penonton yang begitu luar biasa banyaknya. Hari itu, kami bukan lagi mahasiswa biasa. Kami adalah Zocil (Zombi Kecil) yang siap mengguncang panggung. Tujuh lagu pilihan, mulai dari deru Dies Irae (Michael John Trotta) hingga Sunday Best yang diaransemen oleh Amos Tristan Dananjaya menjadi sedikit creepy, dapat tersampaikan dengan megah.
Sebagai penutup, lagu wajib The Majesty and Glory of Your Name dan Spirit of PSM Atma Jogja menjadi ungkapan syukur yang paling sempurna. Saat confetti memenuhi suasana auditorium yang penuh selebrasi, saya melihat orang tua saya terpaku. Mereka tak menyangka si pemalu ini bisa berakting sedemikian berani.
Kini, masa-masa itu telah lewat. Saya merindukan setiap tetes peluh di sanggar dan tawa pasca-latihan. Kami telah lulus dari semua ujian ini.
Jika kalian ingin melihat bagaimana "Zocil" menaklukkan Caligo, jejak kami abadi di kanal YouTube PSM ATMA JOGJA. Langsung klik saja semua lagunya karena pada akhirnya ini jadi bukti bahwa 266 hari kami tidaklah sia-sia.