Kolom
Konten 'Back to Reality' di Media Sosial dan Narasi Kolektif Pasca Lebaran
Setelah Lebaran usai, linimasa media sosial dipenuhi satu frasa yang terasa akrab: back to reality. Ia muncul dalam berbagai bentuk, dari unggahan santai hingga keluhan setengah bercanda tentang kembali bekerja. Sekilas, ini tampak seperti ekspresi yang wajar. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, ada pola yang menarik. Narasi yang muncul begitu seragam, seolah semua orang mengalami hal yang sama, dengan cara yang sama.
Padahal, realitas tidak pernah sesederhana itu. Di balik frasa yang ringan, ada beragam pengalaman yang tidak selalu terwakili. Ada yang kembali dengan semangat baru, ada yang kembali dengan beban finansial, ada pula yang kembali dengan perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Namun, semua itu sering diringkas dalam satu kalimat yang mudah dibagikan.
Media sosial, dalam hal ini, tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga ruang pembentukan narasi kolektif.
Frasa yang Menyamarkan Kompleksitas
Back to reality terdengar sederhana, bahkan cenderung netral. Ia memberi kesan bahwa apa yang kita hadapi setelah Lebaran adalah sesuatu yang wajar dan dialami bersama. Dalam batas tertentu, ini memang benar. Banyak orang kembali ke rutinitas kerja, menghadapi kemacetan, dan meninggalkan suasana kampung yang hangat.
Namun, frasa ini juga berfungsi sebagai penyamar. Ia mereduksi kompleksitas pengalaman menjadi sesuatu yang mudah dipahami dan diterima. Kesedihan, kecemasan, atau bahkan kelelahan emosional yang lebih dalam tidak mendapat ruang yang cukup.
Dalam logika media sosial, kesederhanaan seringkali lebih mudah viral. Unggahan yang terlalu jujur atau kompleks berisiko tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Akibatnya, banyak orang memilih untuk menyesuaikan diri dengan narasi yang sudah ada, alih alih menghadirkan pengalaman yang lebih personal.
Di titik ini, kita tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga menyesuaikan cerita kita agar sesuai dengan ekspektasi kolektif.
Tekanan untuk Terlihat Normal
Ada tekanan halus yang bekerja di balik unggahan unggahan ini. Ketika mayoritas orang menampilkan sikap santai terhadap kembalinya rutinitas, muncul ekspektasi bahwa itulah cara yang seharusnya. Bahwa kembali ke realitas adalah sesuatu yang bisa dijalani tanpa banyak persoalan.
Bagi mereka yang mengalami kesulitan lebih dalam, narasi ini bisa terasa menyingkirkan. Perasaan tidak siap, lelah, atau bahkan kehilangan arah menjadi tampak tidak normal. Akibatnya, banyak orang memilih untuk menyembunyikan kondisi sebenarnya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial tidak selalu menjadi ruang yang membebaskan. Ia juga bisa menjadi ruang yang mengatur emosi. Kita belajar secara tidak langsung emosi mana yang layak ditampilkan dan mana yang sebaiknya disimpan.
Dalam konteks pasca Lebaran, tekanan untuk terlihat baik baik saja menjadi semakin kuat karena momen ini secara kultural diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kemenangan.
Mencari Kejujuran di Tengah Keramaian
Pertanyaannya, apakah kita benar-benar kembali ke realitas, atau hanya kembali ke narasi yang sudah disepakati.
Realitas setiap orang berbeda. Ada yang kembali ke pekerjaan yang stabil, ada yang kembali ke ketidakpastian. Ada yang pulang ke rumah yang nyaman, ada yang harus kembali ke ruang sempit di kota besar. Menyederhanakan semua itu dalam satu frasa mungkin memudahkan komunikasi, tetapi juga berisiko menghapus perbedaan yang penting.
Barangkali, yang kita butuhkan bukan mengganti frasa back to reality, tetapi memperluas cara kita bercerita. Memberi ruang bagi pengalaman yang tidak selalu rapi, yang mungkin tidak selalu nyaman, tetapi lebih jujur.
Media sosial tidak harus selalu menjadi panggung keseragaman. Ia bisa menjadi ruang di mana keragaman pengalaman diakui. Namun, itu hanya mungkin jika kita berani sedikit keluar dari narasi yang sudah mapan.
Karena pada akhirnya, tidak semua orang kembali ke realitas yang sama. Dan tidak semua realitas bisa diringkas dalam satu kalimat yang terdengar ringan.